Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Korban Banjir di Makassar Jalani Ramadan di Pengungsian
Pengungsi banjir di Perumnas Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/3/2026). IDN Times/Darsil Yahya
  • Banjir di Blok 10 Perumnas Antang, Makassar mulai surut setelah lima hari, namun puluhan warga masih bertahan di pengungsian Masjid Raya Jabal Nur karena rumah belum sepenuhnya kering.
  • Tim kesehatan Dinkes Makassar memeriksa kondisi para pengungsi, termasuk ibu hamil tua bernama Ayu yang disarankan untuk beristirahat dan tidak banyak bergerak selama masa pengungsian.
  • Kondisi ekonomi membuat sebagian warga seperti Milda tetap tinggal di wilayah rawan banjir setiap tahun, menjadikan masjid sebagai tempat perlindungan sekaligus simbol keteguhan mereka menghadapi musibah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Setelah lima hari, banjir di wilayah Blok 10 Perumnas Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, sudah mulai surut. Ruas Jalan Kecaping yang menjadi penghubung antara blok 8 dan 10 juga bisa dilalui, meskipun masih ada beberapa genangan air setinggi mata kaki.

Pantauan IDN Times di lokasi, Minggu (1/3/2026) pukul 14:26 Wita, warga sudah mulai beraktivitas kembali. Ada yang membeli sayur dari pedagang bersepeda motor, ada juga warga yang mulai membersihkan rumahnya dari sisa-sisa genangan air.

1. Perempuan hamil tua bertahan di pengungsian

Pengungsi banjir di Perumnas Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/3/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Meski air tak lagi setinggi badan orang dewasa, tiga belas pengungsi tampak masih bertahan di Masjid Raya Jabal Nur, di antaranya empat balita dan satu ibu hamil bernama Ayu. Masjid yang dominan berwarna hijau ini merupakan lokasi pengungsian utama warga yang terdampak banjir.

Karpet merah berbahan busa dijejer rapi di pelataran masjid. Ayu yang sedang hamil tua duduk bersandar di dinding masjid sambil memeluk bantal. Di sudut masjid, tas-tas plastik berisi pakaian menumpuk.

"Sejak rabu pagi saya di sini," ucap Ayu yang mengenakan daster cokelat motif bunga.

Wanita berusia 20 tahun ini mengaku, tiap tahun pasti mengungsi. Namun tahun ini terasa berat karena ia dalam kondisi hamil tua dan terpaksa tidur berdesak-desakan di pengungsian. Kondisi yang tentunya kurang baik bagi wanita hamil.

"Saya bawa kompor dan pakaian, tapi sudah banyakmi pakaianku yang dibawa pulang," tuturnya.

2. Tim kesehatan periksa kondisi pengungsi

Pengungsi banjir di Perumnas Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/3/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Sekitar pukul 15:03 Wita, empat orang dari tim kesehatan Dinkes Makassar datang untuk mengecek kondisi para pengungsi, termasuk Ayu.

"Sudah berapa bulan usia kandungnya?," tanya seorang anggota tim kesehatan yang memeriksa Ayu.

"Kata dokter, akhir Maret sudah melahirkan," jawab Ayu sambil bersila dengan alat tensi yang terpasang di lengan kirinya.

Tim kesehatan kemudian menanyakan lagi apa yang dikeluhan Ayu selama berada di lokasi pengungsian. "Lututku sering sakit," ujar Ayu sambil memegang lututnya.

Usai diperiksa, Ayu disarankan untuk tidak terlalu banyak bergerak apalagi membersihkan, mengingat kondisinya yang tengah hamil tua.

Bagi Ayu, Masjid Raya Jabal Nur menjadi saksi kelelahan, doa, dan harapan bersama warga yang terdampak banjir.

3. Tempat ibadah sekaligus lokasi pengungsian

Pengungsi banjir di Perumnas Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/3/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Di tempat yang sama, Hamsina (44) koordinator pengungsi duduk di samping Ayu. Dia dipercaya mencatat jumlah pengungsi di Masjid Raya Jabal Nur. Hamsina mengaku, makanan diberikan dua kali sehari mengingat tahun ini banjir datang bertepatan dengan bulan Ramadan.

"Kalau sahur dan buka puasa makanannya disediakan oleh dinas sosial," ungkapnya, sambil duduk dan bersandar di dinding masjid.

Ia mengatakan, saat malam suasana lebih ramai, karena masjid tetap digunakan untuk salat tarawih, sedangkan semua pengungsi berada di pelataran.

"Waktu air masih tinggi (banjir) ada juga (pengungsi) yang di tenda," jelasnya.

4. Masih ada 45 orang pengungai yang bertahan

Pengungsi banjir di Perumnas Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/3/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Namun, karena air sudah surut, banyak yang kembali ke rumahnya, tapi ada juga yang hanya membawa kembali pakaian dan barang-barangnya lalu kembali ke pengungsian.

"Biasanya rumahnya masih lembab jadi ada yang kembali di sini, nanti kalau sudah betul-betul kering baru kembali ke rumahnya," ucapnya.

Dari data yang dicatat Hamsina sejak hari pertama banjir dan Sabtu 28 Februari 2026 kemarin total ada 34 KK dan 103 jiwa yang mengungsi.

"Kalau sekarang kan sudah banyak pulang karena sudah surut, jadi sekarang yang masih bertahan ada 14 KK dan 45 jiwa," tuturnya.

Sedangkan data yang dilihat IDN TImes dari papan informasi, jumlah pengungsi di Masjid Raya Jabal Nur sebanyak 14 KK dengan 45 jiwa terdiri dari 30 orang dewasa, masing - masing 12 laki-laki dan 18 perempuan. Kemudian 7 anak-anak masing-masing 5 laki-laki dan 2 perempuan, 4 balita terdiri dari 1 laki-laki dan 3 perempuan, serta 1 lansia perempuan dan 1 ibu hamil.

5. Kondisi ekonomi membuat warga tetap tinggal di wilayah banjir

Pengungsi banjir di Perumnas Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/3/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Sementara itu, perempuan bernama Milda (26) mengaku sudah 16 tahun ia kerap mengungsi di Masjid Raya Jabal Nur, meski lelah dan capek, ia pasrah dengan kondisi tersebut karena jalanan lebih tinggi dari rumahnya sehingga rumah yang seharusnya ia tempati istirahat bersama suami dan kedua anaknya harus ia tinggalkan.

"Saya kadang pertama datang (mengungsi) dan terakhir pulang," katanya pasrah.

Kondisi ekonomi yang sulit, apalagi sang suami hanya bekerja sebagai sopir pete-pete (sebutan angkutan kota di Makassar) membuatnya tak bisa pindah rumah atau hanya sekadar mengontrak. Sehingga ia harus bertemu dengan banjir tiap tahunnya.

"Kalau dibilang setahun sekali tidak jadi masalah, pernah saya dapat 3 kali setahun bahkan saya tahun baru di sini, banjir paling parah itu tahun kemarin (2025) sisa sejengkal lagi air sudah dapat genteng rumahku," kenangnya.

Di sisi kanan dan kiri, beberapa pengungsi beserta anak balitanya tertidur lelap, melupakan senejak musibah yang mereka temui tahun. Seorang balita tampak lelap didekan ibunya, seakaan semua baik-baim saja jika masih ada ibu memeluknya hangat.

Kini Masjid Raya Jabal Nur menjadi saksi kelelahan, doa, dan harapan para penyintas. Di masjid sederhana itu, banjir memang merampas banyak hal. Namun tidak mampu menghanyutkan harapan mereka untuk bangkit kembali.

Editorial Team