BPS Catat Produksi Beras Sulsel Turun 265 Ribu Ton Sepanjang 2026

- BPS Sulsel memperkirakan produksi beras 2026 mencapai 2,87 juta ton, turun 265,65 ribu ton atau 8,47 persen dari 2025, seiring menyusutnya luas panen.
- Luas panen padi 2026 diproyeksikan 945,38 ribu hektare, turun 9,25 persen. Bone dan Wajo mencatat penurunan produksi padi terbesar, meski Bone tetap tertinggi.
- Produksi beras tertinggi terjadi pada April sebesar 532,90 ribu ton, sedangkan terendah Januari 35,31 ribu ton. Data 2026 masih sementara dan akan diperbarui BPS.
Makassar, IDN Times - Produksi beras di Sulawesi Selatan diperkirakan mengalami penurunan cukup besar sepanjang 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, produksi beras tahun ini diperkirakan hanya mencapai 2,87 juta ton, berkurang sekitar 265,65 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut setara 8,47 persen dari produksi beras 2025 yang mencapai 3,14 juta ton. Kondisi ini sejalan dengan menyusutnya luas panen dan produksi padi di Sulsel selama tahun ini.
Data tersebut tertuang dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Sulselyang dirilis pada Senin (2/11/2026). Angka 2026 masih bersifat sementara berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2026.
1. Luas panen padi menyusut 96 ribu hektare

ilustrasi sawah atau lahan pertanian. (pexels.com/Faizal Ortho) BPS mencatat luas panen padi di Sulsel sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 945,38 ribu hektare. Angka tersebut turun 96,32 ribu hektare atau 9,25 persen dibandingkan luas panen pada 2025 yang mencapai 1,04 juta hektare.
Dari realisasi Januari hingga September 2026, luas panen padi tercatat sebesar 819,09 ribu hektare. Jumlah ini lebih rendah 50,56 ribu hektare atau 5,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, potensi luas panen pada Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 126,29 ribu hektare. Puncak panen tahun ini terjadi pada April dengan luas mencapai 171,08 ribu hektare, lebih rendah dibandingkan April 2025 yang mencapai 216,32 ribu hektare.
2. Bone dan Wajo alami penurunan produksi terbesar

Ilustrasi pekerja menjemur gabah. (ANTARA FOTO/Putra M Akbar) Dari 24 kabupaten/kota di Sulsel, Kabupaten Bone masih menjadi daerah dengan produksi padi tertinggi pada 2026. Namun, produksinya diperkirakan hanya mencapai 745,48 ribu ton gabah kering giling (GKG), turun 148,34 ribu ton atau 16,60 persen dibandingkan 2025.
Kabupaten Wajo menempati posisi kedua dengan produksi sekitar 671,77 ribu ton GKG. Jumlah tersebut turun 111,99 ribu ton atau 14,29 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai 783,76 ribu ton GKG.
Sementara itu, Sidenreng Rappang berada di posisi ketiga dengan produksi 528,62 ribu ton GKG. Angka ini juga mengalami penurunan 7,22 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 569,73 ribu ton GKG.
Meski sebagian besar daerah mengalami penurunan, beberapa kabupaten/kota justru mencatat peningkatan produksi. Luwu Utara mengalami kenaikan terbesar secara persentase, yakni 15,10 persen menjadi 195,52 ribu ton GKG. Produksi di Maros meningkat 5,63 persen menjadi 197,45 ribu ton GKG, sedangkan Luwu naik 3,42 persen menjadi 300,67 ribu ton GKG.
3. Produksi beras tertinggi terjadi pada April

ilustrasi panen padi (pexels.com/Ruyat Supriazi) Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi tertinggi sepanjang 2026 terjadi pada April dengan jumlah 532,90 ribu ton. Sebaliknya, produksi terendah terjadi pada Januari yang hanya mencapai 35,31 ribu ton.
Untuk periode Januari hingga September 2026, produksi beras Sulsel diperkirakan mencapai 2,46 juta ton. Jumlah ini turun 112,69 ribu ton atau 4,38 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Adapun potensi produksi beras pada Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai 408,75 ribu ton. Dengan demikian, total produksi beras Sulsel sepanjang 2026 diproyeksikan sebesar 2,87 juta ton.
BPS menjelaskan, angka produksi dan luas panen 2026 masih dapat berubah karena sebagian perhitungan menggunakan potensi luas panen Oktober hingga Desember. Angka tersebut akan diperbarui setelah realisasi luas panen berdasarkan survei KSA dan produktivitas hasil Survei Ubinan periode September hingga Desember 2026 diperoleh.

















