Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Di Sekolah Rakyat, Naila Membangun Harapan Wujudkan Mimpi
Rumah keluarga Naila, penerima beasiswa Sekolah Rakyat di Makassar, Kamis (8/5/2025). IDN Times/Ashrawi Muin
  • Naila, anak buruh bangunan di Makassar, terpilih menjadi siswa Sekolah Rakyat—program berasrama Presiden Prabowo yang memberi akses pendidikan gratis bagi keluarga miskin ekstrem.
  • Kementerian Sosial menyerahkan rumah layak huni kepada keluarga Naila sebagai bagian dari program pengentasan kemiskinan kolaboratif antara pemerintah pusat dan daerah.
  • Melalui pendampingan guru dan lingkungan asrama SRMP 23 Makassar, Naila berubah dari anak pemalu menjadi percaya diri, aktif berorganisasi, dan tampil di Istana Merdeka mewakili sekolahnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Di sebuah rumah panggung sederhana di Jalan Pandang 4, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Naila duduk menyimpan harapan yang selama ini terasa jauh dari jangkauan keluarganya. Anak buruh bangunan itu tumbuh di rumah berdinding seng berkarat, beratap tambal sulam, dan berlantaikan kayu yang mulai lapuk. Namun dari rumah itulah jalan hidupnya mulai berubah.

Pada Mei 2025, Naila (13), siswi kelas 6 SD Panyikkokang Toddopuli III, mendapat kabar yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia terpilih menjadi calon peserta didik Sekolah Rakyat, program pendidikan berasrama yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

"Senang dan terharu bisa sekolah di Sekolah Rakyat."

Begitu kata Naila saat ditemui di rumahnya, Rabu 7 Mei 2025.

Ia mengaku awalnya tidak percaya ketika tim Kementerian Sosial datang ke rumah dan menyampaikan kabar tersebut. Selama ini, kehidupan keluarganya jauh dari kata berkecukupan. Ayahnya, Syamsul, bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tidak menentu, sementara keluarga mereka tinggal menumpang di lahan milik orang lain.

"Saya tidak menyangka bisa terpilih," ujar Naila. Di tengah keterbatasan itu, ia tetap menyimpan cita-cita sederhana namun mulia.

"Cita-cita saya mau jadi guru agar bisa mengajar juga."

Pendidikan Sebagai Jalan Keluar dari Kemiskinan

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, mengunjungi kediaman keluarga Naila, penerima beasiswa Sekolah Rakyat di Makassar, Kamis (8/5/2025). IDN Times/Ashrawi Muin

Kisah Naila menjadi gambaran nyata kelompok masyarakat yang oleh Presiden Prabowo disebut sebagai the invisible people atau mereka yang selama ini luput dari perhatian pembangunan.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, mengatakan Sekolah Rakyat lahir untuk memastikan anak-anak dari keluarga paling miskin tetap memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan.

"Presiden mengajak kita untuk menoleh kepada mereka yang belum terbawa dalam proses pembangunan. Mereka yang belum beruntung yang oleh presiden disebut sebagai the invisible people. Orang yang penderitaannya tidak nampak," kata Saifullah Yusuf. Menurut pria yang akrab disapa Gus Ipul itu, banyak keluarga miskin yang tidak mampu mengakses pendidikan berkualitas karena keterbatasan ekonomi. Karena itu, Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama yang seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, mulai dari pendidikan, tempat tinggal, makanan, hingga perlengkapan sekolah.

"Maka salah satu langkah strategisnya presiden adalah mendirikan yang disebut dengan Sekolah Rakyat untuk keluarga paling tidak mampu," ujarnya. Ia menegaskan, program tersebut menyasar keluarga yang masuk kategori miskin ekstrem berdasarkan data pemerintah. Kebijakan itu juga menjadi implementasi amanat Pasal 34 UUD 1945 yang menyatakan fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Tak Hanya Sekolah, Negara Hadir Lewat Rumah Layak Huni

Deretan rumah knockdown di Jalan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar terlihat rapi dan tertata, Jumat (5/9/2025). (IDN Times/Asrhawi Muin)

Perjalanan Naila tidak berhenti pada akses pendidikan. Beberapa bulan setelah kisahnya menjadi perhatian publik, keluarganya kembali mendapat kabar baik.

Pada September 2025, Kementerian Sosial meresmikan 20 unit rumah knockdown di Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. Salah satu rumah tersebut diserahkan kepada keluarga Naila.

