Dengan Listrik, Sawah di Sidrap Tak Lagi Menunggu Hujan

- Program Listrik Masuk Sawah di Sidrap mengubah cara petani mengairi lahan, menggantikan pompa berbahan bakar gas dengan tenaga listrik yang lebih hemat biaya dan stabil dalam pasokan air.
- Sejak penerapan pompanisasi listrik, produktivitas padi di Duampanua melonjak hingga lebih dari 10 ton per hektare, berkontribusi pada peningkatan produksi padi Sidrap sebesar 27,21 persen pada 2025.
- Kolaborasi pemerintah daerah dan PLN melalui program Electrifying Agriculture menargetkan pemasangan 1.500 titik pompa listrik hingga akhir 2026 untuk memperluas jangkauan irigasi dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Makassar, IDN Times - Di bawah langit yang perlahan berubah jingga, beberapa petani belum beranjak dari tengah sawah di Kelurahan Duampanua, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Lumpur membenamkan setengah betis mereka, sementara tangan-tangan terampil itu satu per satu menancapkan bibit padi ke petakan yang baru diairi.
Irama langkah kaki yang terjebak di lumpur menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Ceblak, ceblak, ceblak.
Petang itu, Senin, 8 Juni 2026, Abdul Rafik berdiri di pematang. Pemuda 26 tahun itu memandang hamparan yang belum benar-benar hijau. Batang-batang padi muda membentuk pola teratur yang di atas tanah-tanah basah.
Di Sidrap, salah satu sentra pangan utama Sulawesi Selatan, pemandangan seperti ini bukan hal baru. Musim tanam selalu menghadirkan kesibukan yang sama dari tahun ke tahun. Namun, jika telinga sedikit dipasang lebih peka, ada sesuatu yang berbeda kali ini.
Bagi petani di wilayah sawah tanah hujan seperti di Duampanua, biasanya musim tanam di luar kalender penghujan identik dengan raungan mesin. Pompa berbahan bakar gas LPG bekerja tanpa henti menarik air dari perut bumi, dengan suara bising bersahut-sahutan yang memekakkan telinga.
Tapi pagi itu, di hamparan sawah Rafik, suasananya sangat sunyi. Dari ujung pipa PVC putih di dekat pematang tempat ia berdiri, air jernih mengalir deras membasahi lahan. Tak ada deru mesin putar, tak ada bau bahan bakar fosil. Itu sudah dirasakan sekitar dua tahun, sejak tiang-tiang PLN dengan kotak meteran prabayar berdiri membelah petak-petak sawah.
Air itu ditarik menggunakan mesin pompa celup yang digerakkan tenaga listrik. Air dimuntahkan dari lubang kedalaman di atas 60 meter, lalu disebarkan ke penjuru lahan tanam dengan bantuan selang. Satu titik sumur bor bisa menjangkau areal persawahan seluas lima hektare.
"Arus listrik lebih stabil. Beda dengan LPG. Dorongan mesinnya fluktuatif, kadang naik kadang turun," kata Rafik, berdiri sejenak untuk meluruskan pinggangnya. "Karena arusnya stabil kalau pakai listrik, debit air tidak berkurang selama proses pemakaian. Bahkan dipakai dua hari dua malam pun bisa."
Bagi petani muda yang sejak bangku sekolah dasar sudah terbiasa membantu orangtuanya di sawah, listrik kini punya arti yang berbeda. Bukan sekadar penerang rumah saat malam hari, melainkan cara baru untuk memangkas biaya produksi yang selama ini membebani petani.
Sebelum jaringan listrik masuk ke areal persawahan pada awal 2024, Rafik sangat bergantung pada pompa berbahan bakar gas. Padi yang baru ditanam butuh diairi sepanjang hari, setidaknya hingga dua bulan pertama. Persoalannya bukan hanya ongkos yang mahal, tetapi juga sulitnya mendapatkan tabung gas ketika musim tanam tiba.
Dulu, untuk menyedot air tanah ke sawahnya, Rafik bisa menghabiskan tiga hingga empat tabung gas Elpiji 3 kilogram dalam sehari semalam. Kelangkaan barang dan fluktuasi harga acap kali jadi tantangan. Apalagi gas itu memang tidak ditujukan untuk pertanian.
