- Mengecek dan membersihkan drainase antisipasi banjir
- Waspada longsor bagi yang tinggal di perbukitan, lereng, dan pegunungan
- Waspada jalan licin dan pandangan terbatas saat berkendara
- Berlindung di tempat aman jika terjadi hujan disertai petir
- Pemangkasan pohon-pohon besar
- Penguatan bagian atap rumah
- Akses informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG
Waspadai Cuaca Ekstrem dan Dampaknya saat Pancaroba

Makassar, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi cuaca ekstrem di masa peralihan (Pancaroba) dari musim kemarau ke musim hujan.
Pada masa peralihan, angin bertiup sangat bervariasi, sehingga menyebabkan kondisi cuaca bisa berubah tiba-tiba. Misalnya dari cerah tiba-tiba hujan maupun sebaliknya. Secara umum pada masa ini, biasanya cuaca di pagi hari cerah, kemudian siang hari mulai tumbuh awan, dan hujan menjelang sore hari atau malam.
1. Potensi cuaca ekstrem dan dampaknya

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, cuaca ekstrem berpotensi besar terjadi selama musim peralihan. " Mulai dari hujan lebat disertai petir dan angin kencang serta hujan es," katanya pada Live Webinar "Kapan Musim Hujan akan Datang?" yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung, Sabtu (28/10/2023).
Dampak cuaca ekstrem pada pancaroba antara lain bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir bandang dan tanah longsor. Selain itu juga berpotensi terjadi kebakaran akibat sambaran petir atau terjadi pohon tumbang.
"Karenanya, kepada masyarakat yang tinggal didaerah perbukitan yang rawan longsor, kami mengimbau untuk waspada dan berhati-hati," kata Dwikorita.
2. Kenali ciri-ciri awan Cumulonimbus pembawa hujan

Salah satu ciri peralihan musim adalah pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB). Awan ini yang memunculkan hujan lebat dan biasanya diserati angin kencang dan kilat/petir.
Ada beberapa ciri-ciri kemunculan awan CB. Biasanya awan tumbuh di saat pagi menjelang siang, bentuknya seperti bunga kol, warnanya keabu-abuan dengan tepian yang jelas. Namun, menjelang sore hari, awan ini akan berubah menjadi gelap yang kemudian dapat menyebabkan hujan, petir dan angin.
3. Siapkan mitigasi bencana hidrometeorologis

Dwikorita meminta masyarakat serta pemerintah dan institusi terkait untuk mengupayakan mitigasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologis selama musim hujan. Terutama di wilayah yang mengalami Sifat Musim Hujan Atas Normal atau lebih basah dibanding biasanya. Wilayah tersebut diprediksi mengalami peningkatan risiko bencana banjir dan tanah longsor.
Selain itu, tambah Dwikorita, Pemerintah Daerah diharapkan dapat lebih optimal dalam mengedukasi masyarakat tentang cara menghadapi risiko bencana yang mungkin terjadi selama musim hujan serta pentingnya memperhatikan peringatan dini.
Ada beberapa langkah yang bisa diupayakan masyarakat, di antaranya:
Upaya mitigasi yang bisa dilakukan stakeholder:
- Merancang mitigasi terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometeorologis selama musim hujan
- Optimalisasi edukasi masyarakat tentang cara menghadapi risiko bencana saat musim hujan
- Edukasi masyarakat pentingnya memperhatikan peringatan dini
- Menjadikan informasi Prakiraan Musim Hujan 2023/2024 BMKG sebagai acuan menyusun rencana Aksi Dini



















