Makassar, IDN Times - Bagi kebanyakan orang, sepiring makanan kerap hanya dipandang sebagai pengisi perut yang dicerna tiga kali sehari. Namun, bagi Wilda Yanti Salam, tumpukan beras, perasan sagu, hingga olahan bumbu tradisional di dapur adalah arsip hidup yang merekam sejarah, ingatan kolektif, dan relasi manusia dengan tanah kelahirannya.
Perempuan asal Sulawesi Selatan ini mendedikasikan waktunya sebagai peneliti dan penulis yang konsisten mengulik kaitan erat antara pangan dan budaya. Lewat buku esainya Kisah Kasih dari Dapur (Penerbit Partikular, 2024), serial dokumenter Pacukka (2024), hingga kolektif Memodapur yang ia bidani, Wilda berupaya mengembalikan makanan ke dalam diskursus kebudayaan yang selama ini didominasi oleh tari-tarian atau seni pertunjukan konvensional.