Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ilustrasi mati lampu (IDN Times/Hendra Simanjuntak)
  • Warga Makassar masih mengalami pemadaman listrik satu hingga dua kali sepekan, dengan durasi sekitar tiga jam meski frekuensinya menurun dibanding dua bulan sebelumnya.
  • Shasa mengeluhkan tagihan listrik naik hingga sekitar Rp700 ribu pada November 2026, padahal pemakaian disebut sama atau berkurang, sementara pemadaman mengganggu air, memasak, dan penyimpanan ASI.
  • Jadwal pemadaman kerap bergeser atau tanpa pemberitahuan; di Pasar Butung, ruko gelap membuat pengunjung enggan masuk sehingga pedagang kadang menutup usaha lebih cepat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Pemadaman listrik yang masih berulang di Kota Makassar membuat aktivitas warga terganggu. Selain harus menghadapi listrik padam selama berjam-jam, sebagian warga juga mengeluhkan tagihan listrik yang dirasakan lebih tinggi pada bulan ini.

Shasa (28), warga Jalan Veteran Utara, mengaku masih mengalami pemadaman listrik sekitar satu hingga dua kali dalam sepekan. Frekuensi tersebut memang lebih rendah dibandingkan sekitar dua bulan lalu, ketika cuaca masih panas dan listrik bisa padam dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Namun, durasi pemadaman masih cukup lama. Saat periode puncak cuaca panas, listrik bisa padam selama tiga hingga empat jam. Belakangan, durasinya masih sekitar tiga jam, meski pernah juga terjadi pemadaman pada malam hari selama 45 menit hingga satu jam.

"Kalau akhir-akhir ini masih satu kali seminggu, dua kali lah maksimalnya. Tapi kisaran dua bulan lalu, pas masih panas, mungkin dua sampai tiga kali per minggu," kata Shasa saat diwawancarai IDN Times, Rabu (4/11/2026).

1. Tagihan listrik bulan ini dirasa lebih tinggi

Ilustrasi Listrik PLN. (IDN Times/Arief Rahmat)

Di tengah pemadaman yang masih berulang, Shasa juga mengeluhkan tagihan listrik rumahnya. Jika biasanya dia membayar sekitar Rp400 ribu hingga Rp450 ribu per bulan, tagihannya sempat naik menjadi Rp500 ribu. 

Pada November 2026, jumlah yang harus dibayarnya bahkan mencapai sekitar Rp700 ribu atau bertambah Rp200 ribu dari bulan sebelumnya.

"Dua bulan sebelumnya biasanya cuma bayar Rp400-450 ribu. Pas pemadaman listrik itu pembayaranku jadi Rp500 ribu. Bulan ini melonjak drastis dari Rp500 ribu jadi Rp700 ribu padahal pemakaian sama bahkan bisa dibilang di kurang," katanya 

Kenaikan tagihan tersebut membuatnya mulai mempertanyakan biaya listrik yang harus dibayarkan. Meski begitu, dia belum pernah menyampaikan keluhan secara langsung kepada PLN.

2. Pemadaman mengganggu aktivitas rumah tangga

Ilustrasi listrik. (ANTARA FOTO/Fandi)

Bagi Shasa, pemadaman listrik bukan hanya persoalan rumah yang gelap. Aktivitas memasak dan kebutuhan air ikut terganggu karena rumahnya menggunakan pompa listrik.

Sebagai ibu menyusui yang memiliki bayi, dia juga harus menjaga persediaan ASI yang disimpan di dalam kulkas. Ketika listrik padam, dia khawatir suhu chiller dan freezer berubah sehingga stok ASI rusak.

"Kalau mati lampu kan otomatis kulkas juga mati. Itu yang biasa saya keluhkan kalau listrik padam," katanya. 

Dia menjelaskan stok ASI di chiller hanya bisa bertahan sekitar empat jam ketika suhu penyimpanan tidak terjaga. Sementara ASI yang disimpan di freezer memang bisa bertahan lebih lama, tetapi tetap berisiko mencair jika listrik padam terlalu lama.

"Untuk yang di freezer itu tahan berbulan-bulan, tapi kalau mati lampu sampai empat jam bisa meleleh. Kalau meleleh, ASI-nya rusak. ASI yang di chiller itu bisa basi. Itu keluhan saya sebagai ibu menyusui," katanya.

3. Jadwal pemadaman kerap bergeser

ilustrasi listrik dan PLN (dok. PLN)

Persoalan lain yang dirasakan Shasa adalah ketidakpastian jadwal pemadaman. Menurutnya, waktu padam yang diumumkan terkadang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Dia mencontohkan ketika mendapat informasi listrik akan padam pukul 09.00 WITA, pemadaman justru bisa terjadi pukul 11.00 atau bahkan pukul 13.00 WITA. Ada pula pemadaman yang terjadi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Kondisi ini membuatnya kesulitan menyesuaikan aktivitas rumah tangga. Padahal, dia sudah bersiap berdasarkan jadwal yang disampaikan.

"Biasanya ada info jam 9 mati lampu, ternyata baru mati lampu jam 1 atau jam 11. Kita sudah prepare, tetapi waktunya bergeser. Bisa juga tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba mati lampu," ungkapnya.

4. Pedagang Pasar Butung ikut terdampak

Ilustrasi listrik (IDN Times/Arief Rahmat)

Pemadaman listrik juga mengganggu aktivitas perdagangan di Pasar Butung, Makassar. Risna (45), pedagang pakaian di pasar tersebut, mengatakan penerangan di area jalan masih tersedia karena menggunakan genset. Namun, listrik di dalam ruko tetap padam karena tidak terhubung dengan sumber listrik cadangan tersebut.

Akibatnya, pengunjung cenderung enggan masuk ke dalam ruko karena kondisi yang gelap. Pedagang pun terkadang memilih menutup tempat usahanya lebih cepat.

"Kalau mati lampu cepat tutup karena pengunjung juga jarang masuk. Mungkin mereka juga berpikir karena mati lampu," kata Risna.

Dia berharap pemadaman listrik tidak berlangsung saat aktivitas pasar masih berjalan. Menurutnya, akan lebih baik jika listrik padam setelah pedagang menyelesaikan aktivitas dan pulang.

"Maunya pas pulang baru listrik padam, supaya tidak mengganggu aktivitas pasar," katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulselrabar menegaskan pemadaman bergilir atau manajemen beban tidak berdampak pada perhitungan tagihan listrik. Besaran tagihan tetap mengacu pada jumlah energi listrik yang digunakan masing-masing pelanggan.

Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar, Niki Rendra Adisetiawan, mengatakan pihaknya memahami keresahan masyarakat akibat kondisi kelistrikan dan kenaikan tagihan yang mereka alami.

"Manajemen beban tidak secara langsung memengaruhi perhitungan tagihan listrik karena tagihan didasarkan pada energi yang digunakan pelanggan," kata Niki dalam keterangan tertulis, Rabu.

Niki menjelaskan, salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan pemakaian listrik rumah tangga adalah cuaca yang belakangan cenderung panas. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat lebih sering menggunakan pendingin ruangan (AC), kipas angin, dan peralatan elektronik lainnya.

Peningkatan penggunaan perangkat elektronik itu berpotensi membuat konsumsi energi listrik bertambah sehingga berdampak pada besaran tagihan bulanan.

PLN memastikan pencatatan pemakaian listrik dilakukan berdasarkan konsumsi energi masing-masing pelanggan. Karena itu, pelanggan yang merasa mengalami kenaikan tagihan tidak wajar dapat mengajukan pengaduan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article