Rumah baru itu berdiri di kawasan yang telah dilengkapi fasilitas dasar seperti listrik, air bersih, drainase, dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, hingga perabotan sederhana. Bagi Naila dan keluarganya, hunian tersebut menjadi awal kehidupan yang lebih layak setelah bertahun-tahun tinggal di rumah yang nyaris tak memenuhi standar keselamatan.

Penyerahan rumah dilakukan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin.

Saifullah Yusuf menilai program hunian itu merupakan bagian dari upaya percepatan pengentasan kemiskinan yang dilakukan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah.

"Apa yang kami lakukan tentu sebagai bagian dari tindak lanjut apa yang telah diputuskan oleh bapak Presiden baik menyangkut visi misi maupun program skala prioritas, "katanya. Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak lahir dari kerja satu institusi saja.

"Ini bukan kerja Kementerian Sosial sendiri, bukan kerja pak gubernur sendiri, bukan kerja pak wali kota sendiri, tapi ini adalah kerja bersama," ujar Gus Ipul.

Membangun Masa Depan Wong Cilik

Naila (13), siswi kelas 6 SD Panyikkokang Toddopuli III di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (7/5/2025). IDN Times/Darsil Yahya

Bagi Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, perubahan yang dialami Naila menjadi simbol bagaimana intervensi negara dapat mengubah masa depan keluarga miskin.

Ia mengatakan seluruh proses pembangunan kawasan hunian di Untia bermula dari kisah Naila yang viral dan membuka mata banyak pihak terhadap kondisi warga miskin yang membutuhkan perhatian.

"Insyaallah Naila tidak datang sendirian ke sini, tapi Naila juga mengajak tetangga-tetangga yang ada di rumah sebelumnya dianggap tidak layak menjadi rumah yang Alhamdulillah kita lihat sangat layak untuk ditempati," kata Munafri. Menurut dia, konsep yang dibangun bukan hanya relokasi warga ke rumah baru, tetapi juga menghadirkan pemberdayaan ekonomi agar masyarakat memiliki kesempatan memperbaiki taraf hidupnya.

"Kita menghadirkan lokasi ini dengan tujuan ada pemberdayaan selain relokasi, rumah tinggal yang belum standar dan juga ada unsur pemberdayaan yang ada di dalamnya, " tambahnya.

Komitmen serupa disampaikan Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman. Ia menyatakan kesiapan pemerintah provinsi menyediakan lahan tambahan agar program rumah layak huni dan Sekolah Rakyat dapat menjangkau lebih banyak keluarga miskin.

"Kita membangun rumah untuk Naila dan keluarga serta seluruh tetangga. Mudah-mudahan ini awal untuk rumah-rumah yang lebih banyak lagi," kata Andi Sudirman.

Sekolah Rakyat: Bukan Sekadar Institusi Pendidikan

Kepala SRMP 23 Makassar, Radiah. (Dok.IDN Times/ Darsil Yahya)

Bagi Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 23 Makassar, Radiah, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi pendidikan. Sekolah ini adalah jalan untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas dan gratis, sebagaimana dicita-citakan Presiden Prabowo Subianto.

Di SRMP 23 Makassar, pendidikan bukan hanya tentang pelajaran di ruang kelas. Pendidikan adalah tentang menyalakan harapan, membangun kepercayaan diri, dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari sebuah mimpi.

"Ini adalah upaya memberikan akses layanan pendidikan yang berkualitas dan gratis bagi anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan," ujar Radiah saat ditemui IDN Times di SRMP 23 Makassar Jl Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (23/6/2026).

Perjalanan Radiah sendiri tidak dimulai dari kursi kepala sekolah. Sebelumnya, ia merupakan guru di SMP Negeri 11 Makassar. Ketika dipercaya memimpin SRMP 23 Makassar, ia dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Mayoritas siswa yang datang berasal dari keluarga prasejahtera.

Banyak di antara mereka tumbuh dalam lingkungan yang kurang mendukung pendidikan. Motivasi belajar rendah, rasa percaya diri minim, bahkan sebagian anak kesulitan beradaptasi dengan aturan sekolah dan kehidupan berasrama. Namun di balik tantangan itu, Radiah menemukan kebahagiaan tersendiri.

"Saat melihat anak-anak mulai percaya diri, mulai berani bertanya, mulai memiliki semangat belajar, itu adalah kebahagiaan yang luar biasa," katanya. Menurutnya, keberhasilan di Sekolah Rakyat tidak semata diukur dari nilai akademik. Yang lebih penting adalah perubahan karakter.

