7 Faktor Psikologis yang Buat Kelas Menengah Sulit Kaya

Pernah bertanya-tanya kenapa banyak orang di kelas menengah yang sulit untuk mencapai status finansial yang lebih tinggi? Sebuah survei pada tahun 2023 oleh LendingClub dan PYMNTS mengungkapkan bahwa hidup dari gaji ke gaji bukan hanya masalah kalangan berpendapatan rendah, tapi juga menimpa 45% orang yang memiliki penghasilan lebih dari $100,000 per tahun.
Memang, faktor ekonomi seperti inflasi berperan. Namun sebenarnya ada faktor psikologis yang sering kali gak disadari dan membuat kelas menengah terjebak dalam lingkaran sulit untuk menjadi kaya.
Kamu mungkin sering melihat teman atau tetangga yang punya barang-barang mewah. Namun tahukah kamu bahwa perilaku tersebut justru seringnya menjadi penghalang bagi mereka untuk mengumpulkan kekayaan jangka panjang? Dikutip dari New Trader U, berikut adalah tujuh faktor psikologis yang sering membuat kelas menengah sulit kaya.
1. Efek mengikuti gaya hidup orang lain

Di era media sosial, kita sering kali tergoda untuk mengikuti gaya hidup orang lain. Ini disebut sebagai The Jones Effect, yaitu dorongan untuk hidup setara atau lebih baik daripada orang di sekitar kita. Teori perbandingan sosial oleh psikolog Leon Festinger menunjukkan bahwa kita cenderung menilai diri sendiri berdasarkan pencapaian orang lain. Ketika melihat orang lain membeli mobil baru atau berlibur mewah, dorongan untuk ikut melakukan hal yang sama bisa sangat besar.
Namun, keputusan ini sering kali berakhir dengan utang kartu kredit atau tabungan yang semakin menipis. Ingatlah, tampilan kekayaan orang lain gak selalu mencerminkan kondisi finansial mereka yang sebenarnya, lho. Bisa jadi, mereka pun berutang demi gaya hidup tersebut.
2. Kebiasaan meningkatkan gaya hidup secara terus-menerus

Sering kali ketika pendapatan meningkat, gaya hidup kita juga ikutan meningkat. Ini yang disebut sebagai ‘lifestyle inflation.’ Awalnya mungkin kamu tinggal di apartemen sederhana, tapi setelah mendapatkan kenaikan gaji, kamu pindah ke apartemen yang lebih mewah. Begitu juga dengan kendaraan atau makanan yang dikonsumsi.
Kebiasaan ini menyebabkan kamu terus merasa perlu untuk mempertahankan standar baru, dan setiap kali ada peningkatan pendapatan, uang itu akan habis untuk memenuhi gaya hidup yang semakin tinggi. Padahal, bila diinvestasikan atau ditabung, uang tersebut bisa membawa dampak besar bagi keuangan jangka panjang.
3. Sulit menunda kepuasan untuk kebutuhan masa depan

Kita hidup di era di mana belanja impulsif hanya tinggal satu klik saja. Penelitian klasik ‘Marshmallow Experiment’ oleh Walter Mischel menunjukkan bahwa orang yang mampu menunda kepuasan cenderung lebih sukses di masa depan. Namun, godaan untuk menikmati sesuatu saat ini sering kali lebih besar daripada menyimpannya untuk masa depan.
Kalau kamu selalu memilih untuk memuaskan keinginan segera daripada menabung, tabungan untuk masa depan akan sulit terkumpul. Sebagai contoh, uang Rp500.000 yang kamu habiskan untuk belanja impulsif sebenarnya bisa tumbuh berkali-kali lipat jika diinvestasikan dengan baik.
4. Kurangnya literasi keuangan

Banyak orang kelas menengah yang merasa sudah cukup paham tentang keuangan, padahal pemahaman mereka sering kali terbatas. Ini dikenal sebagai efek Dunning-Kruger, di mana seseorang yang kurang berpengetahuan merasa lebih pintar dari yang sebenarnya. Tanpa pemahaman tentang bunga majemuk atau diversifikasi, kamu bisa saja terjebak dalam utang berbunga tinggi atau memilih investasi yang merugikan.
Kurangnya literasi keuangan ini menghambat seseorang untuk mengambil keputusan finansial yang bijaksana. Oleh karena itu, penting untuk selalu belajar dan mencari tahu lebih banyak tentang keuangan agar kamu gak sampai terjebak pada keputusan yang salah.
5. Terlalu percaya diri dalam mengelola uang

Overconfidence bias atau terlalu percaya diri juga menjadi masalah bagi banyak orang kelas menengah. Mereka sering merasa lebih mampu dalam mengelola uang daripada yang sebenarnya, sehingga cenderung melakukan keputusan yang berisiko. Misalnya, merasa yakin dapat memprediksi pergerakan pasar saham atau mengambil pinjaman yang terlalu besar.
Padahal, overconfidence justru membuat banyak orang akhirnya merugi karena mengabaikan risiko atau mengambil langkah yang kurang bijak. Lebih baik memiliki pendekatan realistis dan memahami keterbatasan dalam mengelola keuangan agar keputusan yang diambil lebih matang.
6. Menghindari kenyataan finansial

Ada orang yang merasa lebih nyaman menghindari kenyataan finansial daripada menghadapinya. Membiarkan tagihan dan gak membukanya atau gak memeriksa saldo rekening mungkin mengurangi stres sesaat, namun kebiasaan ini justru memperparah masalah keuangan.
Ketika kita menghindari masalah finansial, utang dan bunga terus bertambah tanpa disadari. Oleh karena itu, menghadapi kenyataan finansial, sekecil apa pun langkahnya, dapat membantumu mengendalikan kondisi keuangan sebelum masalah semakin besar.
7. Cara melihat uang yang berbeda-beda

Dalam konsep mental accounting, orang cenderung memperlakukan uang secara berbeda tergantung dari mana uang itu berasal. Misalnya, uang dari bonus atau pengembalian pajak sering kali dianggap sebagai ‘uang lebih’ yang bisa dihabiskan, sementara gaji bulanan diperlakukan lebih ketat.
Padahal, setiap rupiah yang kamu miliki memiliki nilai yang sama. Menggunakan pendekatan yang sama terhadap setiap sumber dana akan membantumu membuat keputusan finansial yang lebih optimal. Ketika kamu melihat semua uang sebagai kesempatan untuk tumbuh, maka mengalokasikannya ke hal-hal yang lebih produktif akan menjadi lebih mudah.
Mengatasi hambatan psikologis ini memang gak gampang, namun dengan kesadaran, kamu bisa mulai mengelola keuangan dengan lebih bijak. Perubahan kecil dalam pola pikir dan kebiasaan akan membuka jalan menuju kestabilan finansial jangka panjang.
Ingat, menjadi kaya bukan hanya soal berapa yang kamu hasilkan, tapi juga bagaimana cara kamu mengelola dan memanfaatkan uang tersebut. Dengan demikian, kamu bisa mencapai kesejahteraan finansial yang lebih baik.


















