Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Telur Anjlok, Peternak Sulsel Sebut Ayam Overpopulasi 30 Persen

Kota Makassar
Harga Telur Anjlok, Peternak Sulsel Sebut Ayam Overpopulasi 30 Persen
Basuki Suyuti, peternak ayam petelur asal Sulsel, diwawancarai usai Rapat Dengar Pendapat terkait keberlangsungan usaha peternak dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Peternak Sulsel menyebut overpopulasi ayam petelur sekitar 30 persen menyebabkan pasokan telur melampaui daya serap pasar, sehingga harga anjlok; kondisi ini dinilai bukan akibat program Makan Bergizi Gratis.
  • Peternak baru yang belum memiliki pasar tetap disebut menjual telur lebih murah agar produksi terserap, sehingga turut menekan harga dan memengaruhi peternak dengan pasar yang sudah stabil.
  • Peternak meminta pemerintah menyeimbangkan populasi, produksi, dan permintaan serta mengendalikan harga pakan; harga konsentrat kini Rp9.000-Rp9.500 per kilogram, di atas kisaran normal Rp8.000.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Peternak ayam petelur menyebut kelebihan populasi ayam menjadi salah satu penyebab harga telur di Sulawesi Selatan (Sulsel) anjlok. Berdasarkan data rekomendasi yang mereka pegang, tingkat overpopulasi ayam petelur mencapai sekitar 30 persen.

Peternak Sulsel, Basuki Suyuti, mengatakan kondisi tersebut membuat pasokan telur di pasaran melebihi daya serap. Menurutnya, persoalan harga telur saat ini bukan disebabkan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Sebenarnya bukan pengaruh MBG, tapi sekarang itu kita overpopulasi. Overpopulasi ini itu sekitar data rekomendasi sekitar 30 persen," kata Basuki dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait keberlangsungan usaha peternak ayam petelur dan stabilitas pasokan pangan di DPRD Sulsel, Kamis (13/8/2026).

  1. 1. Bukan karena MBG tapi kelebihan suplai

    Ilustrasi program makan bergizi gratis dengan sajian makanan sehat untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat.
    ilustrasi makan bergizi gratis (IDN Times/ Riyanto)

    Basuki mengatakan kelebihan populasi secara langsung berdampak terhadap jumlah produksi telur. Ketika produksi meningkat sementara permintaan tidak bertambah secara signifikan, maka harga telur di tingkat peternak ikut tertekan.

    "Kebetulan MBG ini belum berjalan secara optimal. Jadi bukan faktor MBG. Ini lebih banyak karena kelebihan suplai," katanya.

    Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah. Peternak saat ini tidak hanya menghadapi mahalnya biaya produksi, tetapi juga rendahnya harga jual telur.

  2. 2. Peternak baru disebut jual telur dengan harga rendah

    Potret Basuki Suyuti, penanggung jawab aksi, dalam dokumentasi kegiatan yang direkam media IDN Times.
    Penanggung Jawab Aksi, Basuki Suyuti. IDN Times/Asrhawi Muin

    Basuki juga menyoroti peternak baru yang belum memiliki pasar tetap. Mereka disebut memilih menjual telur dengan harga murah agar seluruh produksinya terserap.

    "Peternak-peternak baru yang belum punya pasar itu dumping harganya ke pasar. Yang penting barangnya yang terjual," katanya.

    Menurut Basuki, praktik tersebut ikut memengaruhi harga telur di pasaran. Peternak yang telah memiliki pasar tetap juga dapat terdampak karena harga menjadi ikut terkoreksi.

    "Sementara untuk peternak-peternak yang sudah punya pasar sendiri harusnya stabil, permintaan sebenarnya," katanya.

  3. 3. Peternak minta harga pakan dikendalikan

    Peternak membagikan ayam dan telur gratis kepada warga dalam Aksi Damai Peternak Rakyat Sulawesi di Makassar.
    Peternak membagikan ayam dan telur gratis kepada masyarakat saat menggelar Aksi Damai Peternak Rakyat Sulawesi di depan Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Senin (10/8/2026). IDN Times/Istimewa

    Basuki menilai persoalan kelebihan populasi perlu ditangani bersamaan dengan persoalan biaya produksi. Pemerintah diminta menjaga keseimbangan antara jumlah populasi ayam, produksi telur, dan daya serap pasar.

    "Jadi untuk antisipasi, paling enggak mungkin dari harga pakan dulu. Sekarang sudah ada jagung pemerintah yang SPHP, tapi itu hanya sebagian kecil," katanya.

    Sebelumnya, peternak ayam petelur mengeluhkan harga konsentrat yang telah mencapai Rp9.000-Rp9.500 per kilogram. Padahal, harga normalnya berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More