Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WNI Asal Maros Ditemukan Tewas di Armenia, Diduga Dibunuh Rekan Kerja
Seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Valenth Alexie Tamboto (24), ditemukan meninggal dunia di kamar mess perusahaan tempatnya bekerja di Kota Yerevan, Republik Armenia. Dok. Istimewa
  • Seorang WNI asal Maros bernama Valenth Alexie Tamboto ditemukan tewas di kamar mess tempatnya bekerja di Yerevan, Armenia, dengan kondisi tubuh terikat dan diduga dibunuh rekan kerjanya.
  • Keluarga menyebut Valenth sempat ingin pulang ke Indonesia dan menduga kematiannya terkait penolakannya terhadap dugaan penyalahgunaan dana perusahaan tempat ia bekerja.
  • KBRI Armenia bersama kepolisian setempat tengah mengawal penyelidikan kasus ini, sementara keluarga berharap pemulangan jenazah segera dilakukan dan pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Valenth Alexie Tamboto (24), ditemukan meninggal dunia di kamar mess perusahaan tempatnya bekerja di Kota Yerevan, Republik Armenia.

Peristiwa tragis ini terjadi pada Rabu (15/7/2026) dan kini menjadi perhatian setelah kasusnya viral di media sosial. Valenth diduga menjadi korban pembunuhan yang melibatkan rekan kerjanya sesama WNI.

1. Ditemukan di kamar setelah tak kunjung keluar

Ilustrasi jenazah. (IDN Times/Mia Amalia)

Berdasarkan informasi yang diterima pihak keluarga dari rekan kerja korban, Valenth awalnya tidak dapat dihubungi dan tidak terlihat keluar dari kamarnya saat hari libur.

Rekan-rekan kerja yang merasa curiga kemudian membuka kamar korban menggunakan kunci cadangan. Mereka lalu menemukan Valenth dalam kondisi sudah meninggal dunia.

Keluarga mendapat informasi bahwa saat ditemukan, tangan dan kaki korban dalam kondisi terikat lakban. Bagian mulut dan lehernya juga disebut terlilit lakban.

Ibu korban, Ita, mengaku sangat terpukul atas kepergian putra sulungnya itu, apalagi dengan cara tragis. "Saya tidak pernah menyangka anak saya akan pergi secepat ini dengan kondisi seperti ini.Kami sudah meminta bantuan kepada KBRI setempat terkait kepulangan jenazah anak kami," ujar Ita.

Adik korban, Arnold Laurenc Tamboto, mengatakan kakaknya tidak pernah bercerita mengenai masalah di lingkungan tempat kerjanya.

"Dia tidak pernah cerita kalau ada masalah di lingkungan kerjanya. Dia hanya bilang ingin pulang ke Indonesia. Kami berharap pemerintah bisa membantu mempercepat pemulangan jenazah agar keluarga dapat bertemu untuk terakhir kalinya," ujar Arnold.

2. Keluarga sebut korban sempat ingin pulang ke Indonesia

Ilustrasi jenazah (IDN Times/Mardya Shakti)

Valenth diketahui baru sekitar tiga bulan bekerja di Armenia sebagai staf marketing pada sebuah perusahaan konsultan IT. Almarhum merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia juga menjadi salah satu tulang punggung keluarga.

Sebelum kejadian, Valenth disebut sempat menyampaikan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Namun, keluarga mengaku tidak mengetahui adanya persoalan yang dialami korban selama bekerja di Armenia.

Pihak keluarga juga menduga kasus tersebut berkaitan dengan penolakan Valenth untuk terlibat dalam dugaan penyalahgunaan dana perusahaan. Dugaan ini masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari otoritas setempat.

3. KBRI kawal penyelidikan kasus

Ilustrasi jenazah. (IDN Times/Rangga Erfizal)

Kementerian Luar Negeri RI melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Armenia telah mengonfirmasi peristiwa tersebut dan disebut tengah mengawal proses penyelidikan bersama kepolisian setempat.

Dugaan motif pembunuhan juga masih dalam penyelidikan. Berdasarkan informasi dari keluarga dan rekan kerja korban, terdapat dugaan bahwa Valenth mengetahui persoalan terkait dana perusahaan.

Namun, informasi mengenai dugaan rencana penggelapan atau penyalahgunaan dana tersebut belum terkonfirmasi secara resmi. Keluarga berharap seluruh fakta dalam kasus ini dapat segera diungkap oleh otoritas Armenia.

Hingga kini, keluarga masih menunggu informasi terbaru dari KBRI terkait proses hukum dan pemulangan jenazah Valenth ke Indonesia. Di tengah suasana duka, keluarga inti dan kerabat korban masih berkumpul di rumah adik almarhum di Kota Makassar.

Mereka berharap jenazah Valenth dapat segera dipulangkan untuk dimakamkan secara layak.

Keluarga juga meminta agar kasus kematian Valenth diusut secara tuntas dan pihak yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum yang berlaku.

Curated For You

Editorial Team

Related Article