Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Sayuran Fluktuatif, Pedagang Pasar di Makassar Sulit Jaga Untung
Suasana jual beli di Pasar Terong, Makassar, Jumat (31/7/2026). IDN Times/Asrhawi Muin
  • Pedagang Pasar Terong Makassar menghadapi kenaikan modal akibat harga kacang tanah, kol, daun bawang, dan wortel yang melonjak dalam waktu singkat.
  • Fluktuasi harga dan rantai distribusi membuat keuntungan pedagang tidak menentu; saat harga tinggi, penjualan menurun hingga modal belanja berisiko tidak kembali sepenuhnya.
  • Berbeda dari komoditas lain, harga tomat anjlok dari sekitar Rp250 ribu menjadi Rp30 ribu per keranjang, tetapi penjualan murah tetap terkendala risiko cepat busuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Makassar, IDN Times - Tekanan inflasi yang dipicu kenaikan biaya produksi dan harga pangan mulai dirasakan pedagang di pasar tradisional. Di Pasar Terong, Makassar, pedagang mengaku harus mengeluarkan modal lebih besar untuk membeli stok dagangan, sementara keuntungan yang diperoleh semakin tidak menentu akibat fluktuasi harga.

Kondisi ini sejalan dengan laporan yang menunjukkan inflasi di Indonesia masih didorong oleh kenaikan harga bahan makanan. Di sisi lain, daya beli masyarakat juga mulai melemah yang tercermin dari kontraksi penjualan ritel, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

1. Harga sejumlah komoditas naik dalam waktu singkat

Kacang tanah jadi komoditas yang mengalami kenaikan harga di Pasar Terong, Makassar, Jumat (31/7/2026).

Pantauan IDN Times di Pasar Terong, Jumat (31/7/2026), aktivitas jual beli tetap berlangsung seperti biasa. Namun, sejumlah pedagang mengaku harus beradaptasi dengan perubahan harga yang terjadi hampir setiap hari.

Salah seorang pedagang sayur, Aziz, mengatakan hampir seluruh harga komoditas yang dijualnya mengalami kenaikan. Menurut dia, salah satu kenaikan paling signifikan terjadi pada kacang tanah.

"Yang paling naik itu kacang tanah, dari Rp30 ribu per kilogram langsung naik jadi Rp41 ribu," kata Aziz.

Aziz menyebut kenaikan tersebut terjadi sejak sehari sebelumnya. Selain kacang tanah, harga berbagai jenis sayuran juga ikut naik karena pasokan dari daerah sentra produksi mengalami kenaikan.

"Sayuran semua dari Malino. Yang paling naik kol dan daun bawang. Daun bawang dari Rp7 ribu naik jadi Rp25 ribu (per kilo), kalau kol dari Rp5 ribu jadi Rp10 ribu per kilo," katanya.

Dia mengaku tidak memiliki cara khusus untuk menyiasati kenaikan harga tersebut. Harga jual mengikuti harga pasar agar tidak merugi.

"Tidak ada. Ikut harga pasar saja," katanya.

Aziz mengatakan sebagian besar pembeli memahami kondisi kenaikan harga sayuran yang terjadi belakangan ini. Karena itu, menurutnya, pembeli tidak banyak memprotes meski harus membayar lebih mahal.

2. Pedagang mengaku keuntungan tidak menentu

Asma, pedagang sayur di Pasar Terong, Makassar, Jumat (31/7/2026). IDN Times/Asrhawi Muin

Pedagang lainnya, Asma (48), juga mengatakan harga sejumlah komoditas mulai naik sejak beberapa hari terakhir. Menurutnya, wortel menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan cukup tajam.

"Kalau wortel sudah sekitar satu minggu naik. Harga per kilogram dari Rp15 ribu jadi Rp20 ribu untuk yang ukuran besar," katanya.

Asma yang telah berjualan selama empat tahun di sana itu mengatakan seluruh pasokan sayuran diperoleh dari Malino. Namun, dia menilai kenaikan harga yang diterima pedagang tidak sepenuhnya berasal dari petani, melainkan dipengaruhi rantai distribusi.

"Kalau dari sananya kayaknya tidak. Kita kan tangan ke tangan, tiga kali lompat baru sampai ke penjual," katanya.

Menurut Asma, harga komoditas di pasar juga sangat tidak menentu. Dalam hitungan hari, harga bisa naik lalu kembali turun sehingga pedagang kesulitan menentukan harga jual.

Dia mengaku sering menerima keluhan dari pembeli ketika harga naik. Di sisi lain, pedagang juga tidak bisa menjual lebih murah karena modal belanja ikut meningkat.

"Petani bingung, kita penjual bingung juga karena kita beli mahal, tapi pembeli maunya murah. Padahal memang sudah dari sananya," katanya.

Kondisi tersebut membuat keuntungan pedagang tidak menentu. Bahkan, dalam beberapa kesempatan modal yang dikeluarkan tidak kembali sepenuhnya karena penjualan menurun saat harga sedang tinggi.

"Kadang modal Rp500 ribu, yang kembali cuma Rp300 ribu. Modal tidak kembali karena pembeli bilang kenapa naik lagi," katanya.

3. Harga tomat justru anjlok

Sayuran yang dijual di Pasar Terong, Makassar, Jumat (31/7/2026).

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, Asma menyebut tomat justru mengalami penurunan harga yang sangat drastis. Harga satu keranjang tomat berisi sekitar 20 kilogram yang sebelumnya mencapai Rp250 ribu kini turun menjadi sekitar Rp30 ribu.

Akibatnya, harga jual di tingkat pedagang ikut turun. Satu kantong plastik ukuran sedang, dibanderol seharga Rp5.000 per kantongnya.

Namun, harga jual yang lebih murah tidak serta merta membuat pembelian tomat meningkat. Memang pembeli lebih banyak, hanya saja penjualan tidak otomatis meningkatkan keuntungan karena tomat merupakan komoditas yang cepat rusak jika tidak segera terjual.

"Turun sekali tomat. Pembeli memang banyak, tapi belinya tidak setiap hari. Kadang dua hari baru datang. Mereka biasanya beli sedikit karena kan kalau terlalu lama disimpan juga cepat busuk," katanya.

Untuk mengurangi risiko kerugian, Asma mengaku terkadang mengurangi jumlah stok ketika modal yang dimiliki tidak mencukupi atau harga sedang tinggi. Namun, upaya itu pun tidak selalu mampu menekan kerugian karena harga bisa berubah sewaktu-waktu.

"Kalau hari ini beli mahal, besok turun, terpaksa dijual murah. Tidak mungkin kita jual lebih mahal sementara pedagang sebelah sudah jua murah," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article