Harga Plastik di Makassar Naik 50 Persen, Pedagang Pasrah-Konsumen Marah

- Harga plastik di Makassar melonjak 30–50 persen dalam beberapa minggu terakhir, membuat pelaku UMKM kesulitan menyesuaikan modal dan harga jual produk mereka.
- Pasokan plastik menjadi tidak stabil, bahkan jenis yang sebelumnya jarang laku kini banyak dicari karena stok terbatas dan harga terus naik.
- Konsumen bereaksi beragam terhadap kenaikan harga, namun tetap membeli karena plastik masih dibutuhkan untuk membungkus berbagai jenis makanan.
Makassar, IDN Times – Kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Makassar. Rini, pemilik toko Rodeo Plastik di Jalan Toddopuli, mengatakan harga plastik melonjak antara 30 hingga 50 persen dalam beberapa minggu terakhir.
Lonjakan ini berdampak langsung pada biaya produksi dan distribusi. Kondisi tersebut juga memengaruhi perilaku konsumen.
"Plastik kantongan yang paling cepat naiknya. Yang bening-bening itu. Kalau hitam kan KW, naiknya tipis. Tapi kalau yang bening, itu cepat sekali," kata Rini saat ditemui, Senin (6/4/2026).
1. Harga berubah setiap hari sehingga pedagang kesulitan menyesuaikan

Rini mengatakan, kenaikan harga berbeda setiap hari. Hal ini membuat pelaku usaha kesulitan menyesuaikan modal dan harga jual.
Kenaikan harga plastik mencapai sekitar 30 persen, bahkan ada yang sampai 50 persen. Namun, kenaikan ini lebih terasa pada kebutuhan pengiriman atau barang tertentu, sedangkan plastik ukuran besar yang dibutuhkan setiap hari relatif lebih stabil.
Rini menyebu rata-rata yang yang mengalami kenaikan harga merupakan jenis plastik kebutuhan sehari-hari. Selain itu, diskon paket 30 persen yang biasanya tersedia kini tidak ada, sehingga harga kembali penuh ke modal.
"Jadi kalau hilang kan kembali modal itu. Modal 30 persen itu dikembalikan ke dia. Ke kita. Bukan lagi ke dia lagi. Dan kemarin kan ada diskonnya. Sekarang tidak. Jadi itu kan naiknya 30 persen," jelasnya.
2. Pasokan terbatas dan barang yang jarang laku kini diburu

Rini mengaku pasokan plastik di tokonya saat ini tidak stabil. Stok baru tersedia karena stok lama habis saat bulan Ramadan.
Dia juga mengatakan jenis plastik yang biasanya kurang laku kini justru menjadi banyak dicari konsumen. Beberapa jenis plastik yang sebelumnya mudah diperoleh kini dibatasi jumlahnya.
"Banyak barang kosong. Susah. Sekarang barang-barang yang kurang laku jadi laku. Kita mau apa. Sekarang orang cari yang mana. Ada yang murah. Tidak ada yang murah. Biasa harga murah. Sekarang naik 1.000," katanya.
3. Konsumen kaget hingga marah tapi tetap butuh plastik

Respons konsumen terhadap kenaikan harga bervariasi. Sebagian ada yang mengerti, sebagian lain kaget, bahkan ada yang marah.
"Kalau mau beli silakan. Kita juga dapat seharga ini. Tidak mungkin kita mau harga ini. Kita mau kasih di bawahnya harga. Tidak mungkin kan?," tutur Rini.
Menurutnya, plastik tetap menjadi kebutuhan utama, terutama kantong plastik yang sulit digantikan. Fungsinya masih dibutuhkan untuk membungkus berbagai jenis makanan, termasuk mie dan makanan berkuah.
"Pasti membutuhkan plastik-plastik begitu. Kalau ini kan ada kenaikan," katanya.
4. Pedagang hanya pasrah dan menyesuaikan dengan keadaan

Sumber pasokan Rini berasal dari distributor lokal, yang sebagian besar bekerja sama dengan sales yang terbiasa memasok berbagai jenis plastik. Dia menilai kenaikan harga dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah, meski efeknya tidak selalu langsung terasa di tingkat UMKM.
"Tidak tahu juga konflik perang atau kenapa. Yang kita tahu katanya dari situ. Ini kan seperti video-video kan berita-berita kan pasti kalau orang yang rajin nonton berita kan dia pasti tahu," kata Rini.
Selain itu, Rini mengaku sulit menerapkan strategi tertentu untuk menghadapi kenaikan harga. Dia dan pelaku usaha lainnya hanya bisa menyesuaikan diri dengan kondisi pasar.
"Tidak ada. Kita mau bagaimana? Terima saja. Mau orang bel, silahkan. Mau tidak? Yang penting kita jelaskan. Pasokannya dari mana. Kendala dari mana. Tapi kalau orang yang mau marah-marah buat apa kita jelaskan? Tidak masuk," katanya.

















