5 Tips Mengajari Anak Self-Control, Bekal Skill di Masa Depan

Menjadi orang tua memang menjadi kebahagiaan tersendiri. Namun, ternyata tantangan-tantangan dalam mengasuh anak bisa jadi sangat overwhelmed. Salah satunya, ketika anak tiba-tiba tantrum di supermarket, berlarian di acara penting, hingga melakukan perilaku agresif jika keinginannya tidak dituruti. Masalah-masalah tersebut bisa membuat orang tua merasa pusing tujuh keliling dan juga malu saat yang sama.
Untuk meminimalisir contoh kasus yang sudah disebutkan, orang tua bisa mencoba untuk mengajari si kecil mengenai self-control atau kontrol diri. Dengan mengajari skill self-control, orang tua tidak hanya mempersiapkan kesuksesan si anak. Tetapi juga mengajari mereka untuk belajar membuat keputusan yang baik dan juga cara menghadapi situasi di luar rencana. Nah, kamu bisa melakukan beberapa tips berikut ini untuk mengajari si kecil self-control!
1. Buat aturan main dan terus ingatkan mereka

Anak kecil cenderung memiliki kontrol diri yang kurang, namun akan membaik seiring mereka bertumbuh. Tetapi, seberapa baik self-control akan tergantung bagaimana lingkungan membentuk mereka, termasuk keluarga dan orang tua.
Untuk mengajari anak mengenai self-control, kamu bisa menerapkan beberapa rules sederhana dan terus mengingatkan mereka. Contohnya, si kecil hanya boleh makan ice cream saat weekend, jika mereka berhasil menghabiskan semua sayuran mereka. Jika kamu sudah berkomitmen memberlakukan aturan seperti contoh, kamu harus terus mengingatkan si kecil agar mereka mengingat rules yang harus mereka patuhi jika ingin sesuatu.
Metode ini didasarkan pada research yang dilakukan oleh jurnal Psychological Science pada anak-anak kelompok usia 3 tahun. Di mana mereka diminta membuka box berisi hadiah jika instruksi khusus telah terpenuhi. Dalam hal ini penguji akan memperbolehkan si anak membuka hadiah jika lampu biru menyala, dan melarang mereka membuka hadiah jika lampu merah menyala. Hasilnya, pada anak yang diingatkan mengenai rules yang berlaku, mereka cenderung berhasil melewati challenge. Dengan menerapkan tips ini, anak akan belajar untuk memperhatikan dan mengontrol impuls mereka jadi lebih baik lagi.
2. Gunakan sistem reward dan selalu tepati

Jika kamu sudah bertekad untuk menetapkan aturan yang dapat digunakan dalam mengajari self-control, selalu beri mereka reward dan tepati. Mengapa hal ini penting?
Ketika kita menerapkan aturan yang disertai dengan imbalan jika berhasil, maka akan menjadi motivasi agar mereka tetap on-track berada dalam aturan. Kondisi ini terjadi karena mereka mengerti jika ingin sesuatu, tantrum ataupun berbuat onar tak akan membuat mereka memperoleh apa yang mereka inginkan. Alih-alih tantrum, mereka akan berpegang teguh pada aturan, yang mana secara tidak langsung akan melatih mekanisme self-control pada diri anak. Selain itu, kamu juga harus menepati reward yang telah kamu janjikan pada mereka agar misi mengajarkan self-control berhasil. Jika kamu tidak menepati, maka si anak akan menganggapmu pembohong dan mereka bebas untuk melakukan cara yang sama untuk mendapatkan hal yang mereka mau (Cognition, 2013).
3. Ajari anak untuk berpikir dengan mindset yang tepat

Jika anak diminta belajar, beberapa akan coba membuat alasan untuk tidak melakukannya ataupun melakukannya dengan banyak keluhan. Lain hal jika mereka diminta untuk melakukan hal yang mereka senangi, seperti main lego, makan ice cream, bermain di playground, dan sebagainya. Tanpa babibu pasti mereka langsung bersemangat dalam melakukannya. Nah, ini terjadi karena adanya perbedaan mindset.
Anak-anak berpikir jika belajar merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan dan harus dihindari, sedangkan bermain adalah sebaliknya. Menyiasati hal ini orang tua maupun pembimbing perlu untuk mencari ketertarikan anak dan mengubah kegiatan yang mereka benci menjadi sebuah game yang membuat mereka antusias (Trends in Cognitive Sciences, 2014). Memang melakukan trik ini cukup susah dilakukan dan butuh banyak percobaan, namun hasilnya akan sangat worth it! Dengan melakukan hal yang membuat mereka tertarik, anak akan memiliki motivasi dan pengendalian diri lebih baik daripada mereka menjalankan hal yang tidak mereka sukai.
4. Tanamkan pengetahuan planning yang baik

Jika ingin memperoleh hal yang kita mau, kita perlu membuat rencana dan strategi yang tepat untuk meraihnya. Ini menjadikan planning atau perencanaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari self-control. Dengan perencanaan yang baik, maka akan diketahui risiko yang akan terjadi, step yang bisa dilakukan, dan bagaimana harus bersikap dalam prosesnya (Psychological Science in the Public Interest, 2018).
Orang tua bisa mengajarkan tips ini dengan bermain permainan yang menggunakan strategi. Seperti catur, catan, fish stick, dan sejenisnya. Tak hanya mengajak mereka bermain saja, permainan yang menggunakan perencanaan dan strategi membawa manfaat lain. Seperti, problem solving, melatih fleksibilitas dalam berbagai situasi, mengajarkan mereka membuat keputusan yang menguntungkan, dan masih banyak lagi (Journal of experimental child psychology, 2010).
5. Analisa caramu menghadapi si kecil ketika mereka berada dalam fase "rebel"

Bagaimana kamu bersikap ketika anak melakukan suatu hal yang bertentangan dengan aturan akan mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengendalikan diri. Ketika orang tua terlalu permissive, anak akan menganggap peringatan dan kata-katamu sebagai angin lalu, serta tidak menutup kemungkinan mereka berbohong ataupun berperilaku agresif jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana (Aggressive Behavior, 2014). Sebaliknya, jika orang tua terlalu otoriter akan membuat trauma tersendiri untuk anak.
Perlu untuk menetapkan jenis “punishment” yang tepat tanpa harus membuat mereka menjadi mengabaikanmu ataupun trauma. Karena bagaimana kamu bisa mengajarkan mengontrol diri pada anak jika mereka tidak peduli pada perkataan ataupun takut padamu? Tentu saja, sulit bukan. Kamu bisa berdiskusi dengan psikolog anak beserta pasangan untuk menentukan punishment yang membangun karakter anak, alih-alih membuat mereka tidak terarah.
Self-control menjadi salah satu skill yang berguna dalam menunjang kesuksesan anak dimasa depan. Semakin baik self-control pada diri anak, semakin besar pula peluang mereka sukses. Untuk melatih skill ini memang susah-susah gampang. Tetapi, setiap usaha yang kamu lakukan akan berbuah manis untukmu dan juga si kecil. Dalam jangka pendek, mereka akan lebih mudah untuk berkomunikasi dan sangat jarang tantrum. Dan jangka panjangnya, mereka berhasil mendapatkan banyak skill penting yang akan sangat mereka butuhkan dalam menghadapi kerasnya dunia. So, tidak ada salahnya untuk kamu mulai mempraktikan tips yang sudah diberikan!


















