Belum 2 Tahun, Nilai Properti di Sydney Ini Naik Hampir 2 Kali Lipat

Nilai One Grand Eastlakes di Sydney naik dari AU$19,5 juta pada akhir 2024 menjadi AU$38 juta pada 2026, didukung pengelolaan aset dan kinerja penyewa.
Pusat perbelanjaan berokupansi 100 persen dengan penyewa utama ALDI, Woolworths, dan Australia Post; omzet bulanan Woolworths dilaporkan naik dari sekitar AU$150 ribu menjadi lebih AU$520 ribu.
One Global Capital memasarkan aset tersebut dengan estimasi harga AU$40–46 juta, sembari mempertimbangkan periode kepemilikan hingga 2027 dan peluang proyek Five Dock pada pertengahan 2027.
Makassar, IDN Times - Nilai properti komersial One Grand Eastlakes Shopping Centre di Sydney, Australia, meningkat dari AU$19,5 juta saat diakuisisi pada akhir 2024 menjadi AU$38 juta pada 2026. Kenaikan tersebut setara AU$18,5 juta atau sekitar 95 persen dalam waktu kurang dari dua tahun.
Pusat perbelanjaan milik One Global Capital, yang didirikan Iwan Sunito asal Indonesia, sebelumnya dinilai AU$33 juta pada akhir 2025. Berdasarkan penilaian independen CBRE pada 2026, nilainya kembali meningkat AU$5 juta atau sekitar 15 persen.
Kenaikan valuasi ini terjadi di tengah upaya perusahaan mengoptimalkan nilai aset melalui pengelolaan properti, peningkatan kinerja penyewa, dan rencana divestasi. Perusahaan juga tengah mempertimbangkan sejumlah opsi strategis untuk memaksimalkan hasil investasi bagi para pemegang saham.
1. Okupansi pusat perbelanjaan capai 100 persen

Pendiri ONE Global Capital Iwan Sunito. (Dok. Istimewa) Chairman dan Group CEO One Global Capital, Iwan Sunito, mengatakan kenaikan valuasi One Grand Eastlakes berkaitan dengan strategi yang dirancang sejak awal akuisisi.
Menurut dia, perusahaan mempertimbangkan fundamental aset, potensi pendapatan, dan peluang peningkatan nilai dalam jangka waktu investasi yang telah direncanakan.
"Perkembangan valuasi ini menjadi salah satu indikator yang perlu dievaluasi bersama kinerja operasional dan kondisi pasar," ujar Iwan dalam keterangan tertulis.
Dari sisi operasional, tingkat okupansi pusat perbelanjaan tersebut dilaporkan mencapai 100 persen. Sejumlah penyewa utamanya adalah jaringan supermarket ALDI dan Woolworths.
Perusahaan juga mencatat omzet bulanan Woolworths meningkat dari sekitar AU$150 ribu menjadi lebih dari AU$520 ribu sejak awal pengambilalihan. Angka tersebut menjadi salah satu indikator kinerja operasional yang disampaikan perusahaan.
2. One Grand Eastlakes mulai dipasarkan untuk dijual

