Reski Amelia (24) guru Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) SRMP 23 Makassar. (Dok.IDN Times/Darsil Yahya)
Sementara itu, di ruang-ruang kelas Sekolah Rakyat, pendidikan tidak hanya berlangsung sebagai proses transfer ilmu. Ia tumbuh sebagai perjalanan emosional antara guru dan murid yang sama-sama sedang belajar tentang kehidupan. Hal itu diungkapkan Reski Amelia (24), guru Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) SRMP 23 Makassar.
Menurutnya, mengajar di Sekolah Rakyat bukan sekadar pilihan karier. Ini adalah keputusan yang lahir dari keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar yang layak, tanpa syarat apa pun.
"Semua siswa berhak dapat kesempatan belajar yang layak tanpa syarat. Saya memilih berada di tempat yang paling membutuhkan, bukan di zona nyaman," ujarnya kepada IDN Times. Namun, seiring waktu, alasan itu berubah bentuk. Bukan lagi sekadar tentang memberi, tetapi juga menerima. Di Sekolah Rakyat, ia justru belajar dari murid-muridnya tentang arti kesabaran, syukur, dan harapan yang tidak mudah padam meski hidup berjalan dalam keterbatasan.
"Sekarang saya merasa bukan hanya mengajar, tapi siswa di sini juga mengajari saya arti sabar dan syukur," katanya. Salah satu momen yang mengubah cara pandangnya terjadi di luar ruang kelas. Seorang siswa yang biasanya disiplin tiba-tiba enggan masuk kelas. Ia hanya duduk diam di bawah pohon. Ketika didekati, jawabannya sederhana: ayahnya sedang sakit.
Dari situ, Reski memahami bahwa kedisiplinan bukan sekadar soal tepat waktu atau aturan kelas. Ada beban-beban kehidupan yang tidak terlihat, yang ikut berjalan bersama langkah seorang anak menuju sekolah.
"Disiplin itu bukan hanya tentang tepat waktu, tapi tentang keberanian melawan beban yang kita hadapi," ujarnya. Pengalaman lain yang tak kalah membekas datang dari seorang siswa laki-laki berusia 15 tahun. Usia yang seharusnya masih duduk di bangku SMP, namun ia datang dengan cerita yang jauh lebih dewasa dari usianya. Sempat tidak sekolah selama dua tahun, ia bekerja membantu ekonomi keluarga mulai dari menjadi kuli bangunan hingga berjualan kue.
Namun yang paling mengesankan bukan hanya latar belakangnya, melainkan caranya tetap tersenyum.
"Dia ceria setiap hari, bahkan sangat ceria. Tapi di balik itu, ternyata dia memikul beban hidup yang sangat berat," ucap Reski sambil menahan tangis. Dari anak itu, ia belajar bahwa ketangguhan tidak selalu terlihat dalam kesedihan. Terkadang, ia hadir dalam bentuk senyum yang tetap dipertahankan meski hidup tidak mudah.
Namun di balik cerita-cerita inspiratif itu, ada pula sisi lain yang tidak terlihat oleh banyak orang. Bagi Reski, tantangan terbesar bukanlah menyusun rencana pembelajaran atau mengoreksi tugas. Melainkan membawa pulang cerita-cerita murid yang penuh beban kehidupan.
"Yang paling berat itu bukan mengajar, tapi membawa pulang cerita murid ke dalam pikiran kita," ungkapnya pelan. Ada murid yang berasal dari keluarga broken home, ada yang harus bekerja setelah pulang sekolah, ada pula yang dengan jujur mengatakan bahwa mereka lelah menjalani hidup.
"Mendengar itu, kami hanya senyum di kelas tapi saat pulang di rumah kami berpikir besok harus bicara apa, agar murid kami tetap semangat belajar," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia harus belajar menjaga jarak agar tidak tenggelam dalam kesedihan murid, namun tetap cukup dekat agar tidak membuat mereka merasa sendiri. Itu adalah latihan emosional yang berlangsung setiap hari.
Bagi Reski, Sekolah Rakyat adalah tempat di mana harapan tidak diperjualbelikan. Di sini, mimpi tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi, melainkan oleh keberanian untuk mencoba.
"Kami tidak mencetak ranking, kami mencetak anak-anak yang berani percaya bahwa masa depannya tidak ditentukan oleh keadaan lahirnya," tuturnya. Di Sekolah Rakyat, ia membuktikan bahwa tidak ada anak-anak yang terlambat untuk menggapai masa depan yang lebih baik.
"Selalu ada pintu selama ada guru yang mau jadi gagang pintunya," kata Reski. Harapannya sederhana: agar suatu hari nanti, anak-anak yang ia didik di Sekolah Rakyat tidak melupakan tempat mereka memulai. "Mereka harus menjadikan Sekolah Rakyat sebagai pintu menuju masa depan yang lebih baik," katanya.