Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Beda Vibes Lebaran Dulu dan Sekarang, Mana yang Kamu Rasakan?

Beda Vibes Lebaran Dulu dan Sekarang, Mana yang Kamu Rasakan?
Ilustrasi lebaran, idulfitri. (Unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Perayaan Lebaran di Sulawesi Selatan kini bergeser dari tradisi analog ke digital, mulai dari kartu ucapan yang diganti pesan WhatsApp hingga salam tempel beralih ke dompet digital.
  • Suasana dapur ramai dan pawai obor khas masa lalu kini makin jarang terlihat, tergantikan oleh layanan katering serta pesta kembang api di malam takbiran.
  • Silaturahmi fisik saat Lebaran kini bisa dilakukan lewat video call, membuat keluarga tetap terhubung meski jarak memisahkan, namun mengubah cara interaksi menjadi lebih praktis dan digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Makassar, IDN Times - Lebaran selalu menjadi momen yang paling dinanti. Tapi tak bisa disangkal, ada banyak hal dari perayaan setahun sekali tersebut yang telah banyak berubah.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel), transisi dari era analog ke digital membawa pergeseran cara merayakan hari emenangan. Meski esensinya tetap sama, ada beberapa detail ikonik yang kini mulai pudar ditelan zaman. Berikut ini IDN Times merangkumnya untuk pembaca.

1. Dari kartu lebaran berubah ke pesan broadcast WhatsApp

Ilustrasi WhatsApp.
Ilustrasi aplikasi WhatsApp. (Unsplash.com/Dimistri Karastelev)

Dulu, seminggu sebelum lebaran, Kantor Pos pasti penuh sesak dengan kartu lebaran. Memilih kartu ucapan dengan desain menarik, lalu menulis ucapan tangan menjadi seni tersendiri. Selain itu, menunggu tukang pos datang membawa balasan kartu juga memberi sensasi menanti yang istimewa.

Sekarang, ucapan selamat cukup dikirimkan lewat satu kali klik via broadcast WhatsApp atau unggahan Instagram Story. Lebih praktis memang, tapi ini membuat sentuhan personal dari tulisan tangan kini terasa makin langka.

2. Riuhnya kesibukan dapur berganti menjadi kemudahan catering

Ilustrasi buras.
Ilustrasi buras, salah satu makanan tradisional di Sulawesi Selatan. (Midori, Kue buras, CC BY-SA 3.0)

Zaman dulu, suasana menjelang lebaran ditandai dengan kepulan asap di halaman rumah. Para ibu bertetangga biasanya berkumpul untuk memasak buras (maburasa) beramai-ramai menggunakan kayu bakar. Selain itu, proses mengikat buras yang membutuhkan teknik khusus menjadi ajang bercengkerama antarkeluarga.

Di era sekarang, banyak keluarga di Sulsel yang memilih cara praktis dengan memesan hidangan lebaran via ojek online atau jasa katering. Bau asap kayu bakar dan keriuhan dapur yang berkesan kini mulai digantikan oleh deretan kemasan boks plastik yang rapi.

3. Pawai obor yang semakin asing di daerah perkotaan

Ilustrasi pawai obor.
Sejumlah peserta mengikuti pawai obor di Molosifat W, Kota Gorontalo, Gorontalo, Minggu (8/3/2026). ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/nz

Masa takbiran di zaman dulu jadi momen yang meriah. Anak-anak akan turun ke jalan membawa obor bambu sambil melantunkan takbir dengan penuh semangat. Suara beduk di masjid terdengar bersahut-sahutan secara alami tanpa bantuan pengeras suara digital.

Sekarang, pawai obor mulai jarang terlihat di pusat kota karena alasan keamanan dan tertib lalu lintas. Kemeriahan malam takbiran lebih banyak diisi dengan pesta kembang api, atau berganti menjadi sekadar saling berkumpul dengan anggota keluarga.

4. Silaturahmi fisik bisa diganti dengan video call jarak jauh

Ilustrasi video call.
Ilustrasi seseorang melakukan video call. (Unsplash.com/Hc Digital)

Dulu, mudik adalah harga mati jika ingin merayakan lebaran. Jika tidak pulang, komunikasi hanya bisa dilakukan lewat telepon kabel yang tarifnya mahal. Pertemuan fisik sangat disakralkan karena itulah satu-satunya cara untuk melihat wajah orang tercinta.

Kini, jarak bukan lagi penghalang besar. Bagi pemudik yang berhalangan pulang, video call bisa menyatukan keluarga dari Makassar, Jakarta, hingga luar negeri dalam satu layar. Kendati teknologi memang mendekatkan yang jauh, terkadang ia justru menjauhkan yang dekat jika semua orang sibuk berfoto untuk konten media sosial.

5. "Salam tempel" mulai beralih ke ranah digital

Ilustrasi uang rupiah.
Ilustrasi uang rupiah. (Unsplash.com/Mufid Majnun)

Siapa yang ingat antrean panjang di depan bank untuk menukar uang receh baru? Anak-anak zaman dulu sangat bangga jika mendapatkan amplop berisi uang kertas yang masih licin, putih dan bersih.

Memang masih ada yang melakukan tradisi salam tempel fisik ini. Tapi, ada yang mulai beralih ke saldo dompet digital. Tinggal pindai QR Code atau transfer saldo, "salam tempel" pun terkirim. Lebih aman dari risiko hilang, tapi sensasi memegang tumpukan uang kertas baru bagi anak-anak tentu sudah berbeda rasanya.

Meski cara merayakan lebaran terus berubah, jangan sampai nilai kebersamaan dan saling memaafkan ikut berubah. Selamat merayakan Idulfitri!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aan Pranata
EditorAan Pranata
Follow Us

Latest News Sulawesi Selatan

See More