Ilustrasi sawah. (Dok. Kementan)
Kepala Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Kelas I Makassar, Rustan Massinai, mengatakan dukungan Kementerian Pertanian untuk Kabupaten Sidrap pada 2026 mencapai sekitar Rp65 miliar. Dukungan itu mencakup cetak sawah sekitar 606 hektare, optimalisasi lahan 3.120 hektare, pembangunan irigasi pompa sekitar 150 unit, irigasi tersier 38 titik, irigasi pipa 10 titik, serta pembangunan konservasi.
Sidrap juga mendapat dukungan optimalisasi lahan rawa sekitar 3.000 hektare. Rustan mendorong pemerintah daerah terus mengusulkan kebutuhan pengembangan pertanian untuk program tahun berikutnya.
“Silakan diusulkan. Kami siap membantu untuk menambah tahun 2027, baik cetak sawah, Oplah, maupun irigasi pertanian,” katanya.
Dukungan pertanian modern juga terus diperluas di Sulawesi Selatan. Kepala BRMP Sulawesi Selatan Dr. Zainal Abidin menyampaikan program PMAAS pada 2026 ditargetkan mencakup 91.000 hektare yang tersebar di 24 kabupaten/kota.
Khusus Kabupaten Sidrap, alokasi PMAAS ditingkatkan dari target awal 7.000 hektare menjadi 10.000 hektare berdasarkan usulan pemerintah daerah. “Dengan PMAAS ini kita berharap produktivitas bisa mencapai 10 ton per hektare. Kemarin di Desa Majelling kita sudah mendapatkan 11,2 ton per hektare,” jelas Zainal.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengatakan keberhasilan panen di Takalasi merupakan hasil kolaborasi pemerintah, petani, penyuluh, PLN, dan berbagai pihak yang mendukung sektor pertanian. Desa Takalasi sebelumnya menjadi salah satu wilayah yang terdampak kekeringan, namun dukungan sumur bor, Program Listrik Masuk Sawah, bantuan pertanian, dan kerja keras masyarakat membantu mempertahankan produktivitas lahan.
Pemerintah Kabupaten Sidrap juga mendorong perluasan PMAAS di Desa Takalasi hingga sekitar 395 hektare yang mencakup 13 kelompok tani. Selain itu, pemerintah daerah berencana memperkuat infrastruktur listrik untuk mendukung sekitar 120 hektare lahan yang masih membutuhkan peningkatan kapasitas listrik.
Panen raya di Takalasi menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam menjaga produktivitas pangan di tengah tantangan perubahan musim. Peningkatan produktivitas dari sekitar 7 ton menjadi 10,4 ton per hektare juga menjadi gambaran potensi penerapan pertanian modern dalam memperkuat sektor pangan di Sulawesi Selatan.