Bagi Radiah, seorang siswa dianggap berhasil ketika ia mampu mandiri, disiplin, berani menyampaikan pendapat, serta memiliki rasa percaya diri yang sebelumnya tidak dimiliki.

"Kami membangun karakter terlebih dahulu. Akademik penting, tetapi karakter yang kuat akan menjadi fondasi bagi masa depan mereka," ujarnya. Konsep pendidikan di Sekolah Rakyat memang berbeda dengan sekolah reguler pada umumnya. Selain mengikuti pembelajaran di kelas, para siswa juga tinggal di asrama dengan sistem boarding school.

Setelah kegiatan belajar selesai, mereka masih mengikuti berbagai aktivitas pembentukan karakter seperti refleksi malam, dinamika kelompok, pembiasaan ibadah, hingga kegiatan gotong royong. Setiap hari dimulai sejak pukul 04.00 Wita untuk persiapan salat Subuh berjamaah. Kebiasaan disiplin, tanggung jawab, dan kebersamaan terus ditanamkan dari bangun tidur hingga kembali beristirahat.

Meski demikian, proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Saat pertama kali masuk asrama, banyak siswa mengalami kesulitan beradaptasi. Sebagian besar belum terbiasa hidup dengan aturan yang ketat. Ada yang rindu rumah, ada yang belum mampu mengatur waktu, bahkan ada yang terbiasa hidup tanpa perhatian yang cukup dari lingkungan keluarganya. Karena itu, pendekatan yang digunakan bukanlah pendekatan keras.

"Kami mengutamakan empati dan pendekatan humanis. Anak-anak ini sudah banyak mengalami tekanan dalam hidup mereka. Jadi yang mereka butuhkan adalah dukungan dan kasih sayang," kata Radiah. Dari ratusan siswa yang dibina, salah satu nama yang paling membekas di hatinya adalah Naila.

"Bagi kami, Sekolah Rakyat memungkinkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Naila adalah buktinya," tutur Radiah. Sepuluh tahun ke depan, ia berharap dapat melihat para siswa Sekolah Rakyat tumbuh menjadi pribadi yang sukses, mandiri, dan membanggakan keluarga mereka.

"Semoga mereka menjadi orang-orang yang berhasil, yang mampu memberikan solusi di mana pun mereka berada, dan menjadi kebanggaan bagi keluarganya," harapnya.

Mengajar di Sekolah yang Membangun Harapan, Bukan Sekadar Nilai

Reski Amelia (24) guru Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) SRMP 23 Makassar. (Dok.IDN Times/Darsil Yahya)

Sementara itu, di ruang-ruang kelas Sekolah Rakyat, pendidikan tidak hanya berlangsung sebagai proses transfer ilmu. Ia tumbuh sebagai perjalanan emosional antara guru dan murid yang sama-sama sedang belajar tentang kehidupan. Hal itu diungkapkan Reski Amelia (24), guru Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) SRMP 23 Makassar.

Menurutnya, mengajar di Sekolah Rakyat bukan sekadar pilihan karier. Ini adalah keputusan yang lahir dari keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar yang layak, tanpa syarat apa pun.

"Semua siswa berhak dapat kesempatan belajar yang layak tanpa syarat. Saya memilih berada di tempat yang paling membutuhkan, bukan di zona nyaman," ujarnya kepada IDN Times. Namun, seiring waktu, alasan itu berubah bentuk. Bukan lagi sekadar tentang memberi, tetapi juga menerima. Di Sekolah Rakyat, ia justru belajar dari murid-muridnya tentang arti kesabaran, syukur, dan harapan yang tidak mudah padam meski hidup berjalan dalam keterbatasan.

"Sekarang saya merasa bukan hanya mengajar, tapi siswa di sini juga mengajari saya arti sabar dan syukur," katanya. Salah satu momen yang mengubah cara pandangnya terjadi di luar ruang kelas. Seorang siswa yang biasanya disiplin tiba-tiba enggan masuk kelas. Ia hanya duduk diam di bawah pohon. Ketika didekati, jawabannya sederhana: ayahnya sedang sakit.

Dari situ, Reski memahami bahwa kedisiplinan bukan sekadar soal tepat waktu atau aturan kelas. Ada beban-beban kehidupan yang tidak terlihat, yang ikut berjalan bersama langkah seorang anak menuju sekolah.

