Pengungsi banjir di Perumnas Antang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (1/3/2026). IDN Times/Darsil Yahya
Sementara itu, perempuan bernama Milda (26) mengaku sudah 16 tahun ia kerap mengungsi di Masjid Raya Jabal Nur, meski lelah dan capek, ia pasrah dengan kondisi tersebut karena jalanan lebih tinggi dari rumahnya sehingga rumah yang seharusnya ia tempati istirahat bersama suami dan kedua anaknya harus ia tinggalkan.
"Saya kadang pertama datang (mengungsi) dan terakhir pulang," katanya pasrah.
Kondisi ekonomi yang sulit, apalagi sang suami hanya bekerja sebagai sopir pete-pete (sebutan angkutan kota di Makassar) membuatnya tak bisa pindah rumah atau hanya sekadar mengontrak. Sehingga ia harus bertemu dengan banjir tiap tahunnya.
"Kalau dibilang setahun sekali tidak jadi masalah, pernah saya dapat 3 kali setahun bahkan saya tahun baru di sini, banjir paling parah itu tahun kemarin (2025) sisa sejengkal lagi air sudah dapat genteng rumahku," kenangnya.
Di sisi kanan dan kiri, beberapa pengungsi beserta anak balitanya tertidur lelap, melupakan senejak musibah yang mereka temui tahun. Seorang balita tampak lelap didekan ibunya, seakaan semua baik-baim saja jika masih ada ibu memeluknya hangat.
Kini Masjid Raya Jabal Nur menjadi saksi kelelahan, doa, dan harapan para penyintas. Di masjid sederhana itu, banjir memang merampas banyak hal. Namun tidak mampu menghanyutkan harapan mereka untuk bangkit kembali.