Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Mengatasi Food Neophobia pada Anak, Perlu Kesabaran Ekstra!
ilustrasi anak menolak makan sehat (pexels.com/Alex Green)
  • Food neophobia adalah ketakutan anak terhadap makanan baru yang bisa memengaruhi asupan serat dan pertumbuhan, sehingga perlu dicegah sejak dini oleh orang tua.
  • Pendekatan efektif meliputi mengenalkan makanan baru secara perlahan, tidak memaksa anak makan, serta mengajak mereka berkreasi agar tertarik mencoba rasa berbeda.
  • Makan bersama tanpa gadget dan menjadi role model positif membantu membentuk kebiasaan makan sehat serta mengurangi risiko food neophobia pada anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Para ayah dan bunda, apakah sudah mengetahui food neophobia pada anak? Food neophobia adalah sebuah ketakutan berlebih untuk mengonsumsi jenis makanan baru pada anak. Berdasarkan penilitian Food neophobia across the life course: Pooling data from five national cross-sectional surveys in Ireland (2022), disebutkan bahwa food neophobia pada anak akan berdampak pada kebutuhan serat harian dan pertumbuhan anak kedepannya.

Oleh sebab itu, pencegahan food neophobia ini tidak boleh dianggap remeh oleh para orang tua. Lantas, bagaimana cara mengatasi food neophobia pada anak? Untuk itu, simak penjelasan di bawah ini.

1. Kenalkan anak dengan makanan baru

ilustrasi anak mengenal makanan baru (pexels.com/Vanessa Loring)

Menurut penelitian Child-reported vegetable neophobia is associated with risk avoidance for distaste in children aged 4–15 years (2024), food neophobia biasanya terjadi saat anak berusia 2 sampai 6 tahun. Pada usia ini anak mulai mengenai makanan baru yang masih belum mereka ketahui.

Untuk itu, ketika anak menginjak usia 2 tahun sebagai orang tua dapat mengenalkan berbagai jenis makanan baru kepada anak. Mulailah, secara perlahan-lahan untuk mengenalkan ragam jenis makanan seperti sayur dan buah-buahan. Sebab, berdasarkan hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa anak-anak banyak menolak mengonsumsi makanan baru terutama sayur dan buah.

2. Jangan memaksa anak untuk mengonsumi makanan baru

ilustrasi ayah menyuapi makan anaknya (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Terkadang saat anak susah untuk makan, biasanya membuat orang tua akan marah, kesal, dan memaksa si kecil untuk makan. Terlebih lagi, jika makanan tersebut masih baru bagi anak. Pasti, anak menolak mencoba makanan baru tersebut

Dilansir laman WebMD, dengan paksaan, membujuk, ataupun memohon pada anak untuk mencoba makanan baru dapat membuat anak menolak untuk mencoba makanan baru. Ini merupakan kesalahan orang tua yang masih sering dilakukan yaitu, dengan memaksa anak untuk mengonsumsi makanan baru. Orang tua akan memaksa anaknya untuk mencoba makanan baru. Padahal, dengan pakasaan ini dapat membuat anak menjadi lebih takut untuk mencoba makanan baru dan memicu food neophobia pada anak. 

3. Ajak anak berkreasi dengan makanan

ilustrasi membuat kreasi makanan bersama keluarga (pexels.com/August de Richelieu)

Jika masih anak suka menolak mencoba makanan baru, cobalah ajak anak untuk berkreasi membuat makanan bersama. Ini merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan bersama buah hati tercinta. Cara ini juga, dapat membuat anak lebih tertatrik untuk mengenal makanan baru.

Dilansir laman Alimentarium, membuat makanan baru dengan bentuk yang lucu dan menarik perhatian anak dapat mencegah food neophobia.

Sebagai contoh, cobalah membuat kreasi menu sarapan bersama buah hati. Orang tua dapat mengajak si kecil untuk membuat menu sarapan dengan bentuk-bentuk menarik misal, membuat nasi berbentuk beruang, sosis berbentuk bunga, dan wortel yang berbentuk hati. Dengan begini, anak tidak memicu food neophobia dengan makanan baru sebab dengan bentuk unik, lucu, dan menarik perhatian si kecil.

4. Ajak anak untuk makan bersama

ilustrasi makan bersama keluarga di meja makan (pexels.com/Werner Pfennig)

Sekarang ini, banyak orang tua yang memberikan gadget ketika anak makan. Padahal, memberikan anak gadget saat makan dapat memberikan dampak buruk ke depannya Sebab, dapat membuat anak menjadi kecanduan dengan gadget

Menurut The impact of digital era: Intensity of excessive use of gadget causing eating difficulty on children (2021), kebiasan memberikan gadget dapat berpengaruh pada kebiasan makan (eating behavior) seperti menolak untuk makan dan penolakan untuk menerima makanan baru.

Di mana membuat anak tidak dapat lepas dari gadget, meskipun itu saat menyantap makanan. Untuk itu, orang tua dapat mengajak anak untuk makan bersama di meja makan. Hal ini dapat memberikan kedekatan bagi orang tua dan anak. Serta, orang tua dapat mengenalkan berbagai jenis makanan baru pada si kecil.

5. Pentingnya pola asuh yang tepat dari orang tua

ilustrasi ibu mengajarkan makan sehat pada anak (pexels.com/Vitaly Gariev)

Memang, untuk sebagian orang tua akan menyerah ketika anak mereka selalu menolak makanan baru. Tetapi, ini juga dapat berpengaruh pada pola asuh yang salah dari orang tua. Pola asuh yang tepat berpengaruh besar pada perilaku anak karena orang tua adalah sebagai panutan bagi anak.

Dilansir laman Cloudnine, anak akan mencoba makanan baru, jika orang tua mereka juga mencobanya terlebih dahulu. Jika itu memberikan reaksi yang membuatnya tertarik, mereka akan mengikutinya. Untuk itu, jika anak ingin mencoba makanan baru sebagai orang tua harus dapat menjadi role model yang baik terlebih dahulu.

Mencoba memberikan makanan baru pada anak memanglah tidak mudah, butuh kesabaran yang ekstra dalam membimbingnya. Jangan sampai, buah hati tercinta kita mengidap food neophobia. Di mana, dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan asupan serat harian anak nantinya.

Editorial Team