Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Persahabatan Xanana Gusmao dan B.J. Habibie, Sarat Rasa Hormat

Kota Makassar
Kisah Persahabatan Xanana Gusmao dan B.J. Habibie, Sarat Rasa Hormat
B.J. Habibie, saat menjabat sebagai Menristek, dalam kunjungan ke perusahaan produsen pesawat Fokker di Belanda pada Juli 1987. (Wikimedia Commons/Nationaal Archief)
  • B.J. Habibie memberi referendum 1999 saat Xanana Gusmao masih dipenjara, demi hak menentukan nasib sendiri dan mengakhiri ketidakpastian politik Timor Timur.
  • Referendum menghasilkan 78,5 persen penolakan otonomi khusus, mengakhiri status Timor Timur sebagai provinsi Indonesia; Gusmao menyebut keputusan Habibie sebagai momen sangat emosional.
  • Persahabatan Habibie-Gusmao berkembang menjadi ikatan keluarga. Timor Leste mengabadikan nama Habibie pada jembatan di Dili untuk menghormati jasa serta pesannya tentang pendidikan, sains, dan teknologi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Pemberian gelar kehormatan Doctor Honoris Causa oleh Universitas Hasanuddin kepada politikus sekaligus Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, membuka kembali ingatan pada mendiang B.J. Habibie, politikus-ilmuwan kelahiran Parepare. Presiden ketiga Republik Indonesia tersebut mengizinkan penduduk Timor Timur melakukan referendum pada Agustus 1999.

Referendum adalah penentuan nasib Timor Timur antara menerima otonomi khusus di dalam Indonesia atau merdeka. Hasilnya, sebanyak 78,5 persen menolak otonomi khusus, yang menunjukkan keinginan kuat rakyat untuk berdaulat. Ini pun mengakhiri status Timor Timur sebagai provinsi ke-27 Indonesia yang diintegrasikan sejak 1976.

Dari sinilah dimulai relasi antara pemegang kekuasaan negara dan seorang tahanan politik, Habibie dan Gusmao. Persahabatan keduanya kemudian tumbuh menjadi ikatan kekeluargaan yang erat hingga Habibie mengembuskan napas terakhir pada 11 September 2019.

  1. 1. B.J. Habibie memutuskan memberi referendum pada Timor Timur saat Xanana Gusmao masih dipenjara

    Potret politikus dan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao.
    Potret politikus dan Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao. (dok. Humas Universitas Hasanuddin)

    Dalam buku "Detik-Detik yang Menentukan" (THC Mandiri, 2006), Habibie menjelaskan bahwa pertemuan dengan Uskup Carlos Belo pada 24 Juni 1998 (3 hari setelah Soeharto mundur) menghasilkan keputusan bahwa masalah Timor Timur harus segera diselesaikan. Pemberian hak menentukan nasib sendiri pada 1999 didasari pandangan demokratis dan keharusan mengakhiri ketidakpastian politik internasional.

    Bagi Habibie, mempertahankan Timor Timur dengan pendekatan militer di tengah krisis multidimensi tidak lagi rasional. Ini juga berisiko menjadi beban berkepanjangan bagi Indonesia dalam melangkah menuju era Reformasi.

    Sementara itu, 15 kilometer dari Istana Negara, Xanana Gusmao mendekam dalam Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Ia ditangkap dan diterungku sejak 1992 lantaran perjuangannya memerdekakan Timor Timur. Gusmao bergabung dengan gerakan perlawanan Fretilin pada 1975 sebagai Wakil Sekretaris Informasi sebelum bergerilya di hutan.

    Setelah gugurnya Nicolau Lobato, pemimpin Fretilin, pada 1978, ia mengambil alih kepemimpinan gerakan pada Maret 1981. Gusmao mengonsolidasikan perlawanan lewat Konferensi Marabia 1981 sebagai Panglima Falintil, unit militer milik Fretilin.

  2. 2. Gusmao (kanan) mengaku gembira bukan main saat mendengar kabar referendum diberikan ke Timor Timur

    Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao, saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, pada 24 Februari 2011.
    Perdana Menteri Timor Leste, Xanana Gusmao (kiri), saat bertemu dengan Hillary Clinton (kanan) yang menjabat Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada 24 Februari 2011. (U.S. Department of State)

    Pada pertengahan 1980-an, Gusmao memulai front perjuangan kemerdekaan Timor Leste di bidang diplomasi. Dalam buku "Diplomatic Deceits: Government, Media, and East Timor" (UNSW Press, 2001), dijelaskan bahwa Gusmao mulai membangun reputasi sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan lewat jalur tersebut. Ini kemudian berujung pada ekspos tentang isu Timor Timur ke dunia internasional, terutama melalui media massa.

    Saat mendengar kabar bahwa Habibie akan memberi referendum pada Timor Timur, Gusmao mengaku sangat emosional. Dadanya bahkan terasa sesak oleh kegembiraan yang membuncah.

    "Tahun 1999 saya 'warga negara' Cipinang. Waktu beliau (Habibie) bilang kasih kepada rakyat Timor Leste hak untuk memilih. Mau pecah itu, saya mau pecah. Saya teriak, itu 'security-security' di penjara lihat, 'Ada apa? Ada apa?' Saya sakit di sini. Karena tahun 1983 saya sudah kasih 'peace plan', tapi 16 tahun kemudian, 1999 baru bisa terjadi dan Pak Habibie adalah seorang aktor penentu di situ," kenang Gusmao seperti dilansir Antara.

  3. 3. Sebagai bentuk penghormatan, nama Habibie diabadikan sebagai nama jembatan di ibu kota Timor Leste

    Suasana Jembatan B.J. Habibie yang berada di Dili, ibu kota Timor Leste.
    Suasana Jembatan B.J. Habibie yang berada di Dili, ibu kota Timor Leste, pada 2023. (Bahnfrend, President B. J. Habibie Bridge, 2023, 01, CC BY-SA 4.0)

    Bagi Gusmao, Habibie bukan hanya seorang negarawan ulung, melainkan sosok "kakak" dan "Bapak Teknologi" yang visi pemikirannya terus memandu pembangunan Timor Leste. Sebelum wafat, Habibie menitipkan pesan khusus kepada Gusmao agar bangsa yang baru berdiri tersebut memfokuskan sumber daya pada sektor pendidikan, sains, dan kemajuan teknologi.

    Sebagai bentuk penghormatan abadi atas jasa dan nasihat Habibie, Pemerintah Timor Leste mengabadikan namanya menjadi Jembatan Habibie di Kota Dili, lengkap dengan ukiran simbol sains dan teknologi pada struktur bangunannya.

    "Saya terharu sekali dengan pemikiran kakak saya. Beliau bilang, 'Xanana, menurut saya kalian harus memperhatikan pendidikan dan di zaman sekarang ini lebih memfokuskan pada teknologi dan sains.' Pada Jembatan Habibie di Dili, di situ ada satu simbol teknologi untuk memberitahu bahwa Habibie adalah seorang yang demokratis dan Bapak Teknologi," puji politikus 80 tahun tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More