Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Evi Mustikawati Arifin. IDN Times/Asrhawi Muin
Pengerahan ribuan kader ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Sulsel menekan angka stunting. Pasalnya, prevalensi stunting di Sulsel masih lebih tinggi dibandingkan angka nasional.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Evi Mustikawati Arifin, menyebut prevalensi stunting berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencapai 23,3 persen. Sementara angka nasional berada di level 19,8 persen.
Artinya, prevalensi stunting di Sulsel masih terpaut 3,5 poin persentase dari angka nasional. Pemprov Sulsel berharap angka tersebut bisa ditekan hingga berada di bawah rata-rata nasional.
"Tentu ke depannya sesuai harapan dengan Bapak Gubernur, bahwa prevalensi untuk stunting di Sulsel kita berharap bisa di bawah dari prevalensi nasional Indonesia,"kata Evi.
Namun, Sudirman tidak menetapkan target kuantitatif penurunan stunting hingga akhir 2026. Dia memilih menitikberatkan keberhasilan program pada perubahan kondisi masyarakat yang menjadi sasaran intervensi.
"Kita tidak menargetkan secara spesifik angka tertentu karena ini masih berdasarkan survei. Namun, kita ingin masyarakat yang menjadi lokus atau sasaran program ini mengalami perubahan," ungkapnya.
Dia berharap anak-anak yang sebelumnya membutuhkan pendampingan bisa keluar dari kondisi tersebut. Menurutnya, penanganan stunting juga harus berlangsung secara berkelanjutan karena persoalan serupa berpotensi kembali muncul jika intervensi tidak berlanjut setiap tahun.
"Jika kita tidak melaksanakannya secara berkelanjutan setiap tahun, masalah serupa akan kembali terjadi pada tahun berikutnya. Karena itu, upaya ini harus terus kita lakukan secara kontinu," tuturnya.