Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPS Catat Pengangguran Sulsel Menurun, tetapi Pekerja Berkurang 23,8 Ribu
ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (IDN Times/Nathan Manaloe)
  • TPT Sulawesi Selatan pada Mei 2026 turun menjadi 4,66 persen, seiring berkurangnya 16,27 ribu penganggur; namun angkatan kerja dan jumlah pekerja juga menyusut.
  • Pertanian menyerap tenaga kerja terbesar, yakni 1,81 juta orang atau 38,33 persen, serta mencatat tambahan pekerja terbanyak; sektor perdagangan mengalami penurunan pekerja terbesar.
  • Pekerja formal naik menjadi 37,36 persen, tetapi sektor informal masih mendominasi 62,64 persen; TPT tertinggi dialami lulusan SMK sebesar 9,60 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulawesi Selatan pada Mei 2026 sebesar 4,66 persen. Angka tersebut turun 0,29 persen poin dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 4,95 persen.

Di balik penurunan tingkat pengangguran tersebut, jumlah penduduk yang bekerja justru ikut berkurang. BPS mencatat jumlah penduduk bekerja turun sebanyak 23,80 ribu orang, sementara jumlah angkatan kerja berkurang 40,07 ribu orang dibandingkan Februari 2026.

1. Pengangguran turun, tetapi jumlah pekerja juga berkurang

Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (IDN Times/Galih Persiana)

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, jumlah angkatan kerja di Sulawesi Selatan mencapai 4,96 juta orang. Angka tersebut lebih rendah 40,07 ribu orang dibandingkan Februari 2026 yang mencapai hampir 5 juta orang.

Sementara itu, jumlah penduduk bekerja tercatat sebanyak 4,72 juta orang atau berkurang 23,80 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Di sisi lain, jumlah pengangguran juga turun sekitar 16,27 ribu orang sehingga TPT ikut menurun menjadi 4,66 persen.

2. Pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar

ilustrasi petani cabai (pexels.com/Danang DKW)

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi lapangan usaha yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Sulawesi Selatan. Jumlah pekerja pada sektor ini mencapai sekitar 1,81 juta orang atau setara 38,33 persen dari seluruh penduduk bekerja.

Di bawahnya terdapat sektor perdagangan besar dan eceran yang menyerap 16,85 persen tenaga kerja, disusul sektor industri sebesar 7,72 persen. Dibandingkan Februari 2026, sektor pertanian justru mengalami penambahan tenaga kerja terbesar sebanyak 193,65 ribu orang, sedangkan sektor perdagangan mengalami penurunan paling besar hingga 91,17 ribu orang.

3. Pekerja formal meningkat, tetapi mayoritas masih bekerja di sektor informal

Ilustrasi tenaga kerja formal. (IDN Times/Haikal)

BPS juga mencatat adanya peningkatan proporsi pekerja formal di Sulawesi Selatan. Pada Mei 2026, jumlah pekerja formal mencapai 1,76 juta orang atau 37,36 persen dari total penduduk bekerja, naik 0,48 persen poin dibandingkan Februari 2026.

Meski demikian, mayoritas masyarakat Sulawesi Selatan masih bekerja di sektor informal. Jumlahnya mencapai sekitar 2,96 juta orang atau 62,64 persen dari seluruh penduduk bekerja sehingga menunjukkan pasar kerja informal masih mendominasi struktur ketenagakerjaan di daerah ini.

4. Pengangguran lulusan SMK masih tertinggi

Ilustrasi tenaga kerja terdampak wabah COVID-19. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Jika dilihat berdasarkan jenjang pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi. TPT lulusan SMK pada Mei 2026 mencapai 9,60 persen, jauh di atas rata-rata provinsi yang sebesar 4,66 persen.

Sebaliknya, tingkat pengangguran terendah terdapat pada penduduk dengan pendidikan SD ke bawah yang tercatat sebesar 1,76 persen. BPS juga mencatat TPT di wilayah perkotaan mencapai 6,11 persen, lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan yang sebesar 3,12 persen.

Editorial Team

Related Article