Penyebab Warga Makassar Ramai-Ramai Pindah: Hunian Mahal-Jalanan Macet

- Harga hunian di Makassar yang makin mahal mendorong warga kelas menengah pindah ke Gowa dan Maros, sementara kualitas kelayakhunian kota disebut terus menurun.
- Meskipun banyak warga pindah tempat tinggal, aktivitas ekonomi dan pekerjaan tetap terpusat di Makassar sehingga mobilitas komuter harian meningkat tajam.
- Pemerhati menilai ancaman utama kawasan Mamminasata ada pada tata ruang dan transportasi yang belum terintegrasi, diperparah proyek jalan lingkar luar yang tak kunjung rampung.
Makassar, IDN Times - Makassar tak lagi sekadar kota tujuan urbanisasi. Kini, ribuan warga justru mulai meninggalkan ibu kota Sulawesi Selatan itu dan memilih menetap di daerah penyangga seperti Gowa dan Maros.
Fenomena perpindahan tersebut dinilai menjadi sinyal menurunnya keterjangkauan hunian dan kualitas hidup di Kota Daeng. Kondisi itu sekaligus menjadi alarm bagi masa depan kawasan metropolitan Mamminasata.
Pemerhati Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Ma’REFAT Institute Sulawesi Selatan, Mohammad Muttaqin Azikin, menilai perpindahan warga dari Makassar ke daerah penyangga seperti Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros merupakan fenomena yang umum terjadi. Kondisi tersebut banyak ditemukan di kawasan metropolitan.
Menurut Muttaqin, kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kawasan perkotaan terpadu Mamminasata yang mencakup Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar. Kawasan itu menjadikan Makassar sebagai kota inti aktivitas ekonomi dan jasa.
"Kalau saya melihat, itu fenomena umum di kota metropolitan. Makassar ini, kan, sudah dianggap sebagai kota metropolitan dalam kaitannya dengan konsep perkotaan terpadu Mamminasata kan," kata Muttaqin kepada IDN Times via telepon, Jumat (8/5/2026).
1. Hunian mahal dorong warga pindah ke daerah penyangga

Kelompok masyarakat menengah ke bawah cenderung, kata Muttaqin, memilih tinggal di daerah sekitar kota inti. Faktor keterjangkauan hunian menjadi salah satu penyebab utamanya.
Muttaqin menjelaskan, harga rumah dan tanah di Makassar semakin sulit dijangkau masyarakat kelas menengah. Situasi itu mendorong warga mencari alternatif hunian di wilayah pinggiran yang lebih murah, terutama di Gowa dan Maros.
"Kalau masyarakat elit, ya, tetap pasti lebih memilih di dalam kota, kan. Mereka punya duit, bisa memilih perumahan-perumahan elit. Tapi kelas menengah, ya, mungkin kecenderungannya memang begitu," kata dia.
Selain faktor harga, tingkat kenyamanan kota juga disebut mulai memengaruhi pilihan tempat tinggal masyarakat. Muttaqin menilai kualitas kelayakhunian Makassar mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Muttaqin menyinggung hasil survei Most Livable City Index (MLCI) dari Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia yang menunjukkan tren penurunan tingkat kelayakhunian Makassar. Pada 2017, Makassar bahkan masuk kategori kota kurang layak huni atau bottom tier city dalam survei IAP, dengan persoalan utama pada kemacetan dan infrastruktur.
"Fasilitas pejalan kaki yang buruk, keselamatan dari bencana, kemacetan yang parah termasuk tadi itu keterjangkauan hunian jadi sudah makin sulit. Nah, itu semua bisa menjadi faktor-faktor di dalam itu dalam menentukan hunian orang," kata dia.
2. Aktivitas tetap di Makassar meski hunian pindah ke Maros dan Gowa

