Songkok Guru untuk Gus Rozin, Simbol Penghormatan Antar Ulama

- Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan KH Baharuddin menyerahkan Songkok Guru kepada Gus Rozin di Makassar sebagai simbol penghormatan, identitas keulamaan, dan persaudaraan ulama lintas daerah.
- Gus Rozin membalas dengan sarung batik Jawa Tengah serta kitab karya KH MA Sahal Mahfudh, mempertemukan simbol budaya Jawa dan warisan intelektual pesantren.
- Gus Rozin menekankan NU abad kedua perlu berakar pada tradisi ulama dan pesantren, sementara silaturahmi antardaerah didorong berkembang menjadi kolaborasi pendidikan, ilmu, ekonomi, dan kebudayaan.
Makassar, IDN Times - Silaturahmi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban di Makassar, pada Jumat, 7 Agustus 2026 lalu . Dalam pertemuan tersebut, Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan Anregurutta KH Baharuddin, memberikan Songkok Guru kepada KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Pemberian Songkok Guru menjadi simbol penghormatan sekaligus persaudaraan antara ulama lintas daerah. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Songkok Guru bukan sekadar busana tradisional, tetapi juga merepresentasikan identitas, kehormatan, dan tradisi keulamaan.
1. Gus Rozin beri sarung batik dan kitab

Sebagai bentuk penghormatan dan balasan persaudaraan, Gus Rozin memberikan cendera mata berupa sarung batik khas Jawa Tengah serta kitab karya KH MA Sahal Mahfudh kepada Anregurutta KH Baharuddin. Pertukaran cendera mata tersebut mempertemukan simbol budaya dan tradisi keilmuan dari dua daerah.
Sarung batik khas Jawa Tengah membawa pesan tentang kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Jawa. Sementara kitab karya KH MA Sahal Mahfudh menjadi simbol warisan keilmuan pesantren yang menjadi salah satu fondasi pengabdian kepada masyarakat.
Pertukaran tersebut tidak berhenti sebagai pemberian barang. Songkok Guru dari Sulawesi Selatan dan kitab Kiai Sahal dari Jawa Tengah menjadi simbol pertemuan dua kekuatan tradisi, yakni penghormatan terhadap ulama dan kekayaan budaya serta warisan intelektual pesantren.
2. Gus Rozin dorong NU tetap berakar pada tradisi ulama

Bagi Gus Rozin, perjumpaan dengan ulama Sulawesi Selatan memiliki makna penting dalam perjuangan NU memasuki abad kedua. NU tidak hanya dibangun melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui silaturahmi ulama, hubungan kultural, tradisi pesantren, serta pertukaran pengalaman dan pengetahuan antardaerah.
Gus Rozin yang memiliki pengalaman dalam pengembangan pesantren dan organisasi NU memandang tradisi keulamaan sebagai salah satu fondasi penting bagi masa depan jam'iyyah. Pengalaman dan pemikiran KH MA Sahal Mahfudh, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan intelektual Gus Rozin, disebut sebagai bagian dari tradisi keilmuan yang terus dibawa dalam ikhtiar membangun NU agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Dalam visi pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Rozin menawarkan gagasan tentang NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Transformasi NU memasuki abad kedua dinilai tidak boleh membuat organisasi meninggalkan akar sejarah dan tradisinya, melainkan memperkuat fondasi yang diwariskan para ulama dan muassis NU sekaligus menerjemahkannya untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, dan kebudayaan.
3. Silaturahmi ulama didorong berlanjut jadi kolaborasi

Dalam kerangka tersebut, menjaga marwah ulama dan pesantren menjadi salah satu agenda penting. Pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga ruang reproduksi ilmu, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, serta tempat tumbuhnya kepemimpinan masyarakat.
Karena itu, perjumpaan ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat jaringan keulamaan dan pesantren Nusantara. Silaturahmi antarpengurus, ulama, pesantren, dan warga NU dari berbagai daerah diharapkan tidak berhenti pada pertemuan simbolik.
Hubungan tersebut dapat dikembangkan menjadi kerja sama konkret, mulai dari pertukaran pengalaman antarpesantren, penguatan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi jamaah, hingga penguatan kebudayaan.
Songkok Guru yang dikenakan Gus Rozin menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keulamaan Sulawesi Selatan. Sementara kitab karya Kiai Sahal yang diberikan kepada Anregurutta Baharuddin menjadi simbol warisan intelektual pesantren Jawa Tengah yang bertemu dalam semangat merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan khidmah ulama untuk membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat di abad kedua.





![[BREAKING] Mall Nipah Makassar Kebakaran, Pegawai dan Pengunjung Panik](https://image.idntimes.com/post/20260809/aptoteg76a8r92n43gxi9k0gm_9be3c6dc-4933-431f-8c97-ab69fac8f8b2_watermarked_idntimes-2.jpg)












