Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Melihat Semarak Piala Dunia 2026 di Kampung Bola Jalan Titang Makassar

Melihat Semarak Piala Dunia 2026 di Kampung Bola Jalan Titang Makassar
Deretan bendera negara peserta Piala Dunia 2026 menghiasi sepanjang Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Senin (15/6/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
Intinya Sih
  • Warga Jalan Titang di Makassar mempertahankan tradisi puluhan tahun memasang bendera negara peserta Piala Dunia secara swadaya sebagai bentuk dukungan dan euforia terhadap ajang sepak bola dunia.
  • Tradisi unik dilakukan dengan menurunkan atau mengibarkan setengah tiang bendera tim favorit yang tersingkir, menjadi simbol berakhirnya perjuangan tim tersebut di turnamen.
  • Selain memasang bendera, warga rutin menggelar nonton bareng dan diskusi bola yang mempererat kebersamaan serta menarik perhatian masyarakat luar untuk menikmati suasana Kampung Bola.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Makassar, IDN Times - Deretan bendera dari berbagai negara berkibar di sepanjang Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Kota Makassar. Warna-warni kain yang membentang di depan rumah warga itu menciptakan suasana berbeda dibanding kawasan permukiman pada umumnya.

Di tengah riuh perbincangan tentang pertandingan-pertandingan di Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Jalan Titang kembali menunjukkan identitas yang telah melekat selama puluhan tahun. Bagi warga setempat, pesta sepak bola terbesar di dunia bukan sekadar tontonan, melainkan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Setiap rumah seolah menjadi representasi negara yang mereka dukung. Ada yang memasang satu bendera, ada pula yang memasang dua hingga empat bendera sekaligus. Semua bergantung pada tim favorit penghuni rumah tersebut.

"Ini adalah bentuk euforia kami dari warga Jalan Titang untuk menyambut FIFA Piala Dunia 2026. Jadi, memang dari dulu kami warga Titang sangat euforia dalam menyambut piala dunia dari tahun 1994," kata Anto, salah seorang warga Jalan Titang, saat ditemui IDN Times, Senin (15/6/2026).

1. Memasang bendera secara swadaya sejak puluhan tahun

Deretan bendera negara peserta Piala Dunia 2026 berkibar di sepanjang Jalan Titang, Makassar, dengan suasana permukiman warga yang ramai.
Deretan bendera negara peserta Piala Dunia 2026 menghiasi sepanjang Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Senin (15/6/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Bagi warga Titang, tradisi memasang bendera bukan hal baru. Kebiasaan itu terus dipertahankan setiap kali Piala Dunia bergulir. Tidak ada instruksi resmi, tidak ada panitia khusus yang mengatur negara mana yang harus dipasang. Semua berjalan secara spontan dan swadaya.

Masing-masing keluarga membeli dan menyimpan sendiri bendera negara favorit mereka. Saat Piala Dunia berlangsung, bendera tersebut dipasang di depan rumah sebagai bentuk dukungan kepada tim jagoan masing-masing.

Di rumah Anto, misalnya, berkibar bendera Jerman. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Kecintaannya terhadap tim berjuluk Der Panzer itu sudah berlangsung lama.

"Terkadang ada beberapa rumah yang pasang 2 bendera tergantung negara mana yang mereka dukung. Seperti di rumah saya, ada dua bendera. Kebetulan saya dengan saudara mendukung negara Jerman, jadi kami pasang bendera Jerman," katanya.

Pemandangan itu menjadikan Jalan Titang seperti miniatur Piala Dunia. Dalam satu lorong, bendera Jerman berdampingan dengan Brasil, Argentina, Prancis, Inggris, Belanda, hingga negara-negara peserta lainnya. Tak heran jika kawasan ini kemudian dikenal masyarakat sebagai Kampung Bola Piala Dunia.

2. Bendera dikibarkan setengah tiang saat tim favorit tersingkir

Deretan bendera negara peserta Piala Dunia 2026 terpasang di sepanjang Jalan Titang, Makassar, dengan langit berawan di atasnya.
Deretan bendera negara peserta Piala Dunia 2026 menghiasi sepanjang Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Senin (15/6/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Ada satu tradisi unik lain yang selalu dinantikan warga. Ketika tim favorit mereka tersingkir dari turnamen, bendera negara tersebut biasanya tidak lagi berkibar penuh.

