Nyala di Mario: Ketika Listrik Jadi Denyut Baru Lumbung Telur Sidrap

- PT Cahaya Tiga Putri di Desa Mario mengoperasikan tujuh kandang ayam petelur modern berkonsep closed house yang sepenuhnya bergantung pada listrik untuk menjaga suhu, pakan, dan produksi telur otomatis.
- Produksi harian mencapai sekitar 17 ribu rak telur dengan perputaran ekonomi miliaran rupiah, menjadikan Sidrap pusat industri telur terbesar di Sulawesi Selatan dan penopang program Makan Bergizi Gratis nasional.
- PLN mendukung operasional peternakan melalui program Electrifying Agriculture dengan suplai daya stabil hingga ratusan kVA, menekan biaya energi hingga 68% serta meningkatkan efisiensi dan ketahanan pangan daerah.
Di Desa Mario, suara paling penting bukanlah kokok ayam, melainkan dengung.
Bangunan itu sekilas tampak seperti gudang-gudang panjang yang berdiri berjajar di tengah hamparan hijau. Dindingnya tertutup rapat. Jauh dari kesan sebuah kawasan peternakan.
Tidak ada ayam yang berlarian di halaman berpasir. Juga tak ada pekerja yang memanggul karung pakan. Yang terdengar hanya dengung. Suara itu berasal dari blower fan atau kipas-kipas raksasa penggerak udara bertekanan tinggi yang tidak pernah berhenti bekerja.
Mula-mula samar. Semakin mendekat, bunyinya kian jelas, seperti napas panjang yang dijaga agar tak putus. Di balik dinding tertutup itu, ratusan ribu ekor hidup dalam ritme yang diatur dengan penuh ketelitian dan bantuan mesin.
“Kalau listrik mati, selesai,” kata Sarpin, pria yang sehari-hari bertugas sebagai Manajer Operasional di PT Cahaya Tiga Putri, saat berbincang dengan IDN Times pada Senin (8/6/2026). Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan kalimat yang terdengar seperti peringatan.
“Nyawanya ayam bergantung pada blower fan.”
Berdiri lanskap perbukitan Desa Mario, di Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, perusahaan itu mengoperasikan tujuh kandang peternakan ayam petelur modern dengan konsep closed house. Di kandang ini, ayam tak pernah benar-benar bersentuhan dengan cuaca di luar. Terik, hujan, atau angin kencang tak banyak berarti. Suhu dijaga tetap stabil, kelembapan dikendalikan, dan udara dipaksa bergerak melalui blower yang tak pernah berhenti bekerja.
Sistem kandang tertutup dirancang untuk mengontrol iklim mikro di dalam ruangan, seperti suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara. Kandang didesain mengisolasi ayam ayam dari pengaruh cuaca ekstrem dan organisme luar untuk mencegah penyebaran penyakit dan meminimalisir stres.
Di sini, listrik bukan sekadar penerang. Selain menjaga suhu ideal, ia menggerakkan feed car yang mengantar pakan empat kali sehari. Ia menyalakan ratusan lampu di setiap kandang agar ayam tahu kapan harus makan dan kapan beristirahat. Ia juga menghidupkan conveyor yang mengangkut telur dari kandang menuju tempat pungut.
Tanpa listrik, seluruh irama itu berhenti.
Otomatisasi yang bergantung pada kestabilan listrik

Begitu pintu dibuka, udara hangat menyergap, bercampur dengan aroma dedak, jagung giling, dan bau khas unggas. Di dalamnya, ayam-ayam petelur memenuhi kandang bertingkat. Riuh suaranya bertumpuk jadi satu, dari kokok pendek, kepakan sesaat, hingga gesekan paruh dengan jeruji.
PT Cahaya Tiga Putri mengoperasikan tujuh kandang closed house sejak tahun 2024. Tiga kandang dengan ukuran 120 x 10 meter berkapasitas 43 ribu ekor, sementara empat lainnya dengan ukuran lebih kecil menampung masing-masing hingga 32 ribu ayam.
