Cuaca Panas di Makassar Buka Peluang bagi Pedagang Minuman Dingin

- Pedagang minuman dingin Ifa di Makassar menjadikan es teh seharga Rp3.000 sebagai menu terlaris; saat ramai, penjualan dapat mencapai sekitar 150 cup per hari.
- Cuaca terik tidak selalu mendongkrak penjualan. Ifa menyebut omzet berfluktuasi dan mengurangi stok alpukat dari sekitar 20 kilogram menjadi 10 kilogram per minggu.
- Musim kemarau tetap membuka peluang pendapatan, dengan keuntungan harian pernah mencapai Rp800 ribu. Ifa juga menambah menu mangga setelah mendapat respons positif dari tetangga.
Makassar, IDN Times - Terik matahari yang belakangan menyelimuti Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tak hanya membuat warga mencari tempat teduh. Kondisi cuaca panas juga menjadi peluang bagi pedagang minuman dingin untuk meraup penghasilan dari kebutuhan warga melepas dahaga.
Salah satunya Ifa (40), penjual minuman dingin di Jalan Masjid Raya, Makassar. Saat ditemui IDN Times pada Kamis (27/8/2026), Ifa beberapa kali meladeni pembeli yang datang silih berganti ke lapaknya.
Beragam minuman dingin dijual Ifa mulai dari alpukat kocok, smoothies, hingga es kopi. Namun, es teh menjadi salah satu menu yang paling banyak diminati dengan harga Rp3.000 per cup.
"Kalau saya di sini es teh memang paling laris," kata Ifa.
Menurut Ifa, cuaca panas biasanya membuat penjualan minuman dingin lebih baik. Dia bahkan pernah menjual es teh dalam jumlah besar hingga membutuhkan sekitar 24 liter dalam satu periode produksi.
"Pokoknya kalau kemarau panas-panas begini, lumayan," katanya.
1. Es teh Rp3.000 jadi andalan

Kios penjual minuman dingin di Jalan Masjid Raya, Makassar, Kamis (27/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Ifa mengaku pada kondisi ramai, penjualan minuman dinginnya bisa mencapai sekitar 150 cup dalam sehari. Jumlah tersebut sangat bergantung pada kondisi pembeli dan cuaca.
"Sebenarnya kalau ramai, saya tidak tahu berapa. Mungkin ada sekitar150-an cup. Ramai sekali," tuturnya.
Untuk memenuhi permintaan, Ifa biasanya memasak es teh hingga dua kali. Dalam kondisi tertentu, produksi yang dibuat hampir seluruhnya habis terjual.
"Biasa dua kali masak. Tapi ya itu pun biasa masih ada sisanya toh. Itu pun jaranglah sisanya, tidak sempat tidak habis," katanya.
Selain es teh, minuman jeruk juga menjadi salah satu menu yang banyak dicari pelanggan. Kedua minuman tersebut menjadi pilihan utama pembeli karena dianggap lebih mudah dan cepat.
Ifa mengatakan pembeli biasanya ramai pada waktu tertentu. Setelah jam makan siang, aktivitas pembeli kembali meningkat pada sore hingga malam hari.
"Kalau pembeli tuh jam makan siang, terus sore. Pokoknya di atas jam 5 sore itu agak ramai. Terus pas Magrib agak sepi, lalu mungkin jam-jam 7 agak ramai lagi, sampai jam 9," katanya.
2. Cuaca terik tak selalu bikin penjualan melonjak

Kios penjual minuman dingin di Jalan Masjid Raya, Makassar, Kamis (27/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Meski cuaca panas memberikan peluang, Ifa menyebut penjualan tidak selalu meningkat drastis. Dalam beberapa waktu terakhir, penjualannya justru cenderung naik turun.
"Masalahnya toh, ini sekarang kan penjualannya tidak terlalu bagus begitu. Iya, biarpun lagi panas, tapi seperti sama," katanya.
Ifa mengatakan kondisi tersebut membuatnya tidak serta-merta menambah persediaan bahan baku. Bahkan, beberapa stok justru dikurangi karena menyesuaikan kondisi penjualan.
Salah satunya alpukat. Jika sebelumnya dia bisa menyediakan sekitar 20 kilogram per minggu, maka kini jumlahnya dikurangi menjadi sekitar 10 kilogram.
"Alpukat dikurangi karena kemarin lumayan sepi. Biasa 20 kilo, kemarin 15 kilo, sekarang sisa 10 kilo," katanya.
Sementara itu, stok jeruk yang disiapkan Ifa masih sekitar 15 kilogram. Persediaan tersebut disiapkan untuk kebutuhan penjualan selama sepekan.
3. Musim kemarau tetap jadi momentum

Kios penjual minuman dingin di Jalan Masjid Raya, Makassar, Kamis (27/8/2026). IDN Times/Asrhawi Muin Di tengah penjualan yang fluktuatif, musim kemarau yang panas tetap menjadi peluang bagi pedagang seperti Ifa. Pendapatan dapat meningkat ketika permintaan minuman dingin sedang tinggi.
Dia menyebut keuntungan tertinggi yang pernah diperoleh dalam sehari bisa mencapai sekitar Rp800 ribu. Namun, dalam kondisi penjualan belakangan ini, keuntungan lebih sering tqk menentu.
"Kalau saya paling banyak tuh Rp800 ribu lah sehari. Banyak sekali mi itu. Tapi kalau seperti sekarang, kadang-kadang dapat ji Rp250 sampai Rp300 ribu," katanya.
Bagi Ifa, minuman dingin menjadi usaha yang sangat bergantung pada kondisi pembeli. Saat panas dan permintaan meningkat, produksi bisa ditambah. Sebaliknya, ketika pembeli sepi, stok harus dikurangi agar bahan baku tidak terbuang.
Di sisi lain, Ifa juga mencoba menghadirkan variasi minuman untuk menarik pembeli. Salah satunya minuman berbahan mangga yang awalnya dibuat untuk menghabiskan stok buah agar tidak rusak.
Dia sempat membagikan minuman tersebut kepada tetangga untuk dicoba. Respons positif dari tetangganya kemudian membuat minuman itu dijadikan salah satu menu baru.
"Takutku hari ini manggaku mau rusak. Daripada rusak, tinggal dikit-dikit dibantu, coba-coba. Ternyata dia bilang enak, jadi itu langsung jadi menu baru," tuturnya.
Bagi pedagang minuman dingin, panas bukan sekadar persoalan cuaca. Ketika suhu meningkat dan warga lebih membutuhkan minuman penyegar, kondisi tersebut dapat menjadi peluang ekonomi, meski besarnya tetap bergantung pada keramaian pembeli dan daya beli masyarakat.


















