Cuaca di Makassar Terasa Makin Panas, Ternyata Ini Penyebabnya!

- Makassar sedang memasuki masa transisi dari musim hujan ke kemarau, menyebabkan suhu udara meningkat dan terasa lebih panas dari biasanya.
- BMKG mencatat suhu di Makassar berkisar 30–34 derajat Celsius, masih tergolong normal meski terasa lebih terik akibat berkurangnya tutupan awan rendah.
- Fenomena panas saat ini belum dipengaruhi El Nino; BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sulawesi Selatan terjadi pada Agustus hingga awal September 2026.
Makassar, IDN Times - Suhu udara di Kota Makassar dalam beberapa waktu terakhir terasa semakin panas. Kondisi ini disebut berkaitan dengan masa peralihan musim hujan ke musim kemarau yang sedang berlangsung di wilayah Sulawesi Selatan.
Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Agus, menjelaskan saat ini Makassar berada dalam fase transisi menuju musim kemarau. Pada periode ini, kenaikan suhu udara menjadi hal yang umum terjadi.
"Kondisi cuaca yang saat ini cukup panas itu karena kita ketahui bahwa Makassar sendiri sudah mau memasuki musim kemarau," kata Agus saat wawancara dengan IDN Times, Jumat (7/4/2026).
Dia menyebutkan Sulawesi Selatan mulai memasuki musim kemarau secara bertahap sejak dasarian ketiga April. Sementara Kota Makassar diperkirakan mulai masuk musim kemarau pada Mei 2026.
1. Suhu panas masih dalam batas normal

Agus menjelaskan suhu udara yang terasa panas saat ini masih berada dalam kondisi normal. Berdasarkan pengamatan BMKG, suhu di Makassar berkisar antara 30 hingga 34 derajat Celsius.
"Saat ini, kan, masih masa transisi. Itu biasanya setelah satu tandanya itu adanya kenaikan suhu udara yang cukup signifikan. Namun saat ini kondisi sangat panas yang terjadi masih normal," katanya.
Menurutnya, lonjakan suhu ini merupakan karakteristik umum saat masa peralihan musim. Kondisi ini biasanya terjadi ketika intensitas hujan mulai menurun.
2. Tutupan awan berkurang

Selain itu, berkurangnya tutupan awan juga memengaruhi peningkatan suhu udara. Agus mengatakan saat ini awan rendah yang biasanya menghalangi sinar matahari mulai berkurang.
"Tutupan awan juga sudah mulai kurang. Jadi lebih banyak awan tinggi, menengah sehingga awan rendah kurang. Tutupan awan juga kurang sehingga suhu udara juga cukup tinggi," katanya.
Dominasi awan tinggi dan menengah membuat paparan sinar matahari lebih langsung ke permukaan. Kondisi ini membuat suhu terasa lebih panas dibanding sebelumnya.
3. Belum dipengaruhi El Nino

Agus menegaskan kondisi panas yang dirasakan saat ini belum dipengaruhi fenomena El Nino. Menurutnya, El Nino baru berpotensi muncul pada pertengahan tahun.
"Kalau kondisi itu belum. Karena kita kan belum puncaknya," katanya.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Sulawesi Selatan terjadi pada Agustus 2026. Kondisi ini diperkirakan berlanjut hingga awal September 2026.


















