Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPS: Ekonomi Sulsel Tumbuh 5,59 Persen, Ditopang Belanja Pemerintah
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 5,59 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, 6,09 persen secara triwulanan, dan 6,22 persen secara kumulatif semester I.
  • Belanja pemerintah tumbuh 20,18 persen dan menjadi penggerak utama, didukung investasi 8,76 persen serta konsumsi rumah tangga 4,69 persen; ekspor masih terkontraksi 4,97 persen.
  • Sektor pemerintahan mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi 16,45 persen, sementara pertanian tetap menjadi penopang terbesar ekonomi dengan kontribusi 23,01 persen terhadap PDRB.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat perekonomian Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/y-on-y). Secara triwulanan, ekonomi Sulsel juga tumbuh 6,09 persen, sedangkan secara kumulatif semester I 2026 meningkat 6,22 persen dibandingkan semester I 2025.

Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh lonjakan belanja pemerintah yang meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan triwulan II 2025. Di sisi lain, ekspor barang dan jasa justru masih mengalami kontraksi sehingga belum menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah.

1. Belanja pemerintah menjadi motor pertumbuhan ekonomi

Balai Kota Makassar. (IDN Times/Ashrawi Muin)

BPS mencatat komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran. Komponen tersebut tumbuh 20,18 persen dibandingkan triwulan II 2025 sehingga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan.

Selain belanja pemerintah, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 8,76 persen. Pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat 4,69 persen, sedangkan konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tumbuh 3,61 persen.

2. Ekspor masih terkontraksi di tengah pertumbuhan ekonomi

Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (unsplash.com/Dominik Lückmann)

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang positif, ekspor barang dan jasa Sulawesi Selatan masih mengalami kontraksi sebesar 4,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, impor barang dan jasa tumbuh 9,33 persen sebagai komponen pengurang dalam perhitungan PDRB.

Secara triwulanan, kondisi serupa juga masih terlihat. Pada triwulan II 2026 dibandingkan triwulan I 2026, ekspor kembali mengalami kontraksi sebesar 8,27 persen, sementara impor tumbuh 5,46 persen.

3. Sektor pemerintahan dan konstruksi mencatat pertumbuhan tertinggi

ilustrasi tenaga kerja (pexels.com/Infinity lifespaces)

Dari sisi lapangan usaha, kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib menjadi sektor dengan pertumbuhan tahunan tertinggi, yakni mencapai 16,45 persen. Pertumbuhan tersebut diikuti sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,73 persen, jasa pendidikan 9,70 persen, konstruksi 8,97 persen, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 8,32 persen.

Untuk pertumbuhan dibandingkan triwulan sebelumnya, sektor konstruksi menjadi yang paling tinggi dengan kenaikan 18,08 persen. Selanjutnya disusul jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 17,14 persen, pertambangan dan penggalian 16,06 persen, jasa perusahaan 15,96 persen, serta jasa pendidikan 14,17 persen.

4. Pertanian tetap menjadi penopang terbesar ekonomi Sulsel

ilustrasi petani kakao, perkebunan, pertanian (vecteezy.com/NARONG KHUEANKAEW)

Meski beberapa sektor jasa mencatat pertumbuhan paling tinggi, struktur ekonomi Sulawesi Selatan masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Pada triwulan II 2026, sektor tersebut menyumbang 23,01 persen terhadap total PDRB Sulawesi Selatan.

Kontributor terbesar berikutnya adalah sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor dengan pangsa 14,56 persen. Sektor konstruksi berada di posisi ketiga dengan kontribusi 13,08 persen, disusul industri pengolahan sebesar 12,87 persen dan informasi serta komunikasi sebesar 5,05 persen. Kelima sektor tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 68,58 persen terhadap perekonomian Sulawesi Selatan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article