Tak Lagi Soal Minyak, Swasembada Energi Kini Mengarah ke Diversifikasi

Makassar, IDN Times - Gagasan swasembada energi kembali mengemuka dalam diskusi publik bertajuk Swasembada Energi di Era Prabowo, Sekadar Wacana atau Sudah Terencana yang digelar di Kopitiam Hertasning, Makassar, Rabu (11/2/2026). Dalam forum tersebut, Pakar Energi Universitas Hasanuddin, Prof Muhammad Bachtiar Nappu, menekankan perlunya redefinisi makna swasembada energi di Indonesia.
Menurut Bachtiar, swasembada tidak lagi bisa dimaknai semata sebagai kemampuan memproduksi minyak sendiri. Pendekatan lama yang menempatkan minyak sebagai pusat ketahanan energi dinilai tidak lagi relevan dengan kondisi global saat ini.
"Kita memberikan definisi di sini bahwa soal swasembada itu paling pentingnya adalah diversifikasi," kata Bachtiar dalam pemaparannya.
1. Ketergantungan minyak bikin rentan

Bachtiar menjelaskan ketergantungan pada satu komoditas energi membuat suatu negara rentan terhadap gejolak harga dan dinamika geopolitik. Fluktuasi harga minyak dunia, konflik di jalur distribusi global, hingga kebijakan negara produsen dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional.
Hal tersebut menjadi salah satu faktor untuk merespons dinamika dan tantangan pemanasan global yang semakin kompleks. Saat ini, posisi Indonesia masih berada di fase transisi atau di tengah jembatan akibat berbagai keterbatasan yang dihadapi.
Untuk saat ini, langkah yang dapat ditempuh adalah menekan substitusi impor melalui modernisasi sistem pengolahan dan distribusi energi. Namun, modernisasi tersebut tidak serta-merta menghilangkan ketergantungan terhadap impor minyak.
"Minyaknya tetap kita import, tapi dia import bahan-bahan free to play. Jadi nanti itu hanya untuk memurnikan bensin, menjadi naphtha menjadi beda-beda untuk diesel dan seterusnya," katanya.
2. Defisit lebih 800 ribu barel per hari

Dalam konteks Indonesia, konsumsi bahan bakar minyak masih jauh melampaui produksi domestik. Kondisi tersebut memperbesar ketergantungan impor dan memberi tekanan pada neraca perdagangan. Situasi itu memperlihatkan sistem energi nasional belum sepenuhnya tangguh.
Konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari, sementara produksi atau lifting domestik masih di bawah 600 ribu barel per hari. Kondisi tersebut menimbulkan defisit harian lebih dari 800 ribu barel yang harus dipenuhi melalui impor.
"Kita ini defisit. Konsumsi lebih besar daripada produksi. Selisihnya itu harus kita impor," ungkap Bachtiar.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada tingginya impor energi yang menguras devisa negara. Ketergantungan tersebut juga memberi tekanan terhadap neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), terutama saat harga minyak global melonjak.
3. Diversifikasi jadi arah swasembada modern

Menurut Bachtiar, situasi ini memperlihatkan strategi yang bertumpu pada minyak sebagai pilar utama semakin mahal. Ketergantungan tersebut juga dinilai berisiko tinggi terhadap gejolak harga dan dinamika global.
Bachtiar menggambarkan swasembada modern sebagai ketahanan sistem energi secara menyeluruh. Konsep tersebut menempatkan bauran energi sebagai fondasi utama, termasuk optimalisasi energi baru terbarukan dan biofuel berbasis sumber daya domestik.
"Kesimpulannya, tidak boleh lagi terjebak pada ketersediaan minyak semata. Mengandalkan minyak sebagai satu-satunya pilar adalah sebuah kemunduran," kata Bachtiar.


















