El Nino 2026 Ancam Pasokan Air dan Pertanian di Sulsel, Ini Dampaknya

- BMKG memprediksi El Nino lemah akan muncul di Sulsel pada semester dua 2026, berpotensi mengurangi pasokan air permukaan dan membuat musim kemarau lebih kering dari biasanya.
- Dampak El Nino bisa memengaruhi musim tanam, terutama sawah tadah hujan yang bergantung penuh pada curah hujan, sementara lahan beririgasi diperkirakan tetap aman untuk produksi pertanian.
- Pemerintah dan BPBD Sulsel menyiapkan langkah antisipasi seperti pembangunan embung, sumur bor, serta kemungkinan penggunaan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca untuk menghadapi potensi kekeringan.
Makassar, IDN Times - Potensi El Nino di Sulawesi Selatan diprediksi muncul pada semester dua tahun 2026. Kondisi ini berpeluang memengaruhi ketersediaan air permukaan sekaligus musim tanam.
Prakirawan Balai BMKG Wilayah IV Makassar, Amhar Ulfiana, menyebutkan, El Nino tahun ini diperkirakan berintensitas lemah. Karena itu, efek terhadap pasokan air terbatas dan tidak diprediksi menimbulkan kekeringan panjang secara signifikan.
"Karena masih El Nino lemah, jadi mungkin dampaknya belum sampai kemarau yang panjang. Tapi kalau intensitas El Nino mulai kuat atau hingga sangat kuat, ini bisa berpengaruh sampai kekeringan panjang," jelas Amhar melalui wawancara telepon, Senin (6/4/2026).
1. Dampak terhadap air permukaan

Sungai dan waduk di Sulsel berpotensi mengalami berkurangnya pasokan air. Wilayah yang bergantung pada air permukaan tetap perlu waspada, meskipun saat ini risiko kekeringan masih relatif rendah.
Amhar menjelaskan El Nino sebenarnya terjadi di wilayah Samudera Pasifik dan memiliki pengaruh global terhadap cuaca. Di Indonesia, dampaknya paling terasa di wilayah timur, seperti Papua dan Maluku.
Di Sulawesi Selatan, El Nino dapat menurunkan curah hujan. Kondisi ini membuat musim kemarau di wilayah tersebut cenderung lebih kering dari biasanya.
"Sehingga pada saat musim kemarau di mana memang sudah kondisi cuacanya kering, kemudian ditambahkan dengan adanya El Nino, ini bisa menyebabkan lebih kering lagi," imbuh Amhar.
2. Potensi terhadap pertanian

El Nino juga dapat memengaruhi musim tanam, terutama sawah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Produksi pertanian diprediksi tetap optimal jika sistem irigasi memadai. Namun, sawah yang tidak memiliki irigasi berisiko mengalami kekeringan.
"Tapi kalau memang dia sawah tadah hujan yang memang 100 persen bergantung pada curah hujan, nah ini yang bisa dipengaruhi oleh kondisi cuaca akibat El Nino, ya, bisa saja kekeringan," jelas Amhar.
BMKG telah menyusun prakiraan musim untuk wilayah Sulawesi Selatan dan sempat dirilis dalam press release sebelumnya. Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan dalam prakiraan ini adalah potensi munculnya El Nino.
"Ketika sudah diprediksi bahwa akan terjadi El Nino di pertengahan tahun 2026, dan akhirnya BMKG membuat prakiraan musim. Nah kebetulan di Sulawesi Selatan ini memang diperkirakan sebagian besar musim kemarau akan lebih panjang di bagian wilayah.
Sebelumnya, BMKG Wilayah IV Makassar memperkirakan musim kemarau di Sulawesi Selatan akan datang secara bertahap mulai April 2026. Sekitar 79 persen wilayah Sulsel diprediksi mengalami musim kemarau lebih kering dari biasanya, sementara 58 persen wilayah berpotensi menghadapi durasi kemarau lebih panjang.
3. Informasi soal El Nino disalurkan ke instansi terkait

Di awal tahun, BMKG telah mengeluarkan prediksi musim 2026 yang mencakup dinamika atmosfer. Prediksi ini kemudian disampaikan ke berbagai instansi dan pemangku kepentingan yang membutuhkannya, termasuk pemerintah daerah dan pihak pertanian.
Instansi terkait kemudian meneruskan informasi tersebut kepada masyarakat sesuai bidang masing-masing. Penyampaian dilakukan melalui sektor terkait, seperti pertanian dan pengelolaan sumber daya air.
"Misalnya Dinas Pertanian akan menyampaikan kepada petani atau kelompok tani di bawahnya. Sementara Dinas PU akan meneruskan informasi tersebut ke sektor pengairan dan irigasi," kata Amhar.
4. BPBD Sulsel siapkan antisipasi kekeringan

Menanggapi potensi dampak El Nino dan musim kemarau, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui BPBD menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Fokus utama mencakup penyiapan embung, pembangunan sumur bor, hingga kemungkinan penggunaan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo, mengatakan pihaknya berperan sebagai koordinator. Peran tersebut mencakup pengoordinasian berbagai instansi dalam menghadapi potensi kekeringan.
"Kita fungsinya mengoordinir semua, seperti penyiapan embung-embung," kata Amson.
Dia mengatakan sumur bor yang telah dibangun sebelumnya masih dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber air alternatif, baik untuk kebutuhan pertanian maupun pemukiman. Pemerintah juga membuka peluang penggunaan teknologi OMC untuk memicu hujan jika kondisi atmosfer memungkinkan.
"Kalau masih ada bibit awan, kita akan berupaya melakukan langkah teknologi OMC atau operasi modifikasi cuaca," katanya.

















