Jadi Tradisi Masuk Ramadan, Ini 3 Fakta Madduppa Keteng di Sulsel

- Tradisi madduppa keteng memiliki arti harafiah "menyambut bulan" dan diadakan sebelum ramadan
- Prosesi ini dipimpin oleh sosok pemuka agama atau tetua kampung, dengan membaca surat-surat pendek Alquran dan menyalakan pesse pelleng
- Istilah "madduppa" juga digunakan dalam pernikahan dan acara seremonial lainnya, menunjukkan makna luas dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis-Makassar
Makassar, IDN Times - Bagi masyarakat Bugis-Makassar, bulan suci ramadan disambut dengan penuh sukacita. Salah satu dari beragam tradisi yang masih dijaga adalah madduppa keteng, prosesi yang berinti pada pembacaan doa.
Serupa dengan assuro' macca, tradisi ini juga menjadi cara lain untuk mempererat ikatan silaturahmi dengan sesama anggota keluarga. Nah, berikut ini IDN Times menyajikan tiga fakta menarik di balik tradisi ini, seperti dihimpun dari berbagai sumber.
1. Memiliki arti harafiah "menyambut bulan" sehingga diadakan sebelum ramadan

Secara harafiah, madduppa keteng berasal dari bahasa Bugis. "Madduppa" berarti menjemput atau menyambut, dan "keteng" berarti bulan. Tradisi ini diadakan pada akhir bulan syakban, sesaat sebelum sahur pertama hingga hari ketiga ramadan. Tradisi ini menyerupai acara selamatan, di mana setiap keluarga menyiapkan jamuan makanan lengkap dengan berbagai lauk pauk di rumah.
Keluarga akan mengundang tokoh agama, tetua kampung atau sosok yang ditokohkan untuk memimpin jalannya doa bersama. Kehadiran ritual ini di awal ramadan bertujuan agar seluruh anggota keluarga diberi kekuatan dan perlindungan selama beribadah puasa sebulan penuh.
2. Dipimpin oleh sosok pemuka agama atau tetua kampung

Suprapto dalam buku Dialektika Islam dan Budaya Nusantara (Penerbit Kencana, 2020) menulis bahwa pemimpin madduppa keteng membaca surat-surat pendek Alquran seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas sebelum doa utama dipanjatkan. Beberapa keluarga juga masih menjaga kekhasan tradisi dengan menyalakan pesse pelleng (lampu pelita dari minyak kemiri) agar doa mereka membumbung tinggi dan terkabul.
Selain pembacaan ayat suci, momen ini juga digunakan untuk membimbing seluruh anggota keluarga membaca niat berpuasa bersama-sama. Hal ini dilakukan agar setiap orang, terutama anak-anak yang baru belajar, memahami esensi ibadah puasa yang dijalaninya.
3. Istilah "madduppa" juga digunakan untuk beberapa situasi, termasuk pernikahan

Istilah madduppa ternyata memiliki cakupan makna yang luas dalam kehidupan sosial masyarakat Bugis-Makassar, tidak hanya terbatas pada urusan keagamaan. Budaya "menyambut" ini juga terlihat dalam madduppa botting atau penyambutan mempelai laki-laki dalam pernikahan, hingga ritual madduppa baca sebagai penutup tradisi tujuh hari kematian di daerah Sinjai.
Lebih jauh lagi, madduppa menjadi acara seremonial untuk menyambut pejabat negara melalui pertunjukan seni budaya. Alhasil, maduppa bisa dibilang sebagai salah satu cara penduduk Sulsel untuk memanjatkan doa dalam situasi apapun, baik itu sukacita atau berduka.


