Setiap kandang terdiri dari dua lantai. Lantai atas jadi ruang hidup ayam. Tubuh-tubuh berbulu putih kecokelatan itu tersusun rapi dalam deretan kandang memanjang seperti lorong apartemen bersusun lima. Lantai bawah jadi ruang menampung feses terisolasi.
Umumnya, sebuah kandang tradisional (open house) dengan panjang bangunan 60 meter hanya bisa menampung sekitar enam ribu ekor ayam petelur. Dengan sistem closed house, jumlahnya bisa ditingkatkan jadi enam kali lipat. Kepadatan meningkat secara ekstrem, tapi kenyamanan ayam tetap dijaga melalui pengaturan suhu dan ventilasi.
“Pemberian pakan sampai proses panen dikontrol oleh operator secara otomatis. Jadi sangat minim kontak ayam dengan manusia. Dampaknya semakin kecil peluang penyakit menyebar. Karena kan virus bisa menyebar lewat carrier dan kalau sudah menjangkiti ayam, bisa tersebar ke satu kandang,” ucap Sarpin.
Di kandang ini memang tidak ada orang yang menuangkan pakan dari ember ke ember. Di luar kandang berdiri silo penyimpanan. Ketika waktunya tiba, feed car bertenaga motor listrik 1,5 kW bergerak perlahan di atas rel. Pakan mengalir melintasi talang-talang besi, disambut paruh-paruh kecil mematuk cepat bersamaan.
“Pemberian pakan empat kali sehari,” kata Sarpin. Satu kandang butuh sekitar 5,3 ton pakan per hari. Namun ayam tidak dibiarkan makan sesuka hati.
Bukan hanya pakan yang diatur oleh mesin. Sebanyak 250 lampu berkekuatan tujuh Watt di setiap kandang berpendar menggantikan siklus matahari. Lampu-lampu diatur menyala selama sekitar 16 jam sehari dengan jeda tertentu yang disengaja untuk menciptakan gelap. Nyala lampu mengatur jam biologis ayam, mereka diberi waktu makan dan istirahat secara seimbang.
"Kalau lampu nyala terus, (ayam) makan terus, kegemukan. Tidak bisa produksi telur," ujarnya.
Udara di dalam ruang tertutup ini sejuk dan stabil. Pengaturan suhu dipertahankan pada angka ideal 22 derajat Celsius. Di setiap kandang, 15 hingga 18 blower fan menyedot udara selama 24 jam nonstop. Ketika matahari Sidenreng Rappang menyengat terik di siang hari dan blower telah bekerja maksimal, sistem otomatis akan memicu cooling fan tambahan untuk menstabilkan kembali iklim mikro tersebut.
"Itu yang diprogram menyesuaikan suhu agar ayam nyaman," kata Sarpin.
Kalimat yang terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada logika industri: unggas yang nyaman akan makan dengan lahap, tak mudah terjangkit stres, dan pada akhirnya, berproduksi maksimal.
Ayam mulai bertelur pada usia sekitar 16 minggu. Satu siklus produksi berlangsung kira-kira setiap 25 jam. Di PT Cahaya Tiga Putri, produksi telur mencapai 95 persen dari total populasi sekitar 250 ribu ekor.
Sesaat setelah dikeluarkan induknya, telur-telur itu tak dipungut dari sarang seperti yang akrab dalam ingatan banyak orang. Mereka menggelinding perlahan mengikuti kemiringan kawat menuju egg conveyor, lalu digerakkan mesin secara perlahan di atas sabuk berjalan otomatis itu. Conveyor membawa telur menuju elevator. Dari sana, telur turun ke tempat pungut untuk disortir pekerja.
Sarpin bilang sekitar seratus orang bekerja di kompleks ini. Dalam sehari, satu kandang menghasilkan sekitar 1.400 rak telur yang didistribusikan ke berbagai daerah hingga luar pulau.
