IMGR 2027: Ini Alasan Brand Ramai-ramai Pindah ke Threads

- Banyak brand Indonesia mulai mengalihkan aktivitas dari X ke Threads karena dinilai lebih aman dari risiko negative noise dan mendukung komunikasi yang santai serta personal.
- Pengguna Threads menuntut interaksi autentik dari brand, mendorong gaya komunikasi yang lebih manusiawi, spontan, dan berfokus pada relasi ketimbang promosi produk semata.
- Laporan IMGR 2027 menegaskan migrasi ini masih tahap awal; brand disarankan tetap hadir di X sambil membangun kepercayaan jangka panjang melalui pendekatan dual-platform.
Makassar, IDN Times – Lanskap media sosial yang terus bergerak cepat rupanya membawa perubahan besar pada bagaimana sebuah brand atau merek berinteraksi dengan audiensnya. Jika dulu platform X (yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter) menjadi arena utama untuk trending topic dan interaksi kasual, kini mulai terlihat adanya pergeseran arus yang cukup masif. Banyak brand besar di Indonesia yang secara perlahan mengurangi intensitas mereka di X dan mulai membangun 'rumah baru' di platform Threads buatan Meta.
Pergeseran strategi komunikasi digital ini bukanlah sekadar asumsi belaka, melainkan sebuah sinyal nyata yang terekam dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 yang dirilis IDN Research Institute. Laporan tersebut membeberkan bagaimana dinamika kepercayaan audiens telah berubah, sehingga memaksa para pelaku industri untuk ikut menyesuaikan diri. Mari kita bedah lebih dalam mengenai fenomena menarik ini dan bagaimana riset tersebut dilakukan.
1. Brand ramai-ramai membangun "rumah baru" di Threads

Gelombang kepindahan brand menuju Threads mulai menjadi sorotan tajam, terutama terekam dengan jelas pada Mei 2026 lalu. Semuanya bermula ketika akun pemantau industri kreatif digital, @txtfrombrand, mencuitkan observasinya mengenai admin-admin brand yang mulai jarang melontarkan candaan di timeline X dan asyik berpindah ke Threads. Cuitan ini tidak sekadar mendapat respons dari audiens biasa, tetapi juga secara langsung dikonfirmasi oleh para pelaku industri itu sendiri.
Laporan IMGR 2027 mencatat bahwa sejumlah brand Indonesia mulai aktif membangun percakapan di Threads. Akun seperti Sociolla, Exsport Bags, Momoyo Benefit, Torch, Gajah Duduk, hingga Piataland terlihat berinteraksi bukan hanya dengan konsumen, tetapi juga sesama brand dengan gaya komunikasi yang lebih santai dan personal.
Salah satu contoh yang disorot adalah unggahan Momoyo Benefit yang bernada "pamer" pencapaian bisnis secara bercanda. Unggahan itu kemudian direspons berbagai brand lain dengan candaan serupa dan saling berbagi pencapaian mereka. Percakapan tersebut menghasilkan lebih dari 2.400 likes dan 1.000 komentar. Menurut laporan, angka itu bukan sekadar metrik keterlibatan biasa, melainkan sinyal terbentuknya ekosistem komunitas brand yang tumbuh secara organik di Threads.
Salah satu konfirmasi paling strategis datang dari akun resmi Toshiba TV Indonesia yang merespons cuitan tersebut dengan alasan yang sangat analitis. Mereka mengakui bahwa aktivitas di platform X kini dianggap memiliki risiko yang sangat tinggi untuk memicu negative noise atau kegaduhan yang berkonotasi negatif bagi citra merek. Keputusan untuk bermigrasi ini menjadi sinyal kuat bahwa brand membutuhkan ruang diskusi yang lebih tenang dan jauh dari debat-debat yang terlalu cepat serta terpolarisasi.
2. Audiens Threads menginginkan interaksi yang lebih autentik

