Berawal dari FOMO di CPI Makassar, Erpan Junaedi Tembus Berlin Marathon

- Erpan Junaedi mulai berlari karena FOMO di CPI Makassar pada Agustus 2023, dari jarak 2–5 kilometer hingga rutin mengikuti marathon dan merasa lebih bugar.
- Dalam tiga tahun, Erpan mengikuti berbagai ajang, mengoleksi sekitar 25 medali, serta mencetak personal best di Berlin Marathon 2025 meski kram pada kilometer 40.
- Sambil mengelola bisnis bersama tim, Erpan menyiapkan marathon internasional berbulan-bulan, termasuk urusan visa, latihan, istirahat, dan dukungan istri; ia mengingatkan pelari tidak memaksakan diri.
Makassar, IDN Times - Awalnya hanya ikut-ikutan melihat warga berlari di kawasan Center Point of Indonesia (CPI) Makassar. Namun, kebiasaan yang dimulai dari rasa FOMO (fear of missing out) itu justru membawa Erpan Junaedi menekuni olahraga lari hingga menembus ajang marathon internasional.
Pria berusia 47 tahun ini mulai aktif berlari sekitar Agustus 2023. Saat itu, ia hanya mencoba berlari sejauh 2 kilometer hingga 5 kilometer. Tiga tahun kemudian, Erpan telah menjajal berbagai event lari, termasuk Berlin Marathon 2025.
“Sebenarnya awalnya FOMO, ikut-ikutan. Setiap sore saya lihat banyak orang lari di CPI. Saya ikut-ikutan dari 2 kilometer, 5 kilometer. Alhamdulillah sekarang sudah pernah full marathon,” kata Erpan kepada IDN Times, pertengahan Agustus 2026 lalu.
1. Tubuh lebih sehat setelah rutin berlari
Erpan mengaku tidak menyangka kebiasaan yang awalnya hanya mengikuti tren tersebut berubah menjadi bagian dari gaya hidupnya. Ia merasakan tubuhnya jauh lebih bugar setelah rutin berlari.
Berat badannya juga lebih terkontrol meski Erpan mengakui masih memiliki hobi kuliner dengan pola makan yang tidak selalu teratur.
“Awalnya hanya ikut-ikutan, ternyata ada dampaknya. Saya merasa jauh lebih sehat, lebih bugar,” ujarnya.
Dalam tiga tahun terakhir, Erpan telah mengikuti sejumlah event lari, baik di dalam maupun luar negeri. Ia tercatat tiga kali mengikuti Makassar Half Marathon (MHM).
Ia juga pernah mengikuti Maybank Marathon di Bali pada 2024. Ajang tersebut menjadi full marathon pertamanya.
Pada 2025, Erpan mencoba tantangan yang lebih besar dengan mengikuti Berlin Marathon. Pengalaman tersebut menjadi salah satu yang paling berkesan baginya.
Namun, perjuangannya tidak berjalan mulus. Memasuki kilometer 40, Erpan mengalami kram untuk pertama kalinya setelah mengikuti tiga marathon sebelumnya tanpa kendala serupa.
Ia bahkan harus berjalan kaki sekitar satu kilometer terakhir sebelum akhirnya menyelesaikan marathon sepanjang 42,195 kilometer. Meski sempat mengalami kram, Erpan tetap mampu mencatat personal best (PB) di Berlin.
“Di kilometer 40 saya kram untuk pertama kalinya. Saya menyelesaikan sekitar 1 kilometer terakhir dengan jalan kaki. Tapi alhamdulillah masih bisa PB dan mendapat waktu lebih cepat dari sebelumnya,” tuturnya.
2. Koleksi 25 medali dari berbagai event lari

