Tim SAR menggelar operasi pencarian korban KM Nurul Salsa yang tenggelam di perairan Kepulauan Selayar, Kamis (15/7/2026). Dok. Basarnas Makassar
Andi Sultan mengatakan kondisi cuaca masih menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan operasi SAR. Gelombang tinggi di sekitar Kepulauan Sabalana membuat pergerakan personel dan armada harus dilakukan dengan lebih hati-hati.
"Kendala utama yang kami hadapi saat ini adalah kondisi gelombang yang cukup tinggi di sekitar Kepulauan Sabalana. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan operasi karena keselamatan personel tetap menjadi prioritas. Meski demikian, pencarian tetap berjalan dengan melakukan penyesuaian pola operasi di lapangan agar tetap efektif dan aman," jelasnya.
Selain menyisir Kepulauan Sabalana, Tim SAR Gabungan juga memperluas pemantauan ke arah perairan Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah itu diambil berdasarkan analisis arus laut yang menunjukkan adanya potensi objek hanyut bergerak ke wilayah tersebut.
"Berdasarkan analisis data arus laut yang kami gunakan sebagai acuan operasi, terdapat potensi objek hanyut bergerak ke arah perairan Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, pencarian juga akan terus kami laksanakan dan pantau pada jalur perairan yang mengarah ke wilayah NTB dengan berkoordinasi bersama seluruh unsur SAR terkait," tambah Andi Sultan.
Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya nelayan yang beraktivitas di sekitar Kepulauan Sabalana hingga perairan yang berbatasan dengan NTB, agar segera melapor ke Posko SAR apabila menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun benda yang diduga berkaitan dengan KM Nurul Salsa.
Basarnas Makassar menyatakan evaluasi operasi akan dilakukan setiap hari dengan mempertimbangkan perkembangan di lapangan, kondisi cuaca, serta analisis arus laut untuk meningkatkan efektivitas pencarian.