Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Serupa tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Popcorn dan Benno Bugis

Kota Makassar
Serupa tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Popcorn dan Benno Bugis
Benno, salah satu camilan olahan jagung tradisional milik masyarakat Bugis. (youtube.com/Akmal Indah)
Intinya Sih
  • Benno Bugis memakai jagung lokal kering yang disangrai tanpa minyak dalam kuali tanah liat, kadang menggunakan pasir panas; popcorn memakai jagung berondong khusus dengan minyak atau mentega.
  • Popcorn mekar besar, putih, dan empuk, sedangkan benno lebih kecil, padat, berwarna keemasan, dengan sensasi jagung sangrai. Benno umumnya polos, bergaram, berkelapa sangrai, atau gula merah.
  • Benno memiliki peran simbolis dalam ritual Bugis, termasuk mappacci dan mappamula, sebagai doa agar kehidupan serta rumah tangga pengantin tumbuh, berkembang, dan makmur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Saat mendengar kata popcorn, bayangan kita pasti langsung tertuju pada camilan jagung berbalut karamel atau mentega yang biasa dinikmati di bioskop. Namun, jauh sebelum jagung olahan modern itu populer, masyarakat Bugis sudah memiliki camilan olahan jagung serupa yang dinamakan benno (atau "lappo" di lidah Makassar).

Meski sama-sama berbahan dasar jagung yang dipanaskan hingga meletup, benno memiliki keunikan tradisi dan cita rasa yang membedakannya dari versinya yang kekinian. Berikut adalah empat perbedaan utama antara benno dan popcorn modern!

1. Pengolahan benno masih dilakukan secara tradisional

Biji jagung varietas Zea mays everta yang biasa digunakan untuk popcorn.
Biji jagung varietas Zea mays everta yang biasa digunakan untuk popcorn. (ZahidCid, Zea mays everta, CC BY-SA 4.0)

Perbedaan paling mendasar terletak pada jenis bahan baku serta teknik pengolahannya. Popcorn modern umumnya menggunakan varietas khusus yakni jagung berondong (Zea mays everta) yang dimasak dengan minyak atau mentega menggunakan mesin pemanas.

Sementara itu, benno memanfaatkan biji jagung lokal yang dikeringkan, lalu diolah dengan teknik sangrai tradisional tanpa minyak menggunakan kuali tanah liat. Bahkan, masih ada yang kerap memanfaatkan pasir bersih yang dipanaskan di atas wajan sebagai media perantara panas agar biji jagung meletup matang secara merata.

2. Perbedaan mendasar ada pada tekstur popcorn dan benno

ilustrasi camilan popcorn, berondong jagung
ilustrasi camilan popcorn, berondong jagung (unsplash.com/Georgia Vagim)

Perbedaan teknik dan bahan baku tersebut menghasilkan karakteristik fisik sangat berbeda pada kedua camilan ini. Popcorn modern memiliki hasil letupan yang mekar besar, memutih sempurna, dan bertekstur empuk saat digigit.

Sebaliknya, benno menghasilkan bentuk letupan yang lebih padat dan berukuran lebih kecil dengan warna keemasan alami. Tekstur benno cenderung lebih empuk padat dengan sensasi khas jagung sangrai. Ini memberikan pengalaman mengunyah yang unik.

3. Benno lebih sering disajikan tanpa perisa buatan

Benno, salah satu camilan olahan jagung tradisional milik masyarakat Bugis.
Benno, salah satu camilan olahan jagung tradisional milik masyarakat Bugis. (tokopedia.com)

Popcorn modern identik dengan aneka perisa buatan seperti karamel, keju, atau mentega gurih. Benno justru tetap setia mempertahankan cita rasa alami jagung yang manis gurih dan otentik.

Selain disajikan polos, benno tradisional juga sering disajikan dengan tambahan taburan garam. Biasa juga dengan parutan kelapa sangrai, atau disiram lelehan gula merah cair yang kerap dikenal oleh masyarakat lokal dengan sebutan benno kaluku.

4. Benno memiliki makna mendalam dalam budaya Bugis

ilustrasi epos I La Galigo dalam format pertunjukan teater
ilustrasi epos I La Galigo dalam format pertunjukan teater (dok. Djarum Foundation)

Baik popcorn dan benno sama-sama bisa dinikmati saat bersantai. Namun, jika ditilik lebih jauh, benno memiliki peranan simbolis dalam kebudayaan Bugis, terutama pada ritual sakral sebelum pernikahan seperti mappacci (prosesi penyucian diri sebelum pernikahan) dan mappamula.

Dalam prosesi ini, benno diletakkan di dalam wadah berdampingan dengan daun pacar (pacci) dan susunan daun-daun ritual lainnya. Proses meletupnya biji benno hingga mekar mengisyaratkan doa dan harapan agar kehidupan serta rumah tangga pasangan pengantin baru dapat terus tumbuh, berkembang, dan dilimpahi kemakmuran layaknya biji yang mengembang indah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Editorial Team

Related Articles

See More