Setiap hari, sekitar 17 ribu rak telur meninggalkan tujuh kandang di Desa Mario. Sebagian menuju pasar tradisional, sebagian ke distributor, industri kuliner, hingga dapur Makan Bergizi Gratis. Dengan harga fluktuatif di atas Rp50 ribu per rak, perputaran uang yang tercipta mencapai miliaran rupiah dalam sehari. Target pasarnya pun bukan lagi lokal, melainkan lintas pulau, dari Kalimantan, Maluku, Papua, bahkan menembus Jakarta.
"Dengan konsep closed house, produksi naik. Begitu juga dengan kualitas telur. Warnanya lebih cerah, cangkang lebih keras. Kalau cara simpannya bagus, telur bisa tahan sampai satu bulan.”
Meneguhkan posisi Sidrap sebagai lumbung telur

Bagi Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, telur bukan lagi sekadar komoditas. Ia ingin menjadikannya identitas daerah. Tak berlebihan, sebab populasi ayam petelur di daerahnya terus membengkak.
Dinas Peternakan dan Perikanan Sidrap mencatat jumlahnya menembus 5,1 juta pada tahun 2025, naik dari 4,6 juta di tahun sebelumnya. Konsentrasi terbesar ada di Kecamatan Kulo, tempat pabrik PT Cahaya Tiga Putri berdiri, dengan populasi menyentuh 1.772.383 ekor ayam. Dari total 20 juta lebih populasi ayam petelur di seluruh Sulawesi Selatan, seperempatnya bersemayam di Sidrap.
"Sulawesi Selatan berada di urutan keenam populasi ayam petelur terbanyak di Indonesia, dan kontribusi terbesarnya berasal dari Sidrap," kata Syahar.
Dominasi itu juga ditunjukkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel dalam Sensus Pertanian 2023. Terdapat 557 rumah tangga peternak ayam petelur di Sidrap. Jumlah itu terbanyak di Sulsel, jauh mengungguli Kabupaten Bulukumba (288) dan Bone (281) dari total 2.714 rumah tangga peternak di seluruh provinsi.
Apa yang terjadi pada kandang-kandang peternakan di Desa Mario adalah miniatur kekuatan ekonomi agrikultur Sidrap. Perputaran uang dari industri ini menggerakkan roda ekonomi daerah secara masif. Tak sekadar urusan kapital, Syahar melihatnya sebagai identitas fundamental wilayahnya.
"Saya sebagai kepala daerah harus memanfaatkan momentum ini. Sidrap harus menjadi ikon lumbung telur," ujarnya.
Selain memenuhi kebutuhan pasar tradisional yang telah berjalan puluhan tahun, Syaharuddin membidik target baru yang sangat menjanjikan: Program Nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Sulawesi Selatan sendiri, telah disiapkan 820 titik dapur program MBG. Program raksasa ini diproyeksikan akan menyedot 24 juta butir telur setiap bulannya, yang setara dengan perputaran nilai ekonomi Rp43 miliar.
"Ini peluang besar. Sidrap sangat diuntungkan karena memiliki tiga komoditas utama yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yaitu beras, telur, dan daging ayam," ucapnya.
Dukungan PLN melalui program Electrifying Agriculture

Di balik efisiensi kandang modern dan ambisi sebagai lumbung telur, ada sesuatu yang nyaris tak terlihat namun jadi penopang. Itu adalah suplai energi yang stabil.
Roda operasional pada tujuh kandang PT Cahaya Tiga Putri didukung aliran listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan total daya sebesar 555 kVA, ditambah ekstra 197 kVA. Setiap bangunan kandang secara individual membutuhkan setidaknya kapasitas listrik 90 Ampere untuk menggerakkan blower, konveyor, pendorong pakan, dan penerangan. Sarpin mencatat, tagihan bulanan mencapai angka total Rp300 juta untuk tujuh kandang, yang sudah mencakup pula mesin pengaduk pakan sentral.
