Ini Filosofi Tari Pakarena, Lebih dari Sekadar Gerakan Anggun

- Tari Pakarena dari Gowa dan Makassar diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2013, dengan filosofi mendalam yang berakar pada mitologi I La Galigo.
- Asal-usulnya menggambarkan ajaran kehidupan dari penghuni langit kepada manusia bumi, diwujudkan lewat gerakan simbolik penuh makna sebagai ungkapan rasa syukur.
- Kontras antara kelembutan penari perempuan dan hentakan musik pria melambangkan harmoni watak, sementara setiap gerakan mencerminkan nilai kesopanan serta siklus kehidupan manusia.
Makassar, IDN Times - Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki deretan tarian tradisional, salah satunya adalah pakarena. Kesenian masyarakat Gowa dan Makassar ini ternyata bukan sekadar hiburan visual semata.
Keunikan gerak dan filosofinya telah membuat tarian tradisional ini resmi diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dengan nomor registrasi 201300055 pada tahun 2013. Namun, ternyata ada banyak filosofi di balik kibasan kipas para penarinya.
1. Tak lepas dari mitologi masyarakat Sulsel yakni I La Galigo tentang perpisahan dua dunia

Secara kebahasaan, nama pakarena berasal dari kosakata bahasa Makassar, yaitu karena yang berarti "main." Ketika mendapatkan awalan pa-, maknanya bergeser menjadi "si pemain" atau penari. Pakarena sendiri diperkirakan sudah ada sebelum masa Kerajaan Gowa.
Namun, dalam buku "Ensiklopedi Seni Tari Nusantara: Sulawesi Barat hingga Sumatera Utara", (Hikam Pustaka, 2021), tarian ini baru mulai dikodifikasi secara resmi sebagai tarian tradisi istana oleh Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin, untuk menyambut para tamu agung kerajaan.
Asal-usul pakarena berkaitan erat dengan kisah mitologi masyarakat Sulsel dalam epos I La Galigo. Konon, tarian ini lahir dari sebuah kisah perpisahan antara penghuni botting langiq (negeri kayangan) dan penghuni lino (bumi) di masa lampau. Sebelum kembali ke langit, para penghuni botting langiq mengajarkan cara menjalani hidup kepada manusia bumi, mulai dari cara bercocok tanam, berternak, hingga berburu melalui isyarat gerakan kaki dan tangan. Manusia bumi kemudian merangkai gerakan ritual tersebut menjadi sebuah tarian sebagai bentuk ungkapan rasa syukur mendalam kepada langit.
2. Perbedaan watak kaum lelaki dan perempuan terlihat dari kombinasi irama musik serta gerakan

Salah satu keunikan paling mencolok dari tari pakarena adalah adanya kontras antara penari dan pemusik. Dilansir Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, para penari perempuan (disebut sipinangka) yang berjumlah 3 hingga 12 orang dituntut menari dengan gerakan yang sangat lambat, tenang, anggun, dan lemah lembut.
Sebaliknya, musik pengiring yang dimainkan oleh kelompok pemusik pria (dikenal dengan istilah anrong guru atau gonrong rinci) justru menghentak keras, cepat, dan bergemuruh melalui tabuhan gandrang (gendang) serta tiupan puik-puik. Kontras ini melambangkan kelembutan seorang perempuan Makassar yang berdampingan harmonis dengan ketegasan dan watak keras kaum lelaki Sulsel.
3. Setiap gerakan tari pakarena merefleksikan ajaran hidup warisan turun temurun

Tari pakarena sebenarnya terbagi ke dalam 12 bagian pola gerakan yang sekilas terlihat mirip bagi orang awam. Setiap gerakan tersebut ternyata merefleksikan ajaran hidup yang sudah diwariskan secara turun temurun. Gerakan duduk menjadi penanda sakral awal dan akhir dari pementasan.
Kemudian ada gerakan memutar searah jarum jam yang merepresentasikan siklus atau perputaran hidup manusia di dunia. Terakhir adalah gerakan naik-turun yang mencerminkan roda kehidupan manusia yang tidak selamanya datar, terkadang berada di bawah saat menghadapi kesulitan, dan berada di atas saat mengecap kebahagiaan.
Aturan menari pun tergolong unik. Penari tidak diperbolehkan membuka mata terlalu lebar (mengerling) dan gerakan kakinya tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Ini demi menjaga nilai kala'birang yang berarti kemuliaan dan kesopanan perempuan Makassar.
Nah, itu tadi nilai filosofis dari tari pakarena yang menjadi Warisan Budaya Takbenda Kemdikbud. Apa kamu sudah pernah mempraktikannya?













![[FOTO] Sejarah Perubahan Pasar di Sulsel, dari Lapak Tikar ke Ruko Modern](https://image.idntimes.com/post/20260612/upload_5e0066c972d86d260330d5d1ff68334b_29db3f33-2ec7-41a8-927d-1122abf17538.jpeg)



