Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
400 Tahun Syekh Yusuf, Kemenbud Siapkan Rumah Budaya di Afrika Selatan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat diwawancarai di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (27/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Kementerian Kebudayaan menyiapkan Rumah Budaya Indonesia Syekh Yusuf di Cape Town untuk mengenalkan warisan ulama asal Sulawesi Selatan, dengan perizinan masih berlangsung atas arahan Presiden Prabowo.
  • Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf mencakup seminar, simposium, film dokumenter, serta peluncuran buku berisi 23 karya tasawuf yang telah ditransliterasi dan diterjemahkan.
  • Syekh Yusuf dikenal sebagai ulama, sufi, dan pejuang antikolonial yang menjadi pahlawan nasional Indonesia serta Afrika Selatan; peringatan 2026 diusulkan masuk agenda UNESCO sejak 2025.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Kementerian Kebudayaan menyiapkan pembangunan Rumah Budaya Indonesia Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan, untuk memperkenalkan warisan pemikiran dan perjuangan ulama asal Sulawesi Selatan tersebut. Rencana ini menjadi salah satu agenda dalam rangkaian peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari pada 2026.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengatakan pembangunan Rumah Budaya Indonesia tersebut masih menunggu perizinan. Rencana itu merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto, mengingat banyaknya diaspora Indonesia di Afrika Selatan.

"Kita akan rencana membuat Rumah Budaya Indonesia Syekh Yusuf di Cape Town di Afrika Selatan, sedang menunggu izin-izinnya, tapi ini direktif dari presiden, Pak Prabowo sendiri yang menginstruksikan," kata Fadli saat ditemui di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (27/10/2026).

1. Kementerian Kebudayaan siapkan buku 23 karya tasawuf

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat diwawancarai di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (27/10/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Fadli mengatakan pemerintah telah menggelar sejumlah kegiatan untuk memperingati 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari. Kegiatan tersebut meliputi seminar, simposium, hingga produksi film dokumenter.

Kementerian Kebudayaan juga menyiapkan buku yang memuat 23 karya tasawuf Syekh Yusuf. Karya-karya tersebut telah melalui proses transliterasi dan penerjemahan, serta segera diluncurkan.

"Ada 23 karya tasawuf, kitab tasawuf dari Syekh Yusuf Al-Makasari yang ditransliterasi dan kemudian diterjemahkan dan segera akan kita luncurkan bukunya," katanya. 

Menurut Fadli, rangkaian kegiatan ini bertujuan memperkenalkan Syekh Yusuf sebagai tokoh penting dalam sejarah dan pemikiran Islam. Selain dikenal sebagai ulama dan sufi, Syekh Yusuf juga merupakan pejuang yang melawan kolonialisme.

2. Syekh Yusuf jadi pahlawan nasional Indonesia dan Afrika Selatan

Lukisan Pahlawan Nasional Syekh Yusuf dan pemandangan Cape Town tahun 1683. (Kolase Berbagai Sumber)

Fadli menyebut Syekh Yusuf bukan hanya dikenal sebagai ulama dan sufi, tetapi juga sebagai pemimpin perjuangan bersenjata. Saat berada di Banten, Syekh Yusuf terlibat dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Syekh Yusuf merupakan mufti Kesultanan Banten dan menantu Sultan Ageng Tirtayasa. Akibat perlawanannya, dia ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Syekh Yusuf sempat dibuang ke Batavia, kemudian diasingkan ke Sri Lanka selama sekitar 10 tahun. Setelah itu, dia dibuang ke Cape Town, Afrika Selatan, selama lima tahun hingga wafat.

Syekh Yusuf dihormati sebagai pahlawan nasional di Indonesia dan Afrika Selatan. Perjuangannya melawan penindasan juga dinilai menginspirasi gerakan ant apartheid di Afrika Selatan, termasuk perjuangan Nelson Mandela.

"Jadi, kita memperingati Syekh Yusuf ini dan masih terus berlangsung ada beberapa kegiatan dalam rangka mengangkat Syekh Yusuf sebagai seorang sosok yang penting, pejuang yang penting, pemikir yang penting, seorang sufi yang juga luar biasa yang kita miliki," kata Fadli.

3. Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf masuk agenda UNESCO

Lukisan Syekh Yusuf Al-Makassari, figur ulama berpengaruh asal Gowa-Tallo dan pemimpin pasukan kubu Sultan Ageng Tirtayasa di Perang Saudara Banten (1682-1683), dalam prangko Afrika Selatan terbitan tahun 2011. (Universal Postal Union)

Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan mengusulkan peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai bagian dari agenda UNESCO sejak 2025. Tahun 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kiprah dan warisan intelektual tokoh tersebut di tingkat internasional.

"Dan tahun 2026 ini adalah 400 tahun anniversary Syekh Yusuf Al-Makassari," kata Fadli.

Menurutnya, peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengangkat sosok Syekh Yusuf sebagai ulama, pemikir, dan sufi. Dia juga dikenal sebagai pejuang yang pengaruh dan perjuangannya melampaui Indonesia.

"Dan Syekh Yusuf adalah seorang pahlawan nasional kita dan juga pahlawan nasional juga di Afrika Selatan. Dan beliau itu juga pemimpin perang sebetulnya," kata Fadli.

Curated For You

Editorial Team

Related Article