Erpan bersama medali yang dia kumpulkan melalui berbagai event lari di dalam dan luar negeri. (IDN Times/Darsil Yahya) Dari berbagai event yang diikutinya, Erpan kini telah mengoleksi sekitar 25 medali. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah medali dari Berlin Marathon.
Bagi Erpan, lari bukan sekadar mengejar medali atau catatan waktu. Marathon juga menjadi cara untuk menikmati perjalanan sekaligus mengambil waktu untuk dirinya sendiri.
“Maraton itu selain healing, liburan yang beda. Yang kedua proses me time. Saya banyak belajar merenungi hidup, flashback, berpikir. Itu biasanya saat maraton,” katanya.
Setelah mengikuti Maybank Marathon kategori half marathon 21 kilometer, Erpan juga berencana melanjutkan perjalanan marathon ke Sydney Marathon untuk kategori full marathon. Event tersebut menjadi marathon keduanya di luar negeri setelah Berlin Marathon 2025 dan masuk dalam program World Marathon Majors (WMM).
Menurut Erpan, mengikuti event marathon internasional membutuhkan persiapan panjang. Peserta idealnya sudah mempersiapkan diri minimal enam bulan sebelumnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi pelari adalah persoalan visa. Sebab, mendapatkan slot melalui sistem ballot tidak otomatis menjamin peserta bisa berangkat.
“Sudah dapat ballot, dapat slot, akomodasi dan transportasi siap, ternyata visa ditolak. Jadi visa juga salah satu kendala,” jelasnya.
3. Atur bisnis dan tetap bawa istri saat marathon

Ilustrai ajang lari. Makassar Half Marathon 2026. (ANTARA FOTO/Arnas Padda) Di balik hobinya mengikuti marathon ke berbagai daerah dan negara, Erpan tetap menjalankan bisnis retail handphone dan distributor AC. Ia mengaku terbantu dengan adanya tim dan karyawan yang membuat aktivitas bisnis lebih fleksibel.
Sebelum bepergian dalam waktu cukup lama, ia terlebih dahulu memberikan briefing dan membagi tugas kepada timnya. Biasanya, perjalanan ke luar negeri membutuhkan waktu setidaknya dua minggu karena sekaligus digabung dengan agenda liburan.
Meski berada di luar negeri, Erpan tetap memantau bisnisnya dari jarak jauh. Menurutnya, perkembangan teknologi dan internet membuat pekerjaan tetap bisa dikendalikan meski tidak berada di lokasi.
“Alhamdulillah kita wirausaha, ada tim dan karyawan yang mungkin lebih fleksibel. Sebelum pergi kita briefing, manajemennya diatur. Dari luar negeri tetap kita pantau karena sekarang internet sudah serba ada,” ungkapnya.
Urusan keluarga pun menjadi bagian dari persiapan. Erpan mengaku hampir selalu membawa istrinya saat bepergian ke luar negeri meski sang istri tidak ikut berlari.
Baginya, kehadiran pasangan justru membantu selama mengikuti marathon, terutama dalam mengatur makanan, waktu istirahat, dan kebutuhan lainnya.
“Saya tipe orang yang ke mana-mana suka bawa istri. Walaupun istri sebenarnya tidak ikut marathon. Kalau bawa pasangan, kita lebih terbantu, mereka bisa bantu mengatur,” katanya.
Erpan juga menilai pola istirahat tidak kalah penting dari latihan. Semakin dekat dengan race, latihan biasanya semakin intens sehingga harus diimbangi dengan istirahat yang cukup.
Ia berharap tren olahraga lari yang semakin berkembang di Indonesia terus menjadi gerakan positif. Namun, ia mengingatkan pelari agar tidak sekadar FOMO dan memaksakan diri mengikuti race tanpa persiapan.
“Pelari sekarang kadang FOMO, ikut saja belum sesuai standar kemampuan dan latihannya. Ketika terjadi heatstroke atau cedera, panitia harus lebih sigap,” ujarnya.
Menurutnya, bertambahnya usia justru menjadi alasan untuk terus menjaga kebugaran.
“Dengan umur yang semakin menua, sehat itu tujuan utama. Kalau body goals lebih baik itu bonus. Kalau semakin tua tapi performa semakin bagus, itu bonus plus kebanggaan,” ucapnya.


