Pada penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya, warga akan menurunkan bendera negara yang kalah. Hal itu menjadi simbol berakhirnya perjalanan tim tersebut di turnamen.

"Pelaksanaan Piala Dunia sebelum-sebelumnya seperti itu. Jadi, setiap ada negara yang kalah dalam Piala Dunia, kami turunkan. Bentuk bahwasanya negara ini sudah kalah dalam pertarungan Piala Dunia," kata Anto.

Namun, untuk Piala Dunia tahun ini, warga memilih tidak langsung menurunkan bendera ketika tim kebanggaan mereka tersingkir. Sebagai gantinya, bendera akan dikibarkan setengah tiang sebagai simbol berakhirnya perjuangan tim tersebut di turnamen.

3. Ada nobar hingga diskusi bola antarwarga

Bendera negara peserta Piala Dunia 2026 terpasang di sepanjang Jalan Titang, Makassar, dengan beberapa warga berbincang di tepi jalan.
Deretan bendera negara peserta Piala Dunia 2026 menghiasi sepanjang Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Senin (15/6/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Antusiasme warga tidak berhenti pada pemasangan bendera saja. Saat jadwal pertandingan memungkinkan, warga juga menggelar nonton bareng (nobar) di lingkungan mereka.

Televisi dipasang di titik tertentu, kursi-kursi dikeluarkan ke depan rumah, lalu warga berkumpul menyaksikan pertandingan bersama. Sorak sorai akan pecah setiap kali tim favorit mencetak gol.

Namun kegiatan itu menyesuaikan waktu pertandingan. Jika laga berlangsung dini hari atau menjelang subuh, maka suasana biasanya lebih sepi atau malah tidak ada nonton bareng.

"Nobarnya kadang-kadang tergantung. Kalau misalkan jadwalnya subuh, tidak. Tapi kalau malam biasa kami lakukan nobar," kata Anto.

Tradisi memasang bendera tersebut juga tidak hanya muncul saat Piala Dunia. Ketika Euro Cup berlangsung, suasana serupa kembali terlihat di Jalan Titang. Bendera negara-negara Eropa menghiasi sepanjang lorong itu sebagai bentuk dukungan warga terhadap tim favorit mereka.

Namun, berbeda dengan Copa America yang tidak mendapat antusiasme sebesar Piala Dunia maupun Euro Cup di kawasan tersebut. Jumlah warga yang mendukung tim-tim peserta Copa America relatif lebih sedikit dibanding penggemar negara-negara Eropa dan peserta Piala Dunia.

4. Sepak bola menjadi perekat kebersamaan warga

Dua pria berdiri di jalan perumahan di Makassar dengan latar bendera berbagai negara yang dipasang di sepanjang jalan.
Anto (kiri), warga Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Senin (15/6/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Bagi warga Titang, sepak bola telah menjadi alasan untuk berkumpul dan mempererat hubungan antartetangga. Mereka mungkin berbeda pilihan tim. Ada yang mendukung Brasil, Argentina, Jerman, Inggris, atau Prancis. Namun perbedaan itu justru menjadi warna yang memperkuat kebersamaan.

Tradisi tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar. Banyak warga yang sengaja datang hanya untuk melihat deretan bendera yang menghiasi jalan sepanjang kawasan tersebut.

"Ini sudah menjadi tradisi kami di piala dunia melakukan apresiasi seperti nonton bareng, memasang bendera sesuai dengan negara yang dijagokan," kata Anto.

Semangat kebersamaan itu sebenarnya bukan hanya hadir saat turnamen sepak bola berlangsung. Setiap Agustus, warga Jalan Titang juga menggelar pesta rakyat untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.

Makanan disajikan bersama dan warga bergotong royong menyiapkan berbagai kegiatan. Masyarakat dari luar Jalan Titang juga diundang untuk datang dan ikut meramaikan acara tersebut.

"Setiap Agustus di sini ada pesta rakyat. Ramai berjajar makanan. Pokoknya kita undang semua yang dari luar," kata Anto.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris

Latest News Sulawesi Selatan

See More