"Tidak boleh berhenti listrik. Sangat berpengaruh pada produksi," Sarpin menegaskan. Ketergantungannya sangat kritis. Jika listrik padam sejenak saja, konsekuensinya fatal. "Listrik mati, ayam bisa stres. Hitungan menit saja ayam bingung kalau suhu berubah."
Direktur Perusahaan, Usman Appas mengenang, operasional kandang di masa awal sempat bersandar pada mesin pembangkit diesel. Namun metode itu menguras kas akibat ongkos bahan bakar yang mencekik. Biaya operasional mencapai Rp4.500 per kWh. Dengan tarif listrik industri dari PLN yang hanya berkisar Rp1.100 hingga Rp1.400 per kWh, biaya bisa ditekan hingga 68%.
"Dengan listrik PLN, kegiatan operasional peternakan menjadi jauh lebih hemat, mudah, dan efisien. Seluruh sistem kandang dapat berjalan secara otomatis sehingga pengelolaan ternak menjadi lebih optimal. Kami juga tidak lagi harus menyediakan dan mengelola stok bahan bakar diesel dalam jumlah besar untuk kebutuhan harian. Hal ini tentu sangat membantu peningkatan produktivitas sekaligus pengembangan usaha kami," ujarnya.
Manager PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Parepare, Muhammad Akbar, menyadari betul vitalnya suplai ke kandang-kandang ini. Dia mencontohkan, di wilayah Unit Layanan Pelanggan (ULP) Rappang , sektor peternakan menyumbang porsi 20 persen dari total sekitar 25 ribu pelanggan. PLN bahkan berinvestasi membangun Jaringan Tegangan Menengah (TM) langsung ke trafo pelanggan hingga ke pelosok desa.
“Sistem yang serba otomatis membutuhkan kelistrikan yang memadai. Jadi kami usahakan di sana terjaga keandalannya, baik dari sisi tegangan maupun suplai," kata Akbar.
Ia tak menampik tantangan geografisnya nyata. "Kesulitan kami biasanya jarak lokasi peternakan dengan jaringan kami. Semakin panjang jaringan PLN, potensi gangguan dari lingkungan seperti pohon dan hewan makin besar. Tapi kami terus berupaya menjaganya agar selalu bebas hambatan."
Transformasi yang di kandang peternakan ayam petelur ini merupakan bagian dari Program Electrifying Agriculture yang dijalankan PLN. Dengan menyediakan akses listrik, PLN membantu para petani dan peternak meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya operasional. Menggeser ketergantungan atas peralatan konvensional seperti diesel ke peralatan berbasis energi listrik. Di sisi lain juga ramah lingkungan sebab mengurangi emisi karbon dari penggunaan energi fosil.
Hingga Mei 2026, pelanggan program tersebut di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat telah mencapai 4.280 pelanggan dengan total daya terpasang 206.312 kVA.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah mengungkapkan, program Electrifying Agriculture hadir bukan sekadar sebagai pelengkap infrastruktur, melainkan instrumen strategis untuk kesejahteraan peternak dan kedaulatan pangan.
"PLN tidak hanya menghadirkan listrik sebagai kebutuhan dasar saja, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas," ujar Edyansyah. "Melalui Program Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi, dengan menghemat biaya operasional. Program ini juga menjadi bentuk dukungan PLN terhadap kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.”
Dari luar, bangunan-bangunan closed house di Desa Mario itu akan tetap berdiri bisu, tampak seperti deretan gudang biasa yang tertidur di bawah langit Sidenreng Rappang. Tak akan banyak orang yang menyangka bahwa di balik dindingnya ada ribuan kehidupan yang denyutnya bergantung pada sakelar dan kabel-kabel tembaga.
Di sanalah wajah baru lumbung pangan Indonesia sedang dipoles. Lewat irama listrik, mesin-mesin yang senyap, dan butiran-butiran telur yang setiap pagi hadir di meja makan.


