“Kalau memakai LPG bisa tembus Rp100 ribu, tergantung kondisi harga dan debit air," ungkap Rafik. Sekarang… untuk satu hari satu malam biaya listrik sekitar Rp40 ribu. Terus terang saja, biaya produksi kami sebagai petani menjadi lebih efektif, bahkan penghematannya bisa tembus 50 persen.”
Perubahan itu bukan hanya terasa di dompet, tetapi juga pada beban kerja para petani. Khaeruddin (32), Ketua Kelompok Tani Laonrumae, masih ingat betul bagaimana beratnya bertani di musim kemarau sebelum listrik masuk ke sawah mereka.
"Kalau dulu harus mencari tabung, memikul mesin ke sawah," Khaeruddin terkekeh getir.
Bukan sekadar lelah fisik, membiarkan aset berharga di tengah sawah pada malam hari adalah pertaruhan besar. "Ada (ancaman kehilangan). Biasanya hilang itu mesin atau tabung," tambahnya.
Ia memandang hamparan lahan seluas 27 hektare yang digarap 31 anggota kelompok tani yang dipimpinnya. Pompa digunakan bergiliran dan dirasakan manfaatnya oleh para petani. “Sekarang tinggal membawa selembar kertas voucher dan menekan tombol. Selesai.”
Dari Deru Mesin ke Senyap Listrik

Perubahan di Duampanua tidak terjadi dalam semalam. Nurul Huda, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Baranti, mengaku sudah memperjuangkan gagasan listrik masuk sawah sejak 2009. Butuh waktu sekitar 15 tahun hingga tiang-tiang listrik akhirnya berdiri di tengah areal persawahan.
"Tantangannya ada pada hubungan antara pemilik sawah dan penggarap," ungkap Huda. "Terkadang penggarap ingin menggunakan listrik masuk sawah, tetapi pemilik sawah belum tentu setuju. Jadi memang perlu banyak mediasi."
Berbagai pertemuan dengan petani, pemilik lahan, pemerintah desa hingga pihak-pihak terkait harus dilakukan berulang kali sebelum program ini benar-benar berjalan. Kini, menurutnya, hasilnya mulai terlihat.
Sebelum menggunakan pompa listrik, produktivitas lahan tadah hujan di Duampanua rata-rata berada di kisaran 5 hingga 7 ton gabah per hektare.
"Sekarang sudah ditargetkan mencapai 10 ton per hektare,” katanya. Tentu hal itu juga didukung hal-hal teknis, seperti pembenahan tanah, penggunaan varietas yang baik, serta pengamatan terhadap hambatan dan penyakit tanaman.
Ketika Produktivitas Ikut Tumbuh

Perubahan yang dirasakan Rafik dan para petani di Duampanua ternyata juga tercermin dalam angka-angka produksi pertanian Sidrap. Di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman el nino yang memengaruhi banyak daerah, Sidrap justru mencatat peningkatan produksi padi yang signifikan.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Sulsel sepanjang 2025 mencapai 5,47 juta ton, naik 13,45 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kabupaten Sidrap menjadi salah satu sentra padi dengan peningkatan produksi paling signifikan di Sulawesi Selatan.
Produksi padi Sidrap pada 2025 tercatat 569.733 ton Gabah Kering Giling (GKG). Jumlah itu meningkat 27,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi Sidrap mencapai 326.933 ton pada 2025, naik 27,21 persen dalam satu tahun. Peningkatan produksi seiring bertambahnya luas panen, yaitu dari 86 ribu hektare di 2024 menjadi 94 ribu hekater di 2025.
Nilai ekonomi hasil panen juga ikut terdongkrak. Dari sekitar Rp2,56 triliun pada 2024, nilainya meningkat menjadi Rp4,62 triliun pada 2025. Selain dipengaruhi kenaikan produksi, peningkatan harga gabah dari rata-rata Rp4.800 menjadi Rp6.800 per kilogram ikut berkontribusi terhadap lonjakan tersebut.