"Disiplin itu bukan hanya tentang tepat waktu, tapi tentang keberanian melawan beban yang kita hadapi," ujarnya. Pengalaman lain yang tak kalah membekas datang dari seorang siswa laki-laki berusia 15 tahun. Usia yang seharusnya masih duduk di bangku SMP, namun ia datang dengan cerita yang jauh lebih dewasa dari usianya. Sempat tidak sekolah selama dua tahun, ia bekerja membantu ekonomi keluarga mulai dari menjadi kuli bangunan hingga berjualan kue.

Namun yang paling mengesankan bukan hanya latar belakangnya, melainkan caranya tetap tersenyum.

"Dia ceria setiap hari, bahkan sangat ceria. Tapi di balik itu, ternyata dia memikul beban hidup yang sangat berat," ucap Reski sambil menahan tangis. Dari anak itu, ia belajar bahwa ketangguhan tidak selalu terlihat dalam kesedihan. Terkadang, ia hadir dalam bentuk senyum yang tetap dipertahankan meski hidup tidak mudah.

Namun di balik cerita-cerita inspiratif itu, ada pula sisi lain yang tidak terlihat oleh banyak orang. Bagi Reski, tantangan terbesar bukanlah menyusun rencana pembelajaran atau mengoreksi tugas. Melainkan membawa pulang cerita-cerita murid yang penuh beban kehidupan.

"Yang paling berat itu bukan mengajar, tapi membawa pulang cerita murid ke dalam pikiran kita," ungkapnya pelan. Ada murid yang berasal dari keluarga broken home, ada yang harus bekerja setelah pulang sekolah, ada pula yang dengan jujur mengatakan bahwa mereka lelah menjalani hidup.

"Mendengar itu, kami hanya senyum di kelas tapi saat pulang di rumah kami berpikir besok harus bicara apa, agar murid kami tetap semangat belajar," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia harus belajar menjaga jarak agar tidak tenggelam dalam kesedihan murid, namun tetap cukup dekat agar tidak membuat mereka merasa sendiri. Itu adalah latihan emosional yang berlangsung setiap hari.

Bagi Reski, Sekolah Rakyat adalah tempat di mana harapan tidak diperjualbelikan. Di sini, mimpi tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh keberanian untuk mencoba.

"Kami tidak mencetak ranking, kami mencetak anak-anak yang berani percaya bahwa masa depannya tidak ditentukan oleh keadaan lahirnya," tuturnya. Di Sekolah Rakyat, ia membuktikan bahwa tidak ada anak-anak yang terlambat untuk menggapai masa depan yang lebih baik.

"Selalu ada pintu selama ada guru yang mau jadi gagang pintunya," kata Reski. Harapannya sederhana: agar suatu hari nanti, anak-anak yang ia didik di Sekolah Rakyat tidak melupakan tempat mereka memulai. "Mereka harus menjadikan Sekolah Rakyat sebagai pintu menuju masa depan yang lebih baik," katanya.

Harapan dari Untia

Suasana belajar mengajar di SRMP 23 Makassar. Dok. Istimewa

Kini, Naila tidak lagi menatap masa depan dari rumah reyot yang nyaris roboh. Ia tinggal di lingkungan yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih dekat dengan akses pendidikan yang layak.

Perubahan itu mungkin tampak sederhana: sebuah rumah baru dan kesempatan bersekolah. Namun bagi keluarga seperti Naila, keduanya adalah pintu keluar dari lingkaran kemiskinan yang selama ini membatasi pilihan hidup mereka.

Kini, Naila menjadi sosok inspiratif bagi teman-temannya. Ia dikenal sebagai ikon SRMP 23 Makassar yang menunjukkan bahwa mimpi besar dapat diraih siapa saja, termasuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Kisah Naila juga menjadi potret kecil dari wajah besar Sekolah Rakyat: tempat di mana anak-anak dari keterbatasan ekonomi tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar percaya pada diri mereka sendiri.

Saat ini, SRMP 23 Makassar memiliki 130 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Mereka didampingi 10 guru mata pelajaran, 17 wali asuh, tujuh wali asrama, serta tenaga pendukung lainnya. Fasilitas yang tersedia pun cukup lengkap, mulai dari ruang kelas, asrama putra dan putri, masjid, ruang makan, lapangan basket, lapangan futsal, hingga lapangan sepak takraw.

Di kawasan Untia, Naila menata langkah menuju cita-citanya menjadi guru. Sementara bagi pemerintah, kisahnya menjadi bukti bahwa ketika pendidikan, hunian, dan pemberdayaan berjalan beriringan, masa depan wong cilik tidak lagi sekadar harapan, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan.

Sebab bagi anak-anak seperti Naila, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar. Ia adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.

Editorial Team

Related Article