Ekspor Sulsel April 2025 Capai US$133,99 Juta, Nikel Jadi Andalan

Makassar, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan mencatat nilai ekspor Sulsel pada April 2025 sebesar US$133,99 juta, mengalami penurunan sebesar 4,84 persen dibanding April 2024. Namun, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya (Maret 2025), ekspor justru meningkat 26,79 persen. Komoditas nikel dan besi-baja masih menjadi penopang utama ekspor provinsi ini.
Secara kumulatif, nilai ekspor Januari–April 2025 mencapai US$507,28 juta, turun 20,73 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor nikel (turun US$39,91 juta atau 12,71 persen) dan besi-baja (turun US$22,85 juta atau 15,85 persen).
Nikel mendominasi komoditas ekspor Sulsel pada April 2025 dengan nilai US$69,99 juta atau 52,24 persen dari total ekspor. Disusul besi dan baja sebesar US$35,98 juta (26,85 persen), serta biji-bijian berminyak sebesar US$12,10 juta. Ekspor garam, belerang, dan kapur juga menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,14 persen (US$6,28 juta).
Namun, beberapa komoditas seperti ikan dan udang mengalami penurunan signifikan sebesar 17,53 persen dibanding Maret, dan anjlok 68,30 persen dibanding April 2024.
Jepang menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sulsel dengan nilai US$73,52 juta atau 54,87 persen dari total ekspor April 2025. Diikuti oleh Tiongkok (US$51,61 juta) dan Taiwan (US$2,41 juta). Tiga negara ini menyerap lebih dari 95 persen ekspor Sulsel. Ekspor ke Filipina melonjak drastis hingga 2.289 persen dari bulan sebelumnya, mencapai US$2,18 juta.
Sebagian besar ekspor Sulsel dikirim melalui Pelabuhan Malili (US$69,99 juta) dan Pelabuhan Makassar (US$57,48 juta), mencakup lebih dari 95 persen total nilai ekspor April. Pelabuhan Makassar bahkan mencatat kenaikan ekspor sebesar 43,64 persen dibanding Maret 2025.
Di sisi lain, nilai impor Sulsel pada April 2025 tercatat US$70,62 juta, naik 6,89 persen dibanding April 2024. Namun secara tahunan (Januari–April), total impor hanya US$249,48 juta, turun tajam sebesar 26,57 persen dibanding tahun lalu.
Komoditas impor terbesar adalah gandum-ganduman (US$22,15 juta), gula dan kembang gula (US$12,98 juta), serta bahan bakar mineral (US$10,63 juta). Impor barang-barang mesin dan elektronik juga meningkat tajam, dengan pertumbuhan hingga 94 persen dibanding April 2024.
Tiongkok menjadi negara asal impor terbesar, disusul Australia dan Thailand. Pelabuhan Makassar menjadi pintu masuk utama barang impor, membongkar 94,07 persen dari total nilai impor.


















