Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fahri Hamzah: Gerakan Gentengisasi Tetap Hormati Kearifan Lokal

Fahri Hamzah: Gerakan Gentengisasi Tetap Hormati Kearifan Lokal
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, menyampaikan keterangan kepada awak media saat kunjungan kerja di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Jumat (6/3/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
Intinya Sih
  • Fahri Hamzah menegaskan gerakan gentengisasi dalam program Indonesia Asri tidak bermaksud menyeragamkan rumah, melainkan tetap menghormati kearifan lokal dan tradisi arsitektur tiap daerah.
  • Genteng dianggap bagian dari identitas arsitektur Nusantara, namun penggunaannya disesuaikan dengan struktur bangunan serta perkembangan teknologi material atap yang lebih ringan seperti galvalum.
  • Pemerintah memfokuskan program perumahan untuk memperbaiki rumah tidak layak huni, dengan alokasi anggaran sekitar Rp9 triliun guna merenovasi hingga setengah juta unit di seluruh Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, menyebut gerakan gentengisasi dalam program Indonesia Asri tidak dimaksudkan menyeragamkan bentuk rumah di seluruh daerah. Pendekatan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kearifan lokal yang telah berkembang di masing-masing wilayah.

Fahri menjelaskan konsep Indonesia Asri diarahkan untuk mendorong lingkungan permukiman yang aman, sehat, resik, dan indah. Salah satu gagasan yang muncul dalam konteks ini adalah mendorong kembali penggunaan genteng sebagai bagian dari karakter arsitektur rumah di Indonesia.

Namun, menurut Fahri, penerapan konsep tersebut tidak bisa dipaksakan di semua daerah. Setiap wilayah memiliki tradisi hunian yang berbeda.

"Kita harus menghormati local wisdom (kearifan lokal). Rumah di Indonesia tidak bisa diseragamkan," kata Fahri saat kunjungan kerja di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar, Jumat (6/3/2026).

1. Tradisi rumah daerah tetap dihormati

Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)
Ilustrasi rumah untuk MBR. (Dok. Kementerian PUPR)

Fahri mencontohkan bentuk rumah tradisional di sejumlah wilayah yang telah lama menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan budaya setempat. Karena itu, pemerintah tidak berniat mengganti desain rumah tradisional dengan model yang sama di seluruh daerah.

"Orang di Papua itu pakai Honai tidak mungkin dia tiba-tiba diganti dengan genteng. Itu sudah wisdom daripada masyarakatnya," katanya.

Menurut Fahri, gerakan gentengisasi sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan permukiman yang lebih tertata. Gagasan ini terkait dengan program Indonesia Asri yang menekankan kualitas lingkungan tempat tinggal masyarakat.

"Gerakan Indonesia asri itu harus dilihat komprehensif supaya Presiden menginginkan kita supaya wilayah kita, daerah kita, desa kita itu asri, aman, sehat, resik, dan indah," kata Fahri.

2. Genteng dipandang sebagai bagian dari identitas rumah

Ilustrasi genteng rumah (Pinterest/Szentgyörgyi Levente)
Ilustrasi genteng rumah (Pinterest/Szentgyörgyi Levente)

Dalam konteks gerakan gentengisasi, Fahri menilai penggunaan genteng dapat menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan kualitas sekaligus tampilan rumah. Genteng dipandang sebagai bagian dari tradisi konstruksi rumah di berbagai daerah di Indonesia.

Namun, penggunaan material tersebut juga bergantung pada struktur bangunan. Rumah yang menggunakan genteng memerlukan konstruksi tiang yang cukup kuat untuk menopang beban atap.

"Genteng itu ingin kita hidupkan karena itu adalah local wisdom kita. Tapi memang genteng itu prasyaratnya adalah tiang rumahnya harus agak kokoh," katanya. 

Sementara itu, banyak rumah saat ini menggunakan material atap yang lebih ringan, seperti galvalum. Material tersebut dinilai memiliki keunggulan dari sisi teknologi dan efisiensi.

"Sekarang itu tiang-tiang rumah itu agak mengakomodir teknologi baru yang atapnya lebih ringan. Seperti galvalum dan sebagainya. Tapi itu juga cukup bagus," katanya.

3. Program perumahan diarahkan untuk rumah tidak layak huni

Ilustrasi perumahan (Dok. Kementerian PUPR)
Ilustrasi perumahan (Dok. Kementerian PUPR)

Fahri menegaskan program perbaikan permukiman lebih diarahkan untuk membantu masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni. Kondisi tersebut banyak dipengaruhi keterbatasan ekonomi.

"Yang dimaksud oleh Bapak Presiden adalah yang secara umum orang-orang yang terpaksa karena ketidakmampuan ekonominya, akhirnya rumahnya tidak layak," kata Fahri.

Di sisi lain, pemerintah menyiapkan anggaran renovasi perumahan dalam jumlah besar. Dana tersebut diarahkan untuk memperbaiki kondisi hunian masyarakat di berbagai daerah.

"Tahun ini insyallah kita mengalokasikan hampir Rp9 triliun untuk renovasi perumahan di seluruh Indonesia," kata Fahri.

Anggaran tersebut ditargetkan dapat mencakup sekitar setengah juta rumah. Pemerintah bahkan tengah mengusulkan peningkatan target renovasi hingga mendekati satu juta rumah pada tahun ini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Irwan Idris
EditorIrwan Idris
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More