Capaian Imunisasi di Sulsel Masih Jauh dari Target, Ini Kendalanya

- Kendala dari vaksin kosong hingga kekhawatiran akibat hoaks
- Peran fasilitas, layanan kesehatan, dan nakes
- Imunisasi bermanfaat dengan membentuk kekebalan kelompok
Makassar, IDN Times - Capaian imunisasi di Sulawesi Selatan per 23 November 2025 masih berada di bawah target. Data Dinas Kesehatan Sulsel menunjukkan imunisasi dasar lengkap baru menyentuh 58,58 persen dari target 82,50 persen. Imunisasi PCV 2 berada di angka 46,13 persen, sementara ROTA 3 hanya 35,04 persen dari target 66,92 persen.
Untuk BADUTA lengkap, capaian tercatat 61,11 persen dengan target 73,33 persen. Imunisasi T2+ bagi ibu hamil berada di angka 43,38 persen. Imunisasi MR BIAS baru menyentuh 62,35 persen dari target 95 persen, sedangkan HPV BIAS berada di 68,26 persen dengan target 96 persen.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, menjelaskan kondisi ini masih memerlukan penguatan di berbagai lini. Hal ini disampaikannya dalam workshop penguatan program imunisasi melalui kampanye media dan penguatan liputan jurnalis di Hotel Golden Tulip, Makassar, Sabtu (29/11/2025).
"Jangan cuma dilihat dari angkanya ya. Sebenarnya banyak tantangannya mulai dari distribusi vaksin, pemahaman publik, sampai kesiapan fasilitas, semuanya berpengaruh," kata Yusri.
1. Kendala dari vaksin kosong hingga kekhawatiran akibat hoaks

Yusri menurutkan masih ada sejumlah hambatan dalam pelayanan imunisasi. Ketersediaan vaksin tidak selalu stabil, sehingga beberapa fasilitas sempat menunda jadwal. Penolakan imunisasi rutin dan ganda juga masih muncul di beberapa wilayah.
"Ketersediaan vaksin kadang mengalami kekosongan. Belum lagi penolakan imunisasi rutin dan atau imunisasi ganda," kata Yusri.
Keterbatasan anggaran distribusi membuat beberapa daerah terpencil tidak terjangkau secara merata. Perbedaan capaian antar kabupaten juga ikut menahan capaian provinsi secara keseluruhan.
"Kemudian, ketakutan orang tua yang sering muncul setelah mereka menerima informasi yang tidak benar, berita hoaks. Ditambah lagi, pemberitaan media tidak bisa diimbangi," kata Yusri.
2. Peran fasilitas, layanan kesehatan, dan nakes

Meski begitu, Yusri menyatakan pihaknya tetap berupaya mencapai target capaian imunisasi itu. Salah satu upayanya yakni dengan mendekatkan layanan imunasi kepada masyarakat.
Sistem imunisasi di Sulsel bertumpu pada tiga komponen utama yakni fasilitas kesehatan (faskes), pelayanan kesehatan (yankes), dan tenaga kesehatan (nakes) terlatih. Fasilitas seperti rumah sakit, puskesmas, posyandu, serta klinik menjadi titik layanan. Sementara tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, dan perawat bertugas memberikan vaksin.
Dinkes Sulsel menilai koordinasi antar lini masih perlu ditingkatkan, mulai dari keterhubungan fasilitas hingga kesiapan tenaga kesehatan di lapangan. Seluruh alur layanan dituntut berjalan mulus agar capaian imunisasi kembali bergerak naik.
"Ketiga komponen ini melakukan sebuah interaksi. Tetapi sebelum interaksi, diakumulasi menjadi sebuah integrasi. Jadi, ada komunikasi, hubungan dan kerja sama," kata Yusri.
3. Imunisasi bermanfaat dengan membentuk kekebalan kelompok

Yusri menjelaskan imunisasi sebagai salah satu intervensi kesehatan paling efektif dalam menekan angka kesakitan dan kematian pada anak. Setiap tahun, upaya ini menyelamatkan jutaan nyawa di berbagai negara melalui pencegahan penyakit yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
"Manfaat imunisasi yakni membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Apabila cakupan imunisasi tinggi dan merata dapat membentuk kekebalan kelompok dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan," kata Yusri.
Manfaat utama dari kekebalan kelompok adalah terciptanya perlindungan menyeluruh ketika cakupan imunisasi tinggi dan merata. Jika seluruh kelompok masyarakat sudah divaksin, maka sistem kekebalan populasi akan terbentuk dan saling melindungi satu sama lain. Sebaliknya, jika ada satu bagian kelompok yang tidak mau divaksin, maka di situlah penularan bisa terjadi.
"Satu kasus ini bisa memengaruhi banyak orang. Karena itu, pemerintah kadang menerapkan aturan lebih ketat untuk mencegah penyebaran yang lebih luas," katanya.



















