Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Suasana acara Palestine Cinema Days Around the World di Makassar yang berlangsung di Kampung Buku pada Selasa (3/11/2026) malam. (dok. Tanahindie/Filmlab Palestina)
  • Palestine Cinema Days Around the World digelar di Kampung Buku, Makassar, oleh Filmlab Palestina dan Tanahindie untuk menjaga kepedulian publik serta solidaritas terhadap Palestina.
  • Delapan dokumenter menampilkan kehidupan dan perjuangan warga Palestina, termasuk ketangguhan perempuan Gaza, trauma pengungsi, tradisi mengumpulkan tanaman liar, hingga pembatasan terhadap boikot Israel.
  • Filmlab Palestina memosisikan sinema sebagai medium perlawanan dan perawatan ingatan kolektif; pemutaran gratis ini menyuarakan kisah warga Palestina yang menghadapi krisis kemanusiaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Festival film Palestine Cinema Days Around the World berlangsung di Makassar pada Selasa (3/11/2026) malam. Bertempat di Kampung Buku, kegiatan yang diinisiasi oleh Filmlab Palestina ini bekerja sama dengan kolektif Tanahindie sebagai penyelenggara lokal.

Penanggung jawab acara dari Tanahindie, Habibah Hasniah, menjelaskan bahwa pemutaran film ini menjadi wujud nyata untuk menjaga kepedulian publik terhadap isu kemanusiaan di Palestina.

"Ruang ini kami harapkan bisa menjadi sebuah upaya untuk merawat semangat solidaritas bagi saudara kita di Palestina. Solidaritas itu perlu kita jaga sebagai bentuk perlawanan terhadap genosida," ujar Habibah.

1. Total ada delapan film yang diputar dan semuanya mengangkat kehidupan rakyat Palestina

Suasana acara Palestine Cinema Days Around the World di Makassar yang berlangsung di Kampung Buku pada Selasa (3/11/2026) malam. (dok. Tanahindie/Filmlab Palestina)

Ada delapan judul dokumenter yang mengangkat realitas kehidupan dan perjuangan masyarakat Palestina. Rangkaian ini meliputi serial Gazawyat (Gazawyat Fida, Gazawyat Noor, Gazawyat Hadel, Gazawyat Maha) yang menyoroti ketangguhan para perempuan di Gaza, The Flowers Stand Silently Witnessing (2014) tentang peran gambar sebagai bukti peristiwa sekaligus alat kekerasan, serta Foragers (2022) yang menceritakan tradisi warga Palestina mengumpulkan tanaman liar.

Selain itu, penonton juga disajikan film dokumenter The Dream (1987) yang merekam trauma serta harapan para pengungsi Palestina di Lebanon di tengah kecamuk perang saudara di negara tersebut. Turut pula Boycott (2021) yang mengangkat topik undang-undang di puluhan negara bagian AS yang mengharuskan individu atau perusahaan menandatangani janji untuk tidak memboikot Israel jika ingin bekerja sama atau dikontrak oleh pemerintah.

2. Penonton jadi tahu lebih banyak tentang perjuangan rakyat Palestina sehari-hari

Suasana acara Palestine Cinema Days Around the World di Makassar yang berlangsung di Kampung Buku pada Selasa (3/11/2026) malam. (dok. Tanahindie/Filmlab Palestina)

Aulia, salah satu penonton, mengaku jadi lebih tahu banyak tentang perjuangan rakyat Palestina dari beberapa film dokumenter yang diputar. Salah satunya tentang larangan panen akkoub (Gundelia tournefortii) dan rempah zaatar oleh Israel, padahal dua hal tersebut sudah menjadi budaya rakyat Palestina sejak masa lampau.

"Lalu ada film yang yang bercerita tentang mimpi seolah-olah rakyat Palestina sudah tidak tidak bisa membedakan antara hidup dan mimpi buruk, hampir tidak ada bedanya ketika pembantaian terjadi," cerita karyawan perusahaan swasta tersebut setelah acara.

"Suka banget kegiatannya, recommended," sambung Aulia yang menonton tiga dari delapan judul yang diputar dalam Palestine Cinema Days Around the World di Makassar.

3. Film dokumenter tidak hanya menjadi karya seni, melainkan medium perlawanan dan merawat ingatan

Suasana acara Palestine Cinema Days Around the World di Makassar yang berlangsung di Kampung Buku pada Selasa (3/11/2026) malam. (dok. Tanahindie/Filmlab Palestina)

Bagi Filmlab Palestina, sinema tidak sekadar diposisikan sebagai karya seni semata, melainkan medium perlawanan dan instrumen penting untuk merawat ingatan kolektif global. Kegiatan pemutaran film terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya alias gratis.

Palestine Cinema Days yang telah berlangsung sejak 2023 ini digelar untuk menyuarakan kisah-kisah nyata masyarakat Palestina yang hingga kini masih menghadapi krisis kemanusiaan parah akibat genosida yang dilakukan Israel. Di tengah keterbatasan akses kesehatan, air bersih, pendidikan, hingga sumber penghasilan, warga Palestina terus bertahan di tenda-tenda pengungsian dan ruang darurat penuh keterbatasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article