^^ Mensos Minta Tagana Tingkatkan Kesiapsiagaan Penanganan Bencana

Mensos Saifullah Yusuf meminta Tagana meningkatkan kesiapsiagaan dan keterampilan untuk memperkuat penanganan bencana dari pencegahan hingga pemulihan.
Jambore di Makassar diikuti 1.000 anggota Tagana dan 38 ketua tim sebagai wadah berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas, dan mengasah keterampilan.
Kemensos menyiapkan bantuan bagi keluarga terdampak serta memberikan insentif bulanan dan dukungan harian bagi anggota Tagana yang bertugas.
Makassar, IDN Times - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf meminta Taruna Siaga Bencana (Tagana) meningkatkan kesiapsiagaan dan keterampilan dalam menghadapi bencana. Penguatan kapasitas relawan dinilai penting agar penanganan bencana, mulai dari tahap pencegahan hingga pemulihan, dapat berjalan lebih efektif.
Ajakan Menteri Sosial yang akrab disapa Gus Ipul itu disampaikan saat menghadiri malam solidaritas dalam rangkaian Apel Siaga Bencana, Jambore, dan Konsolidasi Relawan Sosial Kebencanaan di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar, Senin (26/10/2026) malam.
Kegiatan tersebut diikuti 1.000 anggota Tagana dan 38 ketua tim. Jambore ini menjadi wadah bagi para relawan untuk berbagi pengalaman, memperkuat solidaritas, sekaligus mengasah keterampilan dalam menghadapi situasi darurat.
“Dengan adanya jambore ini diharapkan keterampilan mereka semakin meningkat, kemudian memahami bagaimana bekerja sebelum dan ketika bencana itu datang,” kata Gus Ipul.
1. Tagana Didorong Perkuat Pencegahan dan Mitigasi Bencana

Apel Siaga Bencana, Jambore, dan Konsolidasi Relawan Sosial Kebencanaan di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar, Senin (26/10/2026) malam. IDN Times/Darsil Yahya Gus Ipul mengatakan, peningkatan kemampuan relawan tidak hanya berfokus pada penanganan saat bencana terjadi. Tagana juga diharapkan mampu memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Menurutnya, pemahaman terhadap kondisi lingkungan menjadi salah satu aspek penting untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.
Masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan, misalnya, perlu memahami potensi ancaman di wilayahnya.
Begitu pula warga yang bermukim di daerah pesisir harus mengetahui langkah penyelamatan jika terjadi bencana. “Kalau ada bencana, mereka tahu harus kumpul di mana, jalur evakuasinya seperti apa. Tentu ini dalam upaya untuk mengurangi risiko jika bencana benar-benar datang,” ujarnya.
Kementerian Sosial (Kemensos) juga mendorong berbagai program pencegahan, di antaranya Kampung Siaga Bencana dan Tagana Masuk Sekolah. Program tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menghadapi potensi bencana sejak dini.
Rangkaian jambore di Makassar turut diisi perlombaan keterampilan dan kekompakan, bakti sosial, donor darah, serta sosialisasi Sekolah Rakyat Aman Bencana.
2. Kemensos Siapkan Bantuan untuk Korban Bencana

Apel Siaga Bencana, Jambore, dan Konsolidasi Relawan Sosial Kebencanaan di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar, Senin (26/10/2026) malam. IDN Times/Darsil Yahya Gus Ipul menjelaskan, penanggulangan bencana dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Basarnas dan masyarakat.
Pada masa tanggap darurat, penanganan difokuskan pada evakuasi korban, dukungan logistik, penyediaan dapur umum, serta tenda dan tempat pengungsian.
Sementara itu, setelah masa kedaruratan berakhir, Kemensos menyalurkan sejumlah bantuan bagi keluarga terdampak untuk mendukung pemulihan kehidupan mereka.
Bantuan tersebut meliputi santunan bagi korban meninggal dunia atau mengalami luka berat, bantuan isian rumah bagi warga yang rumahnya rusak berat, serta jaminan hidup selama tiga bulan.
“Jaminan hidup kepada seluruh individu yang terdampak selama tiga bulan, setiap harinya Rp15 ribu,” kata Gus Ipul.
Selain itu, Kemensos memberikan bantuan pemberdayaan sosial ekonomi sebesar Rp5 juta untuk membantu keluarga terdampak memulihkan kondisi sosial dan ekonomi mereka.
Dukungan lain, seperti penyediaan hunian sementara, juga dapat diberikan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak sesuai kebutuhan penanganan bencana.
3. Tagana Terima Insentif Rp250 Ribu per Bulan

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf saat menghadiri Apel Siaga Bencana, Jambore, dan Konsolidasi Relawan Sosial Kebencanaan di Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Makassar, Senin (26/10/2026) malam. IDN Times/Darsil Yahya Dalam kesempatan tersebut, Gus Ipul juga menjelaskan dukungan pemerintah bagi anggota Tagana yang selama ini terlibat dalam penanganan bencana di berbagai daerah.
Ia menyebutkan, terdapat lebih dari 30 ribu anggota Tagana di seluruh Indonesia yang tercatat menerima insentif dari Kemensos sebesar Rp250 ribu per bulan.
Di luar insentif bulanan tersebut, anggota Tagana yang bertugas saat terjadi bencana juga mendapatkan dukungan khusus sebesar Rp150 ribu per hari selama menjalankan tugas.
“Kalau tidak bertugas, ya tidak (mendapatkan dukungan harian),” jelasnya.
Menurut Gus Ipul, insentif bulanan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas pengabdian anggota Tagana dalam membantu masyarakat. Sementara dukungan harian diberikan ketika mereka terlibat langsung dalam penanganan bencana.
Peningkatan keterampilan, kesiapsiagaan, dan koordinasi ant relawan diharapkan dapat memperkuat upaya penanggulangan bencana sekaligus meminimalkan risiko bagi masyarakat di wilayah rawan bencana.



















