Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berkaca dari Kondisi 2023, Kekeringan di Makassar Berpotensi Meluas

Kota Makassar
Berkaca dari Kondisi 2023, Kekeringan di Makassar Berpotensi Meluas
Petugas menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di salah satu wilayah Kota Makassar, Sabtu (22/8/2026). (Dok. BPBD Makassar)
  • BPBD Makassar mewaspadai kekeringan meluas selama kemarau, berkaca pada 2023 saat wilayah terdampak bertambah dari delapan menjadi 11 kecamatan.
  • Kekeringan berkepanjangan berisiko memicu krisis air bersih, kebakaran, dan gangguan kesehatan; BPBD mendistribusikan air ke 20-30 titik per hari bersama sejumlah instansi.
  • BMKG menyatakan sebagian besar Sulawesi Selatan masih mengalami puncak kemarau yang diperkirakan lebih panjang akibat El Nino, sehingga peralihan musim hujan berpotensi mundur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Makassar, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mewaspadai potensi meluasnya dampak kekeringan ke sejumlah kecamatan lain. Kewaspadaan tersebut salah satunya berkaca dari kondisi kekeringan yang terjadi pada 2023.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengatakan kekeringan dapat meluas seiring berlangsungnya musim kemarau. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi sejak awal.

"Merujuk daripada untuk kekeringan ini, kita sudah pernah alami di tahun 2019, 2023. 2023 terakhir itu di 8 kecamatan, di tengah perjalanan naik jadi 11 kecamatan," kata Fadli, Sabtu (29/8/2026).

  1. 1. Kekeringan bisa merembet ke berbagai dampak

    Air bersih dalam jerigen yang dijual di kompleks Nusa Tamalanrea Indah, Makassar, Rabu (30/8/2023). IDN Times/Asrhawi Muin
    Ilustrasi kekeringan. IDN Times/Asrhawi Muin

    Pengalaman tersebut menjadi perhatian BPBD dalam menghadapi kekeringan yang terjadi pada 2026. Pemerintah tidak menutup kemungkinan jumlah wilayah terdampak dapat bertambah apabila kondisi kering berlangsung lebih lama.

    "Karena kita tahu kekeringan ini kan sebetulnya bukan cuma efeknya kekurangan air saja atau krisis air, tetapi akan merembet ke mana-mana," katanya.

    Menurut Fadli, kekeringan berkepanjangan tidak hanya menyebabkan masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut juga dapat memicu berbagai persoalan lain, mulai dari kebakaran hingga gangguan kesehatan.

    Cuaca yang panas dan kering membuat lingkungan lebih mudah terbakar. Sementara berkurangnya ketersediaan air juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan di masyarakat.

  2. 2. BPBD salurkan air ke wilayah terdampak

    IMG-20260822-WA0250.jpg
    Petugas menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di salah satu wilayah Kota Makassar, Sabtu (22/8/2026). (Dok. BPBD Makassar)

    Fadli mengatakan BPBD bersama Pemerintah Kota Makassar telah menyiapkan intervensi untuk menghadapi dampak kekeringan. Penanganan mencakup distribusi air bersih dalam jangka pendek serta penyediaan sumber air alternatif untuk jangka panjang.

    Saat ini, BPBD menyalurkan air bersih ke sekitar 20-30 titik setiap hari di wilayah yang mengalami kekurangan air. Penanganan tersebut melibatkan berbagai stakeholder, termasuk PDAM, Damkarmat, DLH, PMI, kecamatan, hingga TNI. 

    Sementara untuk jangka panjang, Pemkot Makassar menyiapkan pembangunan 18 titik sumur dalam melalui Dinas PU. Sumber air tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air secara lebih mandiri.

    "Bagaimana kita bisa lewati, kita bisa bertahan, kita bisa resilien. Bagaimana caranya? Ya mitigasi dan kesiapsiagaan itu sendiri," katanya.

  3. 3. BMKG sebut puncak kemarau masih berlangsung

    Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
    Ilustrasi kemarau (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)

    Sementara itu, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Agus, mengatakan sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan masih berada dalam periode puncak musim kemarau. Kondisi cuaca saat ini umumnya didominasi cerah hingga berawan dan belum menunjukkan tanda-tanda kuat memasuki masa peralihan musim.

    "Memang secara normalnya bulan Oktober itu transisi, tapi belum ada tanda-tandanya. Jadi sekarang memang masih puncak-puncaknya musim kemarau, di sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan," kata Agus, Senin. 

    Menurut Agus, kondisi kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Fenomena El Nino turut membuat kondisi menjadi lebih kering.

    "Karena kondisi suhu muka laut khususnya di sebelah timur Pasifik cukup tinggi dari normalnya, sehingga menyebabkan kemarau tahun ini lebih panjang," katanya. 

    BMKG juga menyebut waktu peralihan menuju musim hujan berpotensi mundur dari kondisi normal. Namun, kepastian mengenai awal musim hujan masih menunggu pembaruan informasi setelah proses koordinasi BMKG selesai.

    "Kalau melihat kondisi saat ini bisa mundur, mundur dari normalnya," kata Agus.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More