PLTN Modular Dinilai Jadi Solusi Strategis Energi Masa Depan

Makassar, IDN Times - Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) juga menjadi pembahasan dalam diskusi publik "Swasembada Energi di Era Prabowo, Sekadar Wacana atau Sudah Terencana", yang digelar di Kopitiam Hertasning, Makassar, Rabu (11/2/2026). Pakar Energi Universitas Hasanuddin, Prof. Muhammad Bachtiar Nappu, menilai energi nuklir dapat menjadi solusi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di masa mendatang.
Bachtiar menyampaikan dukungannya terhadap langkah pemerintah yang mulai membuka ruang pengembangan energi nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional. Menurutnya, dalam konteks ketahanan energi jangka panjang, nuklir memiliki keunggulan dari sisi stabilitas pasokan dan kapasitas produksi listrik.
"Maka PLTN modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small," kata Bachtiar dalam pemaparannya.
1. SMR dinilai lebih realistis dibanding PLTN konvensional

Bachtiar menjelaskan model yang lebih relevan untuk Indonesia bukanlah PLTN konvensional berkapasitas besar. Menurutnya, reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR) lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi geografis Indonesia.
"Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW," katanya.
Menurut Bachtiar, pendekatan modular memberi ruang pembangunan secara bertahap. Skema ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan sistem kelistrikan nasional.
"Kita tidak harus langsung membangun yang besar. Kita bisa mulai dari skala kecil, kemudian bertahap sesuai kebutuhan daya di daerah," ucapnya.
2. Cocok untuk negara kepulauan dan daerah terpencil

Bachtiar menilai karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat pendekatan SMR lebih relevan. Dengan kapasitas yang lebih kecil dan fleksibel, pembangkit dapat ditempatkan di wilayah yang membutuhkan tambahan daya tanpa harus membangun pembangkit raksasa.
Menurut Bachtiar, pendekatan modular memberi ruang pembangunan secara bertahap. Skema ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan sistem kelistrikan nasional.
Bachtiar menyebut Indonesia memiliki potensi bahan baku nuklir yang cukup besar. Cadangan uranium dan thorium ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Bangka Belitung, Kalimantan, hingga Mamuju.
"Karena itu, teknologi SMR lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional. Reaktor modular ini dapat dibangun bertahap sesuai kebutuhan daerah, terutama untuk memperkuat elektrifikasi wilayah terpencil," katanya.
3. Dinilai bagian dari diversifikasi energi nasional

Sementara itu, Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik M. Kafrawy Saenong menilai pengembangan energi nuklir merupakan bagian dari diversifikasi energi nasional. Kebijakan tersebut perlu didukung tata kelola yang kuat serta keterlibatan berbagai pihak.
Dia menekankan pengembangan nuklir perlu ditempatkan sebagai opsi energi masa depan yang realistis. Langkah ini dinilai dapat memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat.
"Energi nuklir adalah salah satu alternatif yang menjadi pilihan negara kita," kata Kafrawy.
Kafrawy mengingatkan aspek keselamatan harus menjadi fondasi utama dalam setiap tahapan pengembangan PLTN. Dia juga menilai penguatan riset dan pengawasan ilmiah yang ketat menjadi faktor agar energi nuklir mendapat kepercayaan publik serta layak dikembangkan sebagai bagian dari upaya menuju kemandirian energi bersih.
Dia juga mendorong pemerintah menjadikan Kalimantan Barat sebagai lokasi awal pengembangan PLTN. Wilayah tersebut dinilai memiliki potensi uranium yang besar dan dapat menjadi proyek percontohan untuk tahap awal pengembangan energi nuklir di Indonesia.
"Ini bisa menjadi model utama, lalu pengembangan selanjutnya untuk daerah-daerah terpencil. Karena nuklir bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi penyediaan bahan baku juga penting," katanya.
4. Dorong pemerataan listrik dan pertumbuhan ekonomi

Dari sudut pandang ekonomi, Ekonom Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof. Syamsuri Rahim menilai pengembangan energi nuklir dapat mendorong pemerataan elektrifikasi yang efisien dan murah di daerah terpencil. Melalui elektrifikasi ini, kata dia, akan membuka ruang pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang selama ini belum menikmati pasokan listrik memadai.
"Kalau energi sudah bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat, seluruh warga negara, maka ekonomi juga akan tumbuh," kata Syamsuri.
Syamsuri menilai pembangunan PLTN juga harus dibarengi dengan pemetaan kebutuhan energi nasional yang berbasis data agar investasi besar di sektor ini benar-benar efektif dan berkelanjutan. Selain itu, dia mengingatkan agar pemerintah juga mengembangkan energi bersih mengikuti karakteristik daerah masing-masing dan tidak terpaku pada PLTN saja.
"Pemerintah memang harus punya program diversifikasi energi. Karena tidak semua kebutuhan energi bisa dipenuhi hanya dengan energi nuklir. Bisa saja ada beberapa daerah yang tidak sampai (infrastruktur PLTN)," katanya.


















