Produksi Beras Sulsel Naik 52.288 Ton meski Dihantam El Nino

- Produksi beras Sulsel Januari-September 2026 mencapai 2.627.505 ton, naik 52.288 ton dibanding periode sama 2025 meski menghadapi El Nino.
- Pemprov Sulsel menargetkan produksi 3.347.488 ton sepanjang 2026 dan optimistis tercapai lewat mitigasi El Nino, termasuk sumur bor, pompa, serta percepatan irigasi.
- Kekeringan berdampak pada sekitar 50 hektare lahan di Wajo dan Sidrap; pemerintah mengintervensi untuk mencegah puso dan menutup potensi penurunan lewat produksi daerah lain.
Makassar, IDN Times - Produksi beras di Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami peningkatan sepanjang Januari hingga September 2026. Kenaikan produksi terjadi di tengah kondisi El Nino yang berdampak terhadap ketersediaan air untuk pertanian.
Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Sulsel, Bustanul Arifin, mengatakan produksi beras Sulsel pada Januari-September 2026 mencapai 2.627.505 ton. Angka tersebut meningkat 52.288 ton dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 2.575.217 ton.
"Januari sampai September 2026 ini di posisi 2,6 juta ton beras. Dibandingkan dengan tahun lalu year on year itu di Januari-September 2025 itu sebesar 2,5 juta ton jadi ada kenaikan dari tahun ini sebesar 52.288 ton," kata Bustanul, Senin (7/9/2026).
1. Produksi beras ditarget 3,3 juta ton

Ilustrasi beras (Dok. Perum Bulog) Bustanul mengatakan capaian produksi hingga September tersebut menjadi modal untuk mengejar target produksi beras Sulsel sepanjang 2026. Pemprov Sulsel menargetkan produksi beras mencapai 3.347.488 ton pada tahun ini.
Dengan capaian 2,62 juta ton hingga September, Bustanul optimistis target tersebut dapat tercapai. Dia yakin produksi akan terus meningkat hingga akhir 2026.
"Kita optimistis target itu bisa tercapai sampai akhir tahun," katanya.
2. El Nino tak berdampak signifikan

Ilustrasi panen padi (Dok.IDN Times/Istimewa) Bustanul menyebut fenomena El Nino tidak memberikan dampak signifikan terhadap produksi beras Sulsel. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi setelah mendapatkan informasi terkait potensi El Nino sejak 2025.
Salah satu upaya yang ditempuh yakni menyediakan sumur bor dan pompa. Sarana tersebut untuk membantu petani mendapatkan sumber air saat terjadi kekeringan.
Selain itu, pemerintah mempercepat pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi pertanian yang bersifat multiyears. Pengaturan distribusi air di wilayah irigasi juga dilakukan agar kebutuhan tanaman tetap dapat terpenuhi.
"Begitu kita mendapatkan informasi dari BMKG terkait El Nino pada 2025, kita sudah melakukan mitigasi. Kita siapkan sumur bor, pompa, dan percepatan irigasi," jelasnya.
3. Wajo dan Sidrap terdampak kekeringan

Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha) Meski secara umum produksi masih meningkat, sejumlah lahan pertanian di Sulsel tetap terdampak kekeringan. Wilayah yang mengalami kondisi tersebut antara lain Kabupaten Wajo dan Sidrap.
Lahan pertanian yang terdampak kekeringan diperkirakan sekitar 50 hektare. Pemerintah terus memberikan intervensi untuk meminimalkan risiko gagal panen atau puso.
Bustanul mengatakan potensi penurunan produksi di wilayah terdampak akan diimbangi dengan peningkatan produksi dari daerah lain. Upaya tersebut didukung pemanfaatan teknologi dan sarana produksi.
"Kita bisa maksimalkan untuk intervensi, tapi kita berharap apa yang menjadi lahan-lahan yang puso ini, bisa diganti dengan produksi-produksi, pemanfaatan teknologi di tempat lain, sehingga produksinya bisa saling menutupi dengan yang puso tadi," katanya.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada September 2026. Pemerintah berharap curah hujan mulai meningkat pada Oktober hingga Desember sehingga mendukung musim tanam berikutnya.


















