Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menghhadiri agenda silaturahmi Syawalan 1447 yang digelar Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di makassar, Sabtu (28/3/2026). (Dok. Muhammadiyah)
Forum tersebut tak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Lebaran, tetapi juga ruang refleksi atas dinamika sosial-keagamaan yang kerap diwarnai perbedaan. Di hadapan ribuan warga Muhammadiyah, Mu’ti membawa pesan kuat tentang pentingnya mengelola keragaman dengan kedewasaan dan adab.
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa perbedaan merupakan ketetapan yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan umat. Ia mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai ruang untuk berlomba dalam kebaikan.
“Muhammadiyah punya manhaj, NU juga punya manhaj, Al Khairat dan organisasi lain punya manhaj, dan itu tidak bisa dihindari. Kalau Allah menghendaki kamu dijadikan umat yang seragam, yang semuanya sama. Tetapi Allah hendak menguji kamu dengan apa yang telah diberikan kepada kamu sekalian. Karena itu jalan keluarnya adalah fastabiqul khairat, berlomba-lombalah kamu untuk menjadi yang terbaik,” ujar Mu’ti.
Ia juga mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif terkait siapa yang paling benar. Menurutnya, perbedaan dalam wilayah ijtihad tetap memiliki nilai di hadapan Tuhan.
“Nggak usah ngotot siapa yang paling benar, nggak usah ngotot siapa yang masuk surga,” kata Mu’ti.
Mu’ti menjelaskan bahwa ikhtilaf atau perbedaan pendapat terbagi dalam beberapa kategori, mulai dari perbedaan alamiah, perbedaan berbasis pemikiran, hingga perbedaan dalam praktik ibadah. Semua itu, kata dia, merupakan hal yang wajar selama tidak menyentuh prinsip dasar agama.