Kemenhaj Buka Peluang UMKM Sulsel Masuk Rantai Pasok Haji

- Sebanyak 200 UMKM meramaikan Sulsel Expo 2026 di Gowa, ajang Kemenhaj untuk memperluas pasar produk lokal dan membuka akses ke kebutuhan jemaah haji serta umrah.
- Kemenhaj mendorong UMKM Sulsel memenuhi standar kualitas dan kapasitas produksi agar dapat masuk rantai pasok sektor pangan, fesyen, logistik, kesehatan, hingga oleh-oleh haji.
- Pemerintah menargetkan expo menghasilkan kemitraan, transaksi, investasi, dan lapangan kerja melalui kolaborasi lintas sektor serta pemanfaatan aplikasi Hajj & Umrah Store.
Makassar, IDN Times - Sebanyak 200 tenant usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meramaikan Sulsel Expo UMKM dan Ekosistem Haji dan Umrah 2026 di Taman Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada 16–18 Oktober 2026. Kegiatan yang digelar Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) ini menjadi salah satu upaya membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar, termasuk menjadi pemasok kebutuhan jemaah haji dan umrah.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj, Jaenal Effendi, mengatakan Sulawesi Selatan memiliki potensi ekonomi yang perlu dihubungkan dengan jaringan perdagangan dan logistik yang lebih luas. Melalui expo tersebut, pemerintah mendorong produk UMKM lokal agar tidak hanya bertahan di pasar daerah, tetapi juga mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
1. UMKM Sulsel didorong masuk rantai pasok haji

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU), Jaenal Effendi, meninjau Sulsel Expo UMKM dan Ekosistem Haji dan Umrah 2026 di Taman Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat malam (16/10/2026). (Dok. Kemenhaj Sulsel) Jaenal mengatakan, pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah membuka peluang bagi UMKM untuk terlibat dalam berbagai sektor, mulai dari pangan, fesyen muslim, perlengkapan ibadah, transportasi, akomodasi, logistik, kesehatan, jasa keuangan, hingga ekonomi digital.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan ialah penyediaan produk untuk memenuhi kebutuhan jemaah, termasuk oleh-oleh haji. Namun, pelaku usaha perlu memastikan kualitas produk, kapasitas produksi, serta kemampuan memenuhi standar dan ketentuan yang berlaku agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
“Harapan kita, UMKM Sulawesi Selatan bisa menjadi bagian dari rantai pasok kebutuhan jemaah haji. Kita perlu mengidentifikasi produk-produk yang siap dipasarkan dan dikembangkan agar bisa menjangkau mitra penyedia layanan di Arab Saudi, termasuk dua syarikah yang melayani jemaah haji Indonesia,” ujar Jaenal di Gowa, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, potensi ekonomi daerah perlu didukung akses distribusi, jaringan pemasaran, dan kemitraan yang berkelanjutan. Dengan demikian, expo tidak hanya menjadi tempat mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga membuka peluang kerja sama bisnis yang dapat berlanjut setelah kegiatan berakhir.
2. UMKM lokal ditargetkan naik kelas hingga pasar internasional

ilustrasi UMKM (IDN Times/Aditya Pratama) Jaenal menegaskan, keterlibatan dalam pameran perlu diikuti peningkatan kapasitas usaha agar UMKM dapat berkembang dan bersaing. Pelaku usaha didorong bertransformasi dari usaha informal menjadi formal, memperluas jangkauan pemasaran, serta menjadi bagian dari rantai pasok yang lebih besar.
“UMKM harus kita dorong untuk naik kelas. Dari informal menjadi formal, dari lokal menjadi nasional, dari nasional menjadi global, dan dari sekadar pemasok menjadi bagian dari rantai pasok ekosistem haji dan umrah,” tegasnya.
Ia mengatakan, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, penyedia teknologi, serta pelaku UMKM. Pemerintah dapat membuka peluang, dunia usaha memperluas akses pasar, perbankan mendukung pembiayaan, sedangkan teknologi membantu menghubungkan produk dengan konsumen.
Kemenhaj juga mendorong pemanfaatan aplikasi Hajj & Umrah Store sebagai sarana digital untuk memperluas pemasaran produk UMKM. Penggunaan platform tersebut diharapkan membantu produk lokal menjangkau konsumen yang lebih luas dan membuka peluang kemitraan baru.
3. Expo diharapkan hasilkan transaksi dan investasi

Sulsel Expo UMKM dan Ekosistem Haji dan Umrah 2026 di Taman Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Jumat malam (16/10/2026). (Dok. Kemenhaj Sulsel) Jaenal berharap Sulsel Expo UMKM dan Ekosistem Haji dan Umrah 2026 menjadi langkah awal penguatan ekosistem ekonomi haji di kawasan Indonesia Timur. Potensi pelaku usaha daerah perlu diikuti hubungan bisnis konkret agar kegiatan ekonomi yang terbentuk tidak berhenti ketika pameran selesai.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah tidak cukup diukur dari terselenggaranya kegiatan. Dampaknya juga perlu terlihat melalui terbentuknya kemitraan, transaksi, investasi, serta peluang kerja yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Kolaborasi yang kita bangun tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus menghasilkan nilai tambah, transaksi, investasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan,” kata Jaenal.
Ia mengajak pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi untuk membangun ekosistem usaha yang inklusif, terdigitalisasi, dan kompetitif. Dengan dukungan tersebut, produk UMKM Sulawesi Selatan diharapkan semakin mampu bersaing dan mengambil bagian dalam peluang ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan haji dan umrah.


