Ibrahim, Kepala Dinas Pertanian Sidrap, menyebut ketersediaan listrik menjadi salah satu faktor penting, terutama saat memasuki musim tanam kedua di pertengahan tahun. Sawah tadah hujan selama bertahun-tahun menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga produktivitas.
"Untuk Kabupaten Sidrap, umumnya dengan metode IP 200 (sistem menanam dua kali setahun di lahan sama), produksinya berada pada kisaran 480 ribu hingga 520 ribu ton. Sekarang... produksinya sudah mencapai sekitar 640 ribu ton," kata Ibrahim.
"Sementara target yang diberikan Bapak Bupati, sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat, adalah mencapai satu juta ton gabah sebagai kontribusi Kabupaten Sidrap bagi Indonesia."
Khusus di Kelurahan Duampanua, hampir semua sawahnya merupakan lahan tadah hujan. Namun kelurahan ini juga yang kini mencatatkan capaian tertinggi di Sidrap, dengan produksi mencapai lebih dari 10 ton per hektare setiap musim tanam. Jumlah itu naik lebih dari 300 persen, dibandingkan sebelum ada pompanisasi listrik dengan produksi sekitar 3 ton per hektare.
“Peningkatannya sangat luar biasa. Kalau pada lahan irigasi teknis saja umumnya berada pada kisaran 7–8 ton per hektare, di sini bisa mencapai lebih dari 10 ton per hektare,” ucap Ibrahim.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti angka di atas kertas. Namun di Sidrap, sejumlah data menunjukkan perubahan yang memang sedang berlangsung.
Ledakan produktivitas ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Sidrap mencapai 7,71 persen pada 2025, jadi yang tertinggi di Sulawesi Selatan. Sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi daerah dengan kontribusi lebih dari 30,21 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, menempatkan isu ketahanan pangan sebagai kerja panjang yang tidak cukup hanya berhenti pada angka produksi. Sebagai salah satu lumbung beras utama di Sulsel dan Indonesia Timur, ia menekankan perlunya lompatan agar sektor pertanian di daerahnya tidak jalan di tempat. Menurutnya, dorongan menuju swasembada pangan harus dijawab dengan perubahan nyata di lapangan.
“Menangkap arahan Presiden dan Menteri Pertanian soal swasembada pangan, kami langsung melakukan transformasi untuk meningkatkan produktivitas entah itu padi, jagung, dan semua sektor pangan,” Syaharuddin menjelaskan.
Transformasi tidak hanya sebatas perluasan lahan atau peningkatan hasil panen, tetapi menyentuh cara kerja petani dan ekosistem pendukungnya. Mulai dari penguatan etos kerja, modernisasi alat dan mesin pertanian, pengelolaan air, distribusi pupuk, pemanfaatan teknologi, percepatan panen, hingga dorongan hilirisasi dan perluasan pasar.
Salah satu yang kini mulai dijalankan adalah program Listrik Masuk Sawah, yang menyasar sekitar 18 ribu hektare lahan tadah hujan se-Sidrap. Selama ini, lahan tersebut hanya bisa ditanami sekali dalam setahun karena keterbatasan air.
Melalui program itu, pemerintah daerah berupaya menekan biaya operasional sekaligus memastikan ketersediaan air lebih stabil bagi petani. Di sisi lain, program ini juga mulai memberi dampak pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Listrik Masuk Sawah juga mendorong indeks pertanaman menjadi IP300 (tiga kali tanam setahun) sehingga produktivitas makin bertambah,” tutur Syaharuddin.
Menyalakan Jalan Menuju Satu Juta Ton

Target Sidrap menembus produksi satu juta ton gabah sangat bergantung pada bagaimana teknologi benar-benar sampai ke tangan petani. Di sinilah PT PLN (Persero) mengambil peran yang lebih luas dari sekadar penyedia listrik rumah tangga.
Melalui program Electrifying Agriculture (EA), PLN mulai menyasar sektor-sektor produktif, termasuk pertanian. Dengan menyediakan akses listrik, PLN membantu para petani meningkatkan produktivitas dan mengurangi pengeluaran. Menggeser ketergantungan atas peralatan konvensional seperti diesel atau gas ke peralatan berbasis energi listrik yang efisien.
Hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 4.280 pelanggan di wilayah kerja PLN UID Sulselrabar telah memanfaatkan program ini. Total daya terpasang mencapai 206.312 kVA.
"PLN tidak hanya menghadirkan listrik sebagai kebutuhan dasar saja, tetapi juga sebagai energi penggerak produktivitas," ujar General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulselrabar, Edyansyah. "Melalui Program Electrifying Agriculture, kami ingin membantu petani dan peternak meningkatkan hasil produksi, dengan menghemat biaya operasional."
Di tingkat pelaksanaan, pekerjaan itu dijalankan oleh PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Parepare yang wilayah kerjanya mencakup Sidrap.
Manager PLN UP3 Parepare, Muhammad Akbar, mengatakan pihaknya mendapat target untuk memasang 1.500 titik pompanisasi elektrik di persawahan Sidrap hingga akhir 2026. Sejauh ini realisasinya baru 20 persen.
“Pompanisasi, yaitu mengubah atau mengonversi pompa yang sebelumnya menggunakan bahan bakar gas menjadi pompa yang menggunakan tenaga listrik,” katanya.
Skema dirancang agar lebih efisien. Satu sambungan listrik berkekuatan 3.500 VA dapat dimanfaatkan bersama oleh tiga kelompok tani untuk mengoperasikan tiga pompa sekaligus, sehingga mampu mengairi sekitar 15 hektare lahan.
"Pemasangannya kita bagi tiga prioritas. Pertama yang bisa disambung langsung tanpa perluasan. Kedua, dengan menarik Jaringan Tegangan Rendah (JTR). Ketiga, bagi area yang sangat pelosok, kita bangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) beserta penambahan trafo," jelas Akbar.
Di Kelurahan Duampanua sendiri, sebanyak 11 titik pompa listrik telah beroperasi sejak April 2026. Keberadaan pompa secara bertahap mengamankan pasokan air bagi sekitar 700 hektare lahan pertanian di wilayah itu.
Cerita tentang listrik di sawah sesungguhnya kembali bermuara pada kehidupan sehari-hari para petani. Bagi Abdul Rafik, angka-angka itu mungkin penting. Namun, ukuran keberhasilan yang paling dekat dengannya jauh lebih sederhana.
Apakah biaya bertani bisa lebih ringan? Dan apakah ada lebih banyak yang bisa dibawa pulang untuk keluarga?
Matahari perlahan merangkak ke barat. Semburat jingga mulai memantul dari permukaan lumpur yang sejak pagi diinjak-injak para petani. Rafik berjalan menyusuri pematang, mendekati pipa PVC yang terus mengalirkan air ke petakan sawahnya.
Saya bertanya kepadanya, ke mana perginya selisih biaya yang dulu habis untuk membeli gas. Rafik tersenyum kecil. Ia membasuh kedua telapak tangannya yang di bawah aliran air yang dingin. Senyumnya merekah tipis, tatapnnya menerawang jauh ke hamparan sawahnya yang basah.
"Selisihnya yang lumayan bisa dipakai beli pupuk, racun, dan keperluan pribadi," jawab Rafik dengan nada sarat kelegaan. "Pokoknya ada banyak yang bisa untuk keperluan di rumah juga."
Listrik bukan satu-satunya jawaban atas semua persoalan pertanian. Harga pupuk yang tak menentu, perubahan iklim, hingga ancaman gagal panen tetap menjadi tantangan yang harus mereka hadapi.
Namun setidaknya, bagi Rafik dan banyak petani lain di Sidrap, hadirnya listrik telah mengurangi satu beban yang selama ini mereka pikul sendiri. Para petani menemukan sedikit ruang untuk bernapas lebih lega.




![[BREAKING] Kejati Sulsel Geledah Kantor Disdik soal Dugaan Korupsi Smart Library](https://image.idntimes.com/post/20260617/upload_a5b83f58efba52215d7944f6d280377c_ac56fa83-c2f2-4d90-90c1-8afb48df5f26_watermarked_idntimes-1.jpeg)