Temuan menarik lainnya adalah ekspektasi pengguna Threads terhadap kehadiran brand. Audiens tidak lagi sekadar menginginkan konten promosi yang terjadwal rapi, tetapi juga sosok di balik akun yang terasa lebih autentik.
Laporan mengutip unggahan pengguna bernama @ridwanhr yang memperoleh 496 likes dan 214 komentar. Ia menulis, "Akun merek yang masih memposting di hari libur seperti ini agak mencurigakan, mungkin dijalankan oleh pemiliknya sendiri." Observasi itu dianggap menunjukkan bahwa pengguna Threads mengharapkan kehadiran yang lebih manusiawi dan spontan dari sebuah brand.
Dalam konteks pembentukan kepercayaan, Threads disebut berfungsi sebagai ruang transisi antara konsumsi cepat dan diskusi publik yang lebih matang. Pengguna tidak hanya bereaksi terhadap isu, tetapi juga berupaya merumuskan pandangan mereka dalam bentuk yang lebih panjang, kontekstual, dan tidak terlalu terpolarisasi.
Karena itu, gaya komunikasi yang dianggap berhasil di Threads berbeda dengan pendekatan pemasaran konvensional. Brand dinilai perlu tampil autentik, sedikit rentan, tidak terlalu dipoles, serta lebih mengedepankan relasi ketimbang sekadar promosi produk.
3. Sinyal migrasi, tapi X tidak benar-benar ditinggalkan

Meski menemukan sinyal perpindahan, IDN Research Institute mengingatkan bahwa fenomena tersebut belum bisa dibaca sebagai kematian X. Laporan secara tegas menyebut bahwa momentum yang terjadi saat ini masih berupa sinyal awal perubahan preferensi, bukan kepastian bahwa pengguna maupun brand telah meninggalkan platform lama.
Laporan juga menyoroti pernyataan akun Toshiba TV Indonesia (@toshibatv_id) yang menyebut aktivitas di X dinilai "sangat berisiko memunculkan negative noise". Pernyataan tersebut muncul dari pengalaman mereka sendiri dan diikuti pengakuan bahwa perusahaan telah memiliki rencana migrasi aktif ke Threads. Unggahan itu bahkan mencatat 32.600 impresi organik, menunjukkan resonansi yang luas di kalangan pelaku industri.
Ketika merespons cuitan di X soal apakah hipotesis migrasi brand ke Threads sudah bisa disimpulkan, Toshiba TV Indonesia di justru memberikan jawaban yang dianggap paling jujur secara analitis. Mereka menyatakan, "Belum bisa menarik kesimpulan. Sejauh ini baru memahami mengapa Threads lebih aktif dengan merek. Bahkan Toshiba mengakui belum memiliki jadwal pasti untuk migrasi penuh dengan mengatakan, "Ya, kami belum tahu kapan. Masih rencana."
Atas dasar itu, laporan merekomendasikan pendekatan dual-platform. Brand tetap disarankan mempertahankan kehadiran di X untuk pengelolaan isu dan penyebaran informasi cepat, sembari membangun suara yang autentik di Threads untuk membentuk kepercayaan jangka panjang. Menurut laporan, pertanyaan strategisnya bukan lagi apakah brand perlu hadir di Threads, melainkan bagaimana mereka membangun kehadiran yang selaras dengan nilai kepercayaan yang sedang tumbuh di platform tersebut.
Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 yang dirilis oleh IDN Research Institute hadir untuk membedah lebih dalam bagaimana kedua generasi ini beradaptasi dengan perubahan zaman. Laporan ini tidak hanya melacak apa yang mereka beli atau platform apa yang mereka gulirkan setiap hari, tetapi juga menggali motivasi di balik pilihan-pilihan keseharian mereka. Benang merah dari seluruh temuan ini adalah kata "Adaptasi", di mana Milenial dan Gen Z terus merancang strategi bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi, pergeseran budaya, dan sistem informasi yang kian terfragmentasi.
Untuk mendapatkan data yang akurat dan komprehensif, riset ini menggunakan pendekatan mixed-method yang dirancang secara mendalam. Survei kuantitatif dilakukan dalam dua gelombang yang melibatkan total 628 responden (279 Milenial dan 349 Gen Z) yang tersebar di sembilan wilayah geografis Indonesia dengan stratifikasi status sosial ekonomi (SES). Selain itu, tim peneliti juga melakukan wawancara kualitatif mendalam dengan 17 informan, serta melakukan triangulasi data dengan laporan sekunder skala nasional maupun tren real-time dari berbagai platform digital.
![[BREAKING] Kejati Sulsel Geledah Kantor Disdik soal Dugaan Korupsi Smart Library](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_a5b83f58efba52215d7944f6d280377c_ac56fa83-c2f2-4d90-90c1-8afb48df5f26_watermarked_idntimes-1.jpeg)
















