Dinkes Makassar Ungkap Tantangan Layanan HIV dan Mobilitas ODHIV

- Dinkes Makassar mencatat lebih dari 5.500 ODHIV aktif berobat dari sekitar 15.000 temuan kasus HIV, dengan 46 persen pasien berdomisili di luar kota.
- Mobilitas pasien dan stigma menyulitkan pemetaan kasus berdasarkan wilayah; sebagian ODHIV memilih berobat jauh karena takut status kesehatannya diketahui keluarga atau lingkungan.
- Makassar memiliki 101 titik layanan HIV, namun baru 51 fasilitas menyediakan ARV; pemerintah mengejar target 95-95-95 melalui pengobatan rutin, pemantauan, dan pencegahan.
Makassar, IDN Times - Dinas Kesehatan Kota Makassar mengungkap mobilitas orang dengan HIV (ODHIV) menjadi salah satu tantangan dalam penanganan HIV. Sebagian pasien yang mengakses pengobatan di Makassar ternyata berdomisili di luar daerah.
Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya sekaligus Penanggung Jawab Program HIV AIDS dan IMS Dinkes Makassar, Harfianti Firman, mengatakan saat ini terdapat lebih dari 5.500 ODHIV yang aktif mengakses pengobatan di Makassar.
Sementara itu, jumlah temuan kasus HIV secara keseluruhan telah mencapai sekitar 15.000 kasus. Namun, angka tersebut tidak seluruhnya berasal dari warga Kota Makassar.
"Mereka yang datang berobat di Makassar tidak semuanya berdomisili di Makassar. Ada yang berasal dari Papua, Kalimantan, Jawa dan daerah lainnya," kata Harfianti, Senin (28/9/2026).
1. Sebanyak 46 persen ODHIV yang berobat di Makassar berasal dari luar daerah

ilustrasi HIV AIDS (IDN Times/Aditya Pratama) Menurut Harfianti, sekitar 46 persen ODHIV yang mengakses layanan pengobatan di Makassar berdomisili di luar Kota Makassar. Kondisi ini membuat data pasien berdasarkan wilayah layanan tidak dapat langsung menggambarkan persebaran kasus HIV di suatu kecamatan atau kelurahan.
Harfianti mencontohkan layanan HIV di Puskesmas Jumpandang Baru, Kecamatan Tallo. Hampir 900 ODHIV tercatat mengakses obat di fasilitas kesehatan tersebut, tetapi hampir separuhnya berdomisili di luar Makassar.
"Kalau kita menyebut satu kecamatan atau kelurahan tinggi HIV, masyarakat bisa langsung memberikan stigma. Padahal belum tentu mereka yang mengakses layanan di sana adalah warga di wilayah tersebut," jelasnya.
2. Stigma membuat sebagian pasien memilih berobat jauh dari tempat tinggal

Ilustrasi HIV/AIDS, IDN Times/ istimewa Stigma dan diskriminasi juga memengaruhi pilihan ODHIV dalam mengakses layanan. Sebagian pasien memilih berobat jauh dari tempat tinggalnya karena khawatir status kesehatannya diketahui oleh keluarga maupun lingkungan sekitar.
Dinkes Makassar sebelumnya mendorong pasien agar mengakses layanan kesehatan di daerah asal. Namun, sebagian ODHIV justru memilih tetap berobat di Makassar meski harus mengeluarkan biaya transportasi.
"Mereka bahkan ada yang mengatakan lebih baik tidak minum obat kalau harus kembali ke daerah asal karena takut diketahui statusnya," katanya.
3. Sebanyak 51 fasilitas bisa layani ARV

Ilustrasi layanan kesehatan. (IDN Times/Arief Rahmat) Di sisi lain, Dinkes Makassar terus memperluas akses layanan HIV. Saat ini terdapat 101 titik layanan program HIV di Kota Makassar.
Namun, baru 51 fasilitas kesehatan yang dapat memberikan terapi antiretroviral (ARV). Sejumlah fasilitas lainnya masih membutuhkan penguatan tenaga dan pelatihan agar dapat memberikan obat secara mandiri.
Harfianti mengatakan keberlanjutan layanan menjadi penting karena ODHIV yang telah menjalani terapi ARV harus mengonsumsi obat secara rutin setiap hari dan menjalani pemantauan berkala.
Penanganan HIV juga tidak berhenti pada penemuan kasus. Pemerintah perlu memastikan ODHIV mengetahui statusnya, mendapatkan pengobatan, hingga mencapai kondisi viral load tersupresi.
4. Makassar mengejar target 95-95-95 dalam penanggulangan HIV

Ilustrasi perempuan dan HIV/AIDS (IDN Times/Aditya Pratama) Strategi tersebut sejalan dengan target 95-95-95 dalam penanggulangan HIV. Target itu mencakup 95 persen orang dengan HIV mengetahui statusnya, 95 persen dari mereka yang terdiagnosis mendapatkan pengobatan, dan 95 persen pasien yang menjalani pengobatan mencapai supresi viral load.
Menurut Harfianti, tantangan penanganan HIV juga berkaitan dengan perubahan perilaku. Upaya pencegahan membutuhkan edukasi, pemeriksaan berkala, penggunaan alat pencegahan, serta akses terhadap layanan kesehatan.
"Tenaga kesehatan fokus bagaimana virusnya tidak menular. Tetapi perubahan perilaku juga membutuhkan proses dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat," katanya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















