ilustrasi epos I La Galigo dalam format pertunjukan teater (dok. Djarum Foundation)
Secara kebahasaan, nama pakarena berasal dari kosakata bahasa Makassar, yaitu karena yang berarti "main." Ketika mendapatkan awalan pa-, maknanya bergeser menjadi "si pemain" atau penari. Pakarena sendiri diperkirakan sudah ada sebelum masa Kerajaan Gowa.
Namun, dalam buku "Ensiklopedi Seni Tari Nusantara: Sulawesi Barat hingga Sumatera Utara", (Hikam Pustaka, 2021), tarian ini baru mulai dikodifikasi secara resmi sebagai tarian tradisi istana oleh Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin, untuk menyambut para tamu agung kerajaan.
Asal-usul pakarena berkaitan erat dengan kisah mitologi masyarakat Sulsel dalam epos I La Galigo. Konon, tarian ini lahir dari sebuah kisah perpisahan antara penghuni botting langiq (negeri kayangan) dan penghuni lino (bumi) di masa lampau. Sebelum kembali ke langit, para penghuni botting langiq mengajarkan cara menjalani hidup kepada manusia bumi, mulai dari cara bercocok tanam, berternak, hingga berburu melalui isyarat gerakan kaki dan tangan. Manusia bumi kemudian merangkai gerakan ritual tersebut menjadi sebuah tarian sebagai bentuk ungkapan rasa syukur mendalam kepada langit.