One Global Capital, perusahaan investasi properti milik orang Indonesia yang berbasis di Sydney, Australia menyelesaikan pembelian The Grand Eastlakes. (Dok. Istimewa) One Global Capital telah memberikan mandat pemasaran dan penjualan pusat perbelanjaan tersebut kepada Rob Pignataro, Managing Agent Strathfield Partners.
Rob menilai One Grand Eastlakes memiliki karakteristik yang menarik karena luasnya mencapai 3.300 meter persegi dan didukung penyewa yang dinilai berkualitas tinggi, termasuk ALDI, Australia Post, dan Woolworths.
"Sangat jarang sebuah pusat perbelanjaan dengan luas 3.300 m² seperti One Grand Eastlakes memiliki penyewa berkualitas tinggi (triple-A tenants) seperti Aldi, Australia Post, dan Woolworths. Dengan karakteristik dan kualitas penyewa tersebut, estimasi nilai pasar properti ini berada di kisaran AU$40 juta hingga AU$46 juta," ujar Rob.
Meski demikian, estimasi nilai pasar tersebut berbeda dari valuasi independen sebesar AU$38 juta yang dicatat pada 2026. Harga jual akhir juga akan bergantung pada kondisi pasar dan hasil transaksi.
One Global Capital merancang investasi ini dengan periode kepemilikan tiga tahun hingga akhir 2027, dengan tujuan merealisasikan nilai aset dan mengembalikan modal kepada investor.
Perusahaan juga membuka kemungkinan memperpanjang masa kepemilikan hingga satu tahun jika dinilai dapat memberikan hasil investasi yang lebih optimal. Keputusan akan mempertimbangkan prospek pendapatan, harga jual, biaya transaksi, dan potensi hasil bersih yang dapat dibagikan kepada investor.
3. Investor asing mulai melirik peluang berikutnya

ilustrasi investasi (freepik.com/rawpixel.com) Iwan mengatakan kinerja One Grand Eastlakes turut menarik perhatian calon investor dari sejumlah negara, termasuk kawasan Timur Tengah dan Amerika Serikat. Mereka disebut mulai menghubungi perusahaan untuk menjajaki peluang investasi berikutnya.
Menurut Iwan, ketertarikan tersebut berkaitan dengan strategi akuisisi, pengelolaan aset, dan penciptaan nilai yang dijalankan perusahaan.
Salah satu proyek yang tengah dipersiapkan adalah One Five Dock Masterplan Project di Sydney, yang direncanakan diluncurkan pada pertengahan 2027.
"Kami ingin memberikan kesempatan kepada para investor untuk menjajaki peluang baru melalui portofolio kami, dengan tetap mengedepankan fundamental aset dan disiplin investasi," kata Iwan.
Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan valuasi suatu aset bukan satu-satunya pertimbangan dalam investasi properti. Kemampuan menghasilkan pendapatan, mempertahankan penyewa, dan merealisasikan nilai saat penjualan juga menjadi faktor penting.
4. Investasi properti komersial Australia tumbuh

Kawasan Five Dock di Sydney, Australia, lokasi pengembangan perusahaan properti One Global Capital yang didirikan orang Indonesia Iwan Sunito. (Dok. Istimewa) Di tengah perkembangan tersebut, pasar properti komersial Australia masih menjadi perhatian investor. One Global Capital mengutip data CBRE Australia yang mencatat investasi properti komersial di negara itu pada semester I 2026 meningkat 16 persen secara tahunan menjadi AU$19 miliar.
Di sektor ritel, pusat perbelanjaan yang melayani kebutuhan sehari-hari memiliki karakteristik tersendiri. Kehadiran supermarket dan penyedia kebutuhan pokok berpotensi mendukung kunjungan konsumen serta pendapatan sewa yang berulang.
Director Commercial Services Savills Indonesia, Fitri Hilman, mengatakan investor perlu menilai lebih dari sekadar lokasi dan potensi kenaikan harga aset.
"Kualitas dan keberlanjutan bisnis penyewa, kesesuaian tenant mix dengan kebutuhan masyarakat sekitar, tingkat okupansi, serta potensi pertumbuhan pendapatan sewa menjadi faktor penting," ujar Fitri.
Ia menambahkan, properti ritel berbasis komunitas dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi bagi investor Indonesia yang ingin menjajaki pasar Australia, sepanjang didukung fundamental lokasi dan pengelolaan yang baik.
Meski demikian, investasi lintas negara juga memiliki risiko, mulai dari perubahan nilai tukar, biaya pendanaan, pajak, biaya pengelolaan, hingga likuiditas ketika aset dijual.
Karena itu, kenaikan valuasi One Grand Eastlakes perlu dilihat bersama kinerja operasional dan hasil realisasi penjualan untuk menilai keuntungan investasi yang benar-benar diterima investor.




















