Gambarkan Reformasi Berubah, Anies Baswedan Singgung Konoha

Makassar, IDN Times - Calon Presiden Anies Rasyid Baswedan menilai bahwa keberanian bangsa Indonesia membentuk sistem demokrasi dalam 25 tahun masa Reformasi tiba-tiba mengalami penurunan pada tahun 2023.
Anies Baswedan mengungkapkan pemikirannya saat berbicara dalam acara sarasehan Ikatan Kekeluargaan Alumni (IKA) Universitas Negeri Makassar (UNM) di Hotel Four Points by Sheraton, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu petang (18/11/2023).
"Tahun 1998 kita menyaksikan adanya harapan memberantas nepotisme, kolusi, korupsi itu semangat yang luar biasa. Dan tahun ini, 2023 yang kita rasakan sekarang seakan kita lagi tinggal di (negeri) Konoha, di mana tidak ada keberanian mengucapkan suatu kebenaran," ucap Anies Baswedan.
Menurut Anies, memburuknya kondisi demokrasi di Indonesia tercermin dari kebiasaan warganet atau pengguna media sosial menyebut nama-nama fiktif saat mengkritik pemerintah. Adapun Konoha adalah desa fiktif di serial anime Naruto.
"Bahkan ada ungkapan menggunakan istilah Wakanda, Konoha. Jadi untuk mengatakan keberanian saja harus kita pakai asosiasi-asosiasi. Ini menggambarkan kemunduran, dan angka statistik tunjuk itu," dia melanjutkan.
1. Anies sebut indeks demokrasi, penegakan korupsi, dan kebebasan pers menurun

Pada pemaparannya, Anies mengungkapkan bahwa penelitian Economist Intelligence Unit (EIU) menunjukkan indeks demokrasi menurun pada skor 6,7 di tahun 2022. Indeks disusun dari skala 0 hingga 10, dengan skor 6 sampai 8 berarti demokrasi cacat.
Anies juga menunjukkan data lain bahwa indeks persepsi korupsi menurut Transparency International Corruption menurun menjadi 34 poin dari skala 0 sampai 100, dan indeks kebebasan pers dari World Press Freedom turun menjadi 54 poin dari 100.
"Angka-angka ini semua itu ukuran objektif statistik. Tapi tidak kalah pentingnya adalah rasa yang di masyarakat, karena demokrasi itu pilarnya trust (kepercayaan) dan non-demokrasi pilarnya rasa takut. Bila dalam demokrasi ada rasa takut maka ada yang salah dalam demokrasi kita," ucap Anies.
2. Baru kali ini isu netralitas dan kecurangan muncul jelang pemilu

Anies juga menyentuh mengenai isu netralitas dan kecurangan dalam Pemilu 2024. Menurutnya, baru kali ini publik dihadapkan pada kedua isu tersebut sebelum pemilihan. Hal ini disebabkan karena sebelumnya, isu semacam itu tidak pernah muncul dalam pemilihan atau pilpres sebelumnya.
"Baru kali ini menjelang pemilu kita semua memikirkan soal netralitas dan kecurangan. Artinya apa? Ada bibit ketidakpercayaan kepada institusi. Kenapa itu muncul? Karena kita menyaksikan adanya praktek-praktek yang terjadi," ucapnya.
3. Anies tawarkan wacana perubahan

Anies Baswedan membicarakan tentang negara yang gagal. Ia memberikan perbandingan mengenai negara eksklusif, inklusif, dan ekstraktif.
"Kita berencana bicara perubahan, kita ingin menggeser dari institusi ekstraktif menjadi institusi yang inklusif. Pemerintah sebagai penguasa bergeser menjadi pemerintah yang pelindung, dan pendekatan yang tadi vokal diubah jadi pendekatan kolaboratif, setara, dan memberi kepastian hukum," kata Anies.



