Meski berpindah tempat tinggal, Muttaqin menyebut sebagian besar warga tetap menggantungkan aktivitas ekonomi di Makassar. Kondisi itu membuat mobilitas komuter harian antara Makassar dan wilayah penyangga terus meningkat.
"Perpindahannya kan huniannya. Survei itu boleh jadi menggambarkan juga aktivitas kerjaannya masih tetap di Makassar. Tempat kerjaannya masih relatif kebanyakan di Makassar," kata dia.
Muttaqin menilai perpindahan hunian memang bisa mengurangi kepadatan permukiman di Makassar. Namun di sisi lain, transaksi ekonomi masih terkonsentrasi di kota inti sehingga daerah penyangga belum sepenuhnya menikmati dampak ekonomi yang signifikan.
"Istilahnya, cuma numpang tidur di Gowa dan Maros tapi transaksi ekonominya lebih banyak di Makassar," kata Muttaqin.
3. Ancaman terbesar ada pada tata ruang dan transportasi

Dari sisi sosial budaya, Muttaqin menilai perpindahan penduduk belum memberi perubahan besar terhadap identitas masyarakat lokal di kawasan Mamminasata. Menurut dia, karakter budaya masyarakat Makassar dan daerah sekitarnya relatif serupa.
Namun, Muttaqin mengingatkan ancaman terbesar justru berada pada tata ruang dan transportasi kawasan metropolitan. Menurutnya, persoalan tersebut hingga kini belum tertangani secara serius.
Menurut dia, konsep pengembangan kawasan Mamminasata selama puluhan tahun belum berjalan efektif. Padahal integrasi antardaerah dibutuhkan untuk mengantisipasi lonjakan urbanisasi dan kepadatan kendaraan.
"Kalau tidak serius ditangani, 10 tahun ke depan Makassar bisa menghadapi masalah transportasi besar. Sekarang saja kemacetan sudah terasa di mana-mana," kata dia.
4. Jalan lingkar luar tak kunjung tuntas

Muttaqin juga menyoroti pembangunan infrastruktur penghubung antardaerah yang dinilai tidak optimal. Salah satunya adalah proyek jalan lingkar luar yang sedianya menghubungkan Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa tanpa harus melewati Makassar.
"Tapi itu kan tidak jadi sampai sekarang, tidak dikerja-kerja sampai sekarang. Baru dikerja setengah, tidak sampai setengah malah bahkan tidak menyambung," katanya.
Akibat kondisi tersebut, mobilitas warga dari dua daerah penyangga itu tetap terkonsentrasi masuk ke pusat Kota Makassar. Situasi itu turut memperparah kepadatan lalu lintas di kota ini.
"Akhirnya kita sekarang baru rasakan dampak kemacetan di Kota Makassar, karena orang dari Maros ke Gowa, sebaliknya juga dari Gowa yang mau ke Maros itu harus lewat kota Makassar," kata dia.
Muttaqin meminta pemerintah daerah di kawasan Mamminasata duduk bersama menyusun grand design tata ruang metropolitan yang terintegrasi. Sebab persoalan banjir, kemacetan, hingga pertumbuhan kawasan pinggiran tidak lagi bisa diselesaikan masing-masing daerah secara terpisah.
"Kota-kota sekarang ini kan sudah saling terkait. Jadi tidak bisa tidak bisa berpikir sendiri,"katanya.
5. Urbanisasi diprediksi terus meningkat hingga 2030

Muttaqin mengatakan tren urbanisasi menuju kawasan perkotaan diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sejumlah prediksi ilmuwan dan survei perkotaan menunjukkan kota-kota besar tetap menjadi magnet utama aktivitas dan perpindahan penduduk.
Pada 2030, proporsi penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan diperkirakan mencapai 66,6 persen. Kondisi tersebut menunjukkan urbanisasi tetap menjadi tren dominan, meski pola hunian masyarakat mulai bergeser ke wilayah penyangga kota.
"Situasinya kalau di kota metropolitan, di kota sebagai hunian mulai bergeser ke daerah sekitarnya tapi tetap pada waktu tertentu memadati kota inti," kata Muttaqin.


















