Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Karier Cristian Gonzales di PSM, Jadi Striker Karena Nekat
Legenda sepak bola Indonesia, Cristian Gonzales, saat menyaksikan Timnas bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Januari 2024. (Instagram.com/el_locogoliadorcg10_)
  • Cristian Gonzales awalnya berposisi sebagai bek kiri, namun nekat mencoba posisi striker saat seleksi di PSM Makassar tahun 2003 demi peluang bermain.
  • Keputusan berani itu sukses besar, Gonzales mencetak 32 gol dari 52 laga dan membawa PSM finis runner-up dua musim berturut-turut di Divisi Utama Ligina.
  • Pengalaman bersama PSM menjadi titik balik kariernya hingga akhirnya mewujudkan impian membela Timnas Indonesia pada periode 2010–2015.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Cristian Gonzales dulu datang ke Makassar tahun 2003. Dia tadinya main jadi bek kiri, tapi dia nekat mau jadi penyerang supaya bisa ikut main. Ternyata dia jago banget bikin gol dan bantu tim PSM jadi kuat. Setelah itu dia pindah klub lain dan akhirnya bisa main untuk Timnas Indonesia juga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Makassar, IDN Times - Siapa yang tidak mengenal Cristian "El Loco" Gonzales? Predator kotak penalti ini adalah momok menakutkan bagi lini pertahanan lawan di Liga Indonesia sepanjang dekade 2000-an. Tendangan keras yang dijamin tepat sasaran, begitu pula dengan sundulannya.

Namun, Gonzales ternyata menyimpan cerita unik di awal kariernya. Siapa sangka, pemain yang identik dengan nomor punggung 10 tersebut mengawali peruntungannya di tanah air bukan sebagai seorang penyerang. Lewat unggahan di akun Instagram pribadinya pada 3 April lalu, Gonzales mengenang kembali memori saat pertama kali menginjakkan kaki di Makassar pada tahun 2003 silam.

1. Meski berposisi sebagai bek kiri, Gonzales nekat jadi striker agar tetap ikut trial

Ilustrasi pertandingan sepak bola. (unsplash.com/Marcel Strauss)

Gonzales tiba di Indonesia jelang Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina) musim 2003 bersama dua pemain asal Uruguay lainnya. Sebelum merantau ke Makassar, ia tercatat sebagai penggawa tim kasta tertinggi Uruguay, Deportivo Maldonado. Menariknya, di klub asalnya tersebut, Gonzales sebenarnya bermain di posisi bek kiri.

Setibanya di Makassar, Gonzales mengikuti seleksi di bawah arahan pelatih legendaris Miroslav Janu. Tapi, ia mendapati kenyataan bahwa Juku Eja saat itu hanya mencari ujung tombak. Langkah nekat pun diambil, yakni mengubah posisi bermain demi karier

"Saat itu saya dan kedua teman saya akhirnya memberanikan diri untuk seleksi sebagai striker," tulis sosok yang kini berusia 49 tahun tersebut di akun media sosial Instagram @el_locogoliadorcg10.

2. Keputusan nekat berbuah manis, sebab karier Gonzales langsung melejit

Tips Gonzales ketika menjadi striker dadakan bahkan terdengar mudah. "Saat itu saya hanya memikirkan cara untuk mencetak gol dan mencari posisi yang benar," tulisnya.

Keputusan nekat tersebut berbuah manis. Selama dua musim berseragam PSM (2003–2004), Gonzales menjadi menjadi mesin gol yang nyaris sempurna. Ia tercatat mengoleksi 32 gol dari 52 pertandingan resmi bersama Pasukan Ramang.

Kehebatan El Loco kala itu tak lepas dari dukungan rekan senegaranya. Ia membentuk trisula maut beraroma Latin di PSM bersama Oscar Aravena (Chile) sebagai tandem lini depan dan pelayan setia di lini tengah yakni playmaker handal Ronald Fagundez (Uruguay). Kombinasi ini membawa PSM tampil dominan hingga sukses finis sebagai runner-up Divisi Utama Ligina dua musim berturut-turut pada 2003 dan 2004.

3. Pengalaman di Juku Eja awali motivasinya untuk tampil membela Timnas Indonesia

Legenda sepak bola Indonesia, Cristian Gonzales,. (Instagram.com/el_locogoliadorcg10_)

Ketajaman Gonzales juga membawanya cicipi kerasnya persaingan di level benua melalui ajang AFC Champions League musim 2004. Meskipun saat itu PSM harus puas finis sebagai juru kunci di fase grup, pengalaman tersebut jadi catatan penting dalam perjalanan karier internasionalnya di Asia.

Petualangannya bersama PSM berakhir jelang musim 2005, saat ia memutuskan menerima pinangan Persik Kediri. Tapi, memori di Makassar selama dua musim diakui menjadi awal dari mimpinya membela Timnas Indonesia.

"Semenjak itu saya menjadi striker dengan cita-cita ingin bermain untuk Indonesia," pungkas ayah dari empat anak tersebut. Gonzales sendiri akhirnya membela Merah Putih di tahun 2010 hingga 2015, catatkan 32 penampilan dan 15